Example 728x250
BerandaDR. Abidin

RENUNGAN HARKITNAS 2024, Bangkit Untuk Indonesia Emas Bagaimana Kini Peran Dokter

42
×

RENUNGAN HARKITNAS 2024, Bangkit Untuk Indonesia Emas Bagaimana Kini Peran Dokter

Sebarkan artikel ini


Oleh : Dr.Abidin/Observer Kesehatan

Golansia.com — Hari ini tgl 20 mei, 2024, hari kebangkitan nasional, smg msh banyak yg ingat. 20 mei, 1908 hari berdirinya Budi Oetomo yg dibidani dua dokter Jawa: dr wahidin soedirohoesodo dan dr soetomo, dokter jawa lulusan Stovia, sekolah kedokteran yg didirikan pemerintah kolonial Belanda utk anak pribumi. di sini dan dari sini, bibit intelektual Indonesia bersemi. bangkit, berjuang utk kemerdekaan Ibu Pertiwi dengan otak, tidak lagi dengan senjata, memberontak.

Hari ini, 116 thn lalu, hari kesadaran intelektual dari anak2 bangsa terjajah.

Sejak dulu sejarah mencarat: dokter Indonesia adlh penghela perubahan negeri menuju yg lbh baik! (ph 20 mei, 24).

Foto kiriman Parni Hadi dengan text : Old medical doctor & old journalist, two social activists. JR & PH (Prof Dr Jose Roesma & Parni Hadi), work closely together to help the sicky poor.

 

Tulisan diatas adalah pesan WA yang saya terima pagi hari dari pak Parni Hadi. Beliau pernah menjadi orang yang saya layani sebagai Sekretaris Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) generasi pertama periode 2005-2008.

Pak Parni sebagai Wakil Ketua KKI Bersama Ketuanya Dr.Hardi Yusa,Sp.OG (Mantan Direktur Utama RS Persahabatan), didampingi Ketua Konsil Kedokteran Prof Dr.Farid Anfasa Moeloek,Sp.OG (Mantan Menteri Kesehatan) dan Drg.Emmyr Moeis,MARS (mantan Ketua Umum PB PDGI) bersama Konselor lainnya ber-16 membangun dan memperteguh peran Dokter dan Dokter Gigi Indonesia sebagai bahagian dari amanat Undang-Undang No.29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.

Parni Hadi adalah seorang wartawan senior yang memulai karier tahun 1973 di Kantor Berita Antara. Ia pernah mendirikan LKBN Antara untuk wilayah Eropah di Hamburg sekaligus sebagai Kepala Perwakilan (1980-1986), Pemimpin Umum Antara (1998-2000), Direktur Utama LPP RRI (2005-2010). Atas jasa-jasanya kepada Negara, Pemerintah Indonesia menganugrahkan Bintang Mahaputra Utama sebagai Tokoh Pers Nasional pada tahun 1999. Tidak itu saja, Parni Hadi juga pendiri Yayasan Dompet Dhuafa Republika ditahun 1993 yang dimaksudkan sebagai Upaya pengentasan kemiskinan. Untuk Pramuka, beliau selain pernah menjadi Wakil Ketua Kwarnas, juga menjadi Ketua Satgas Pramuka Peduli dan untuk komunitas lansia beliau juga menjadi Ketua Himpunan Pandu dan Pramuka Wreda/HIPPRADA). Beliau

 

perintis Information Safety Belt dengan mendirikan stasiun RRI disejumlah titik perbatasan Nusantara agar bisa pesan-pesan kebaikan terdengar oleh seluruh rakyat Indonesia.

Walau kini usia sudah 75 tahun masih aktif menulis dan merespons berbagai hal, selain budaya, juga dibidang Kesehatan/Kedokteran.

 

HARI KEBANGKITAN NASIONAL

Hari ini kita diingatkan kembali kepada suatu hari 116 tahun yang lalu yang diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Harkitnas mulai diperingati pada tahun 1959 melalui Keputusan Presiden No.316 Tahun 1959 tertanggal 16 Desember 1959.

Benar yang dikatakan pak Parni Hadi bahwa 20 Mei 1908 saat dilahirkannya Organisasi Boedi Oetomo menjadi tonggak sejarah tumbuhnya bibit cita-cita kemerdekaan Indonesia setelah tertindas dalam penjajahan Belanda, sejak masuknya 4 Kapal laut yang dipimpin Cornelis de Houtman melalui Pelabuhan Banten pada 22 Juni 1696. Awalnya dengan misi berdagang seperti bangsa-bangsa Eropah lainnya. Dalam catatan ahli Sejarah, Belanda baru dikategorikan menjajah Indonesia 142 tahun dari tahun 1800 hingga 1942. Bukan 350 tahun yang selalu disebut-sebut.

 

Saya setuju dengan poin WA Pak Parni Hadi di mana dokter pada era pra kemerdekaan ikut menentukan jalannya proses diplomasi dalam upaya perjuangan kemerdekaan.

Awalnya untuk mengisi kebutuhan Tenaga manusia terpelajar, Belanda mendirikan banyak sekolah termasuk Sekolah Dokter.

Sampai tahun 1940, lebih 2 juta dari sekitar 50 juta penduduk Indonesia mengikuti pendidikan (laman Bank Indonesia). Itu membuat tingkat melek huruf mencapai 6,3%.

Disisi lain ada hal mendesak dan darurat yaitu Wabah malaria membuat Dokter Belanda Willem Bosch mengusulkan untuk mendidik pemuda-pemuda Jawa menjadi tenaga kesehatan. Pada tahun 1849, dibangunlah sekolah kedokteran di Hindia Belanda dengan nama Sekolah Dokter Djawa.

Pendidikan dimulai pada tahun 1851 berlokasi di Weltevreden, sekarang Jalan Abdul Rachman Saleh dan Gedungnya masih abadi yang kemudian diberi nama Musium Kebangkitan Nasional. Sekolah tersebut secara resmi dibuka pada 1851. Pada 1902 Sekolah Dokter Djawa berkembang dan berganti nama menjadi

STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) atau Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputera.

 

Dari bangku Sekolah Kedokteran Jawa (STOVIA) diharapkan lahir Dokter-dokter yang dapat membantu mengatasi masalah-masalah kesehatan mendasar khususnya

penyakit menular seperti malaria yang mengenai bukan hanya masyarakat pribumi tapi juga masyarakat Belanda, tentara dan keluarga besar mereka di Indonesia.

Setelah para dokter menamatkan studinya mereka selain melakukan tugas-tugas medisnya diberbagai pelosok Nusantara, mereka dengan kasat mata melihat latar belakang penyakit dan penderitaan masyarakat pribumi.

Mereka melihat penindasan Belanda membuat masyarakat kekurangan pangan, air dan perumahan selain pendidikan. Itu menjadi akar penyebab utama berbagai masalah Kesehatan dan sosial. Muncullah sikap kritis dan perlawanan, pelan-pelan mereka membangun sebuah gerakan perlawanan dengan mendirikan perkumpulan Boedi Oetomo yang dimotori para Dokter lulusan STOVIA di Batavia/Jakarta maupun yang lulus dari Negeri Belanda.

Perkumpulan Boedi Oetomo didirikan pada 20 Mei 1908 oleh para siswa School Tot Opleiding Van Inlandche Artsen (STOVIA). tepatnya pada pukul 9 pagi, setelah pertemuan singkat sejumlah tokoh pelajar di ruang anatomi STOVIA

Ada 9 orang disebut sebagai pendiri antara lain Dr.R.Soetomo, Dr.Goenawan Mangoenkoesoemo, Dr.Soeradji Tirtonegoro, Dr.Mohammad Soelaiman, Dr.Mohammad Saleh, Dr.Gondo Soewarno, Dr.RM Goembrek, Dr.M.Soewarno dan Dr.Angka Prodjosoedirdjo (Kompas.com).

Menyusul kemudian Dr.Radjiman Wedyodiningrat, Dr.Tjipto Mangoenkoesoemo dan Dr.Wahidin Soedirohoesodo. Organisasi ini disebut sebagai organisasi pertama yang bersifat Nasional dan Modern.

Setelah Budi Utomo berdiri, sejumlah organisasi lain bermunculan, seperti Indische Partij (1912), Sarekat Islam (1912), Indische Sociaal Democratische Vereeniging

Tanggal berdirinya Boedi Oetomo 20 Mei oleh Pemerintah RI sesuai Keputusan Presiden No.316 Tahun 1959 tertanggal 16 Desember 1959 dinyatakan sebagai Hari Nasional yang tidak diliburkan, sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

 

PERJUANGAN PARA DOKTER

 Banyak Dokter ditangkap dan dipenjara bawah tanah. Sebahagian Kerajaan-kerajaan melindungi mereka para Dokter dengan memberi gelar anggota keluarga Kesultanan Jogyakarta seperti yang diberikan kepada Dokter Radjiman yaitu Kanjeng Raden Tumenggung (KRT). Gelar itu membuat Dokter Radjiman tidak tersentuh hukum Belanda dan bisa terus berjuang.

Dokter Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T.) Radjiman Wedyodiningrat (lahir 21 April 1879 (sama waktu lahirnya dengan R.Adjeng Kartini), wafat 20 September 1952)

Radjiman menyelesaikan Pendidikan Dokter tahun 1989. adalah seorang dokter yang juga merupakan salah satu tokoh pendiri Republik Indonesia.

Tahun 1945 ia terpilih untuk memimpin Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

 

Pada tanggal 9 Agustus 1945, sehari setelah bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Radjiman bersama Soekarno dan Muhammad Hatta berangkat ke Dalat Vietnam memenuhi undangan bertemu dengan Marsekal Hisaichi Terauchi, komandan Jepang dari Grup Angkatan Darat Ekspedisi Selatan. Setelah menginap di Singapura dan Saigon, tanggal 11 Agustus 1945 pertemuan dilakukan di markas militer Jepang di Dalat.

Kondisi Jepang yang kritis mendapat serangan Amerika Serikat dan Sekutu dari Selatan dan Uni Sovyet dari arah utara setelah menguasai Manchuria, membuat Jepang harus mundur dari daerah Hindia Belanda. Maka kemerdekaan Indonesia menjadi topik.

Semula Jepang memberi tanggal 24 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Indonesia.

Setibanya di Jakarta pada 14 Agustus, para pejuang Kemerdekaan sudah menanti. Semua mendesak untuk Merdeka disegerakan. Apalagi BPUPK yang dipimpin DR.Radjiman sudah menyelesaikan semua Dokumen ketatanegaraan seperti Pembukaan UUD 1945, Undang-Undang Dasar 1945, Dasar negara Pancasila.

Selanjutnya BPUPK yang sudah diganti menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) sudah mempersiapkan Kemerdekaan. PPKI yang dipimpin Bung Karno dan Bung Hatta bersama 27 anggota terdiri dari 18 orang Jawa, 2 orang Sulawesi, 1 orang Kalimantan, 3 orang Sumatra, 1 orang dari Nusa Tenggara, 1 orang dari Maluku, dan 1 orang golongan Tionghoa.

Dr.KRT Radjiman Wedyodiningrat saat memimpin Sidang BPUPK tanggal 29 Mei 1945 sudah berusia 65 tahun, paling sepuh dan arif diantara yang lain, dengan prestasi hebat mencetuskan perlunya dasar filosofis Negara Indonesia.

 

Presiden Soeharto terinspirasi dengan perjuangan Dr.Radjiman, menjadikan hari Sidang yang dipimpin sang Sepuh menjadi tanggal Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional yang kemudian diselenggarakan setiap tahun sejak 29 Mei 1996.

 

Dokter KRT Radjiman Rekso tahun 2013 dianugrahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.

 

APA KHABAR DOKTER INDONESIA KINI

 

Sepertinya tugas kodrati Dokter Indonesia belum bisa lepas dari suasana penindasan dizaman penjajahan Belanda dan Jepang.

Tugas kodrati itu melepaskan rakyat Indonesia untuk Merdeka dari sakit. Dimana akses rakyat terbuka, mudah, murah bahkan gratis terhadap pelayanan kesehatan. Jika ada sedikit kemerdekaan adalah dengan adanya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan Ketenagakerjaan.

BPJS-Kesehatan yang terus berinovasi dan memperluas pelayanan, semakin terasa manfaatnya bagi Masyarakat banyak. Akses pembiayaan dan pelayanan semakin dirasakan Masyarakat.

 

Pelayanan Kedokteran ternyata tidak semakin mudah. Selain faktor kekurangan Dokter yang semakin terasa. Perkembangan penyakit menunjukkan peningkatan prevalensi serta kecendrungan yang mengenai kelompok semakin muda usia.

Dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes telah terjadi sejak sepuluh tahun terakhir apa yang disebut Triple Burden Disease dan Double Burden Nutrition.

 

Triple Burden Disease, ada 3 beban besar dalam penyakit yaitu Penyakit infeksi/menular bangkit kembali (re-emerging), Penyakit Infeksi yang utamanya dari luar seperti HIV/Aids, SARS, Covid-19 masuk Indonesia (new-emerging) semakin meluas mematikan, dan Penyakit Tidak Menular (PTM) terus meningkat dan menjangkau usia muda.

Dalam dua dekade terakhir, PTM menjadi penyebab utama dari beban penyakit. Pembiayaan kesehatan sebanyak 23,9-25% untuk pengeluaran penyakit katastropik. Pengeluaran katastropik akan terus meningkat seiring meningkatnya angka PTM. Empat penyakit katastropik tertinggi yaitu : Jantung, Gagal Ginjal, Kanker dan Stroke (Publikasi Ditjen Kesmas, Maret 2022).

 

Berdasarkan hasil studi TNP2K dengan data dari BPJS, jumlah kasus dan pembiayaan penyakit katastropik dari tahun 2014 hingga tahun 2018 mengalami kenaikan. Tahun 2014 terdapat 6.116.535 kasus dengan total pembiayaan sebesar Rp 9.126.141.566.873 (9.1 Trilyun), Sedangkan pada tahun 2018, angka kasus menjadi

19.243.141 kasus dengan jumlah pembiayaan Rp 20.429.409.135.197 (20,4 Trilyun). Penyakit ini sudah mengenai usia 20-49 tahun, terbanyak pada usia di atas 50 tahun. Porsi pengeluaran kesehatan Indonesia masih berfokus pada upaya kuratif

 

Double Burden Nutrition adalah kondisi unik, lebih 100 juta penduduk Indonesia saat ini mengalami Kegemukan/Obesitas dan mendorong naiknya angka Diabetes, tetapi sebaliknya puluhan juta mengalami kekurangan gizi/Anemia berat hingga pada status Resiko Stunting.

 

Kondisi diatas menunjukkan masih lemahnya Surveilans atas determinan Kesehatan sehingga pendekatan lebih fokus Kuratif, sementara Fasilitas Kesehatan (baik Dasar

 

maupun Rujukan) semakin membludak sepanjang hari 6 hari dalam seminggu. Sejawat Dokter yang semula mendapat batas maksimal melayani 20 pasien/hari kini ada yang mencapai diatas 35 orang perhari. Penyakit Tidak Menular (PTM) sebenarnya penyakit yang dapat dicegah (preventable) dengan mengenal factor resiko dan merespons dengan merubah gaya hidup dan pola makan.

 

Solusi untuk memerdekakan rakyat dari kekurangan pelayanan kesehatan tentu diawali dengan Grand Design yaitu himpunan pola fikir yang terintegrasi melalui pendekatan kolaboratif, sistematis dan terbuka sehingga dapat disimulasi dan bisa diuji kebenarannya yang menjadi dasar penyusunan road-map pelayanan secara operasional.

 

Kedepan perhatian kepada pendekatan Promotif dan Preventif seharusnya menjadi Gerakan utama dari seluruh fasilitas Kesehatan. Tugas ini tidak harus dilakukan para Dokter, tetapi bisa dilakukan oleh semua Petugas Kesehatan dibawah komando dan pengawasan Dokter. Tenaga Kesehatan kita sesungguhnya surplus, Dokter juga lulusannya ribuan. Masalah pokok adalah mal-distribusi. Bukan kekurangan.

 

Hal lain tampaknya, Masyarakat harus didorong untuk memiliki semangat mendirikan Lembaga Pengawasan Kesehatan (Public Health Participation) yang bisa diharapkan sebagai Watch dog yang menjadi pengingat dini terhadap gangguan Kesehatan. Adanya model Watch dog membuat penyelenggara Kesehatan semakin professional dan berkinerja tinggi.

 

Itu yang menjadi latar belakang antara lain berdirinya perkumpulan Observasi Kesehatan Indonesia (OBKESINDO) atau Indonesia Health Observer (IHO) yang menempatkan diri sebagai Mitra Strategis Pemerintah dalam bidang Kesehatan.

Perkumpulan yang dideklarasikan pada 1 Agustus 2021 di Gedung STOVIA, menjemput semangat para Dokter pejuang kemerdekaan. Dalam perkumpulan ini berhimpun berbagai Profesi baik mantan Birokrat, TNI/Polri dan Intelektual Kampus, aneka suku dan agama namun non politisi. Alhamdulillah saat ini telah berkembang pada 15 Provinsi sebagai OBKESINDO Wilayah. Keberadaannya relevan dengan semakin kompleks nya masalah Kesehatan.

 

Saatnya Kesehatan Indonesia bangkit bersama dalam semangat Kebangkitan Nasional mewujudkan “Bangkit Untuk Indonesia Emas”.

 

Jakarta 20 Mei 2024

*)Dr.Abidinsyah Siregar,DHSM,MBA,MKes

Purnabakti Kemenkes/BKKBN, Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes (2017-2022)/Deputi BKKBN (2013- 2017)/ Komisioner KPHI (2013-2019)/ Direktur Kestradkom Kemenkes (2011-2013)/ Sekretaris Inspektorat Jenderal Depkes (2010-2011)/ Kepala Pusat Promkes Depkes (2008-2010)/ Sekretaris KKI (2005-2008)/Kadiskes Kab Simalungun dan Kadiskes Kab Lab.Batu di Prov.Sum.Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *