Example 728x250
Daftar Penyakit

Ketahui Gejala Penyakit Usus Buntu Pada Lansia

78
×

Ketahui Gejala Penyakit Usus Buntu Pada Lansia

Sebarkan artikel ini
Gejala Penyakit Usus Buntu Pada Lansia
Gejala Penyakit Usus Buntu Pada Lansia


Golansia.com – Penyakit usus buntu (apendisitis) bisa menimpa siapa saja, mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga lansia. Gejala umum radang usus buntu antara lain nyeri di perut sebelah kanan, demam, mual, dan gangguan pencernaan.

Namun apakah gejala radang usus buntu pada lansia berbeda dengan gejala umum? Simak selengkapnya pada pembahasan di bawah ini!

Seperti Apa Gejala Usus Buntu pada Lansia?

Gejala khas radang usus buntu adalah nyeri pada perut. Namun perlu diketahui bahwa gejala penyakit usus buntu tidak sama dan tidak semua orang akan mengalami gejala yang parah dan meluas.

Berikut ini gejala usus buntu pada lansia:

  1. Sakit Perut Sebelah Kanan Bawah

Kondisi ini adalah salah satu gejala utama usus buntu pada kebanyakan orang. Rasa sakit yang dialami terjadi akibat adanya pembengkakan dan peradangan pada usus buntu. Namun, lokasi sakit perut yang dialami setiap orang bisa berbeda-beda, tergantung usia dan area usus buntu yang mengalami masalah.

Pada kebanyakan kasus, sakit perut dimulai pada perut tengah atas dekat pusar, kemudian berpindah ke perut bagian kanan bawah. Rasa nyeri tersebut semakin meningkat ketika melakukan gerakan, seperti mengejan, batuk atau bersin, dan menarik napas dalam-dalam

Namun, pada lansia, sakit perut sebagai gejala usus buntu yang dialami bisa jadi berbeda. Dikutip dari laman Medical News Today, gejala sakit perut pada lansia mungkin tidak terlalu parah dan kurang spesifik.

  1. Mual dan Muntah

Mual dan muntah merupakan gejala dari banyak gangguan pencernaan. Kondisi ini juga menjadi salah satu gejala usus buntu pada lansia. Munculnya rasa mual dan muntah kemungkinan besar disebabkan oleh peradangan pada saluran cerna dan sistem saraf.

  1. Demam

Gejala usus buntu pada lansia selanjutnya adalah demam, yang berkisar antara 37-38 derajat Celsius. Bila kondisi semakin parah atau tidak segera ditangani, demam juga bisa mencapai 38 derajat Celsius, disertai peningkatan denyut jantung.

Perlu diketahui bahwa demam merupakan reaksi alami dari sistem kekebalan tubuh, ketika melawan infeksi guna mengurangi jumlah bakteri jahat yang akan menyerang. Demam yang terjadi sebagai gejala usus buntu juga bisa menyebabkan tubuh banyak mengeluarkan keringat dan menggigil.

Itulah beberapa gejala usus buntu pada lansia yang perlu diwaspadai. Jika orangtua atau orang terdekat kamu mengalaminya, jangan tunggu parah.

Penyakit usus buntu bisa mengancam jiwa, sehingga membutuhkan perawatan medis segera. Semakin lama tidak ditangani, kondisi bisa memburuk. Mengobati penyakit usus buntu segera setelah gejala muncul akan mencegahnya memburuk dan menyebabkan komplikasi lebih lanjut.

Pengobatan untuk Gejala Usus Buntu

Pengobatan untuk penyakit usus buntu biasanya dimulai dengan pemberian antibiotik dan cairan infus. Beberapa kasus penyakit usus buntu ringan dapat diobati sepenuhnya dengan dua pengobatan tersebut.

Langkah selanjutnya yang paling umum diambil dokter adalah pembedahan, yang dikenal sebagai operasi pengangkatan usus buntu atau apendektomi. Ini adalah operasi yang dilakukan untuk mengobati peradangan pada usus buntu.

Adapun dua jenis operasi yang mungkin dilakukan, yaitu:

  • Operasi laparoskopi. Dilakukan dengan membuat beberapa sayatan kecil dan menggunakan alat khusus untuk mengangkat usus buntu melalui sayatan tersebut. Metode ini memiliki risiko komplikasi yang lebih rendah dan waktu pemulihan yang lebih singkat.
  • Operasi laparotomi. Dilakukan dengan mengangkat usus buntu melalui satu sayatan yang dibuat di bagian kanan bawah perut. Tindakan ini mungkin diperlukan untuk usus buntu yang sudah pecah, sehingga dokter dapat membersihkan bagian dalam perut untuk mencegah infeksi.

Dengan pengobatan yang tepat, penyakit usus buntu dapat diobati, dan pemulihan biasanya cepat dan tuntas. Tanpa operasi atau antibiotik, risiko infeksi dan komplikasi yang berujung pada hilangnya nyawa bisa saja terjadi.

Jika usus buntu pecah, risiko komplikasi serius dapat meningkat, seperti abses atau peritonitis. Pemulihan mungkin lama dalam kasus ini. Lansia juga membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih jika kondisi ini terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *