Example 728x250
Berita

PERJUANGAN PANTI LANSIA MELAWAN STIGMA, MEMBANGUN REALITA

160
×

PERJUANGAN PANTI LANSIA MELAWAN STIGMA, MEMBANGUN REALITA

Sebarkan artikel ini


39 Tahun Sasana Tresna Werdha, Ria Pembangunan, Cibubur.

Oleh: Dr.Abidinsyah Siregar
Kemajuan diberbagai bidang mendorong peningkatan kesejahteraan yang diikuti semakin panjangnya usia harapan hidup, sehingga proporsi lanjut usia mengalami peningkatan.

Saat ini jumlah penduduk Indonesia usia diatas 60 tahu lebih 31 juta (Supas BPS, 2016), melampaui 11%, yang bermakna bahwa Indonesia sudah memasuki status Aging Population Country atau Negara Usia Tua. Status yang sama disandang oleh Jepang, Jerman dan Rusia. Kondisi ini semakin cepat pertambahannya, sehingga dalam 3-4 dekade kedepan 1 dari 4 penduduk adalah usia lanjut.

Harapan untuk hidup tenang dan nyaman di hari tua adalah impian setiap orang. Mengisi hari tua dengan kegiatan bermanfaat dan berkumpul bersama teman sebaya adalah pilihan para lanjut usia. Tinggal bersama keluarga adalah keniscayaan, namun kadang kebutuhan “hidup sebagai lanjut usia“ terasa semakin sulit di dapatkan dirumah.

Kesehatan yang semakin menurun akibat proses menua dan semakin tingginya biaya hidup dimasa usia lanjut tidak hanya untuk kesehatan, tetapi juga untuk makanan, rekreasi, olahraga, komunikasi, elektrik dan lain-lain, mendorong lanjut usia untuk berusaha memelihara potensi dan kemampuan yang masih ada, termasuk daya ingat, agar tetap eling dan husnul khotimah pada akhir hayatnya.

Setiap orang dan keluarga harus memiliki konsep jelas menghadapi masa tuanya. Pertimbangan tempat hunian seperti Panti Jompo atau Panti/Sasana Werdha sudah waktunya. Walau peran keluarga tetap dipertahankan, dengan biaya yang relatif terjangkau, namun memenuhi kebutuhan azasi sang lanjut usia.

PANTI JOMPO ATAU PANTI WERDHA, MENGAPA DITAKUTI?

Panti Jompo atau Panti Werdha, menurut Kementerian Sosial RI, adalah tempat untuk menampung lansia dan jompo terlantar dengan memberikan pelayanan sehingga mereka merasa aman, tentram dengan tiada perasaan gelisah maupun khawatir dalam menghadapi usia tua.

Panti Jompo kini sudah menyasar kebutuhan pribadi, bukan karena alasan terlantar, tetapi justru memuliakan.

Jumlah panti Jompo tahun 2019 sebanyak 270 unit menyebar diseluruh Indonesia. Itu tidak sebanding dengan pertambahan populasi lanjut usia yang begitu besar.

Sudah hampir dapat dipastikan diatas 90% orang akan menggelengkan kepala ketika ditawarkan alternatif tempat tinggal Ayah/bunda atau Opa/Oma atau Kakek/Nenek atau seorang diantaranya yang berusia lanjut untuk tinggal di Panti Lansia atau Panti Jompo atau Panti Werdha. Yang di Luar Negeri disebut sebagai Recidential Aged Care.

Situasi akan menegang dan protes akan kencang untuk menolak penempatan Orang Tua/Lanjut Usia karena dianggap tega dan terlalu memperlakukan orang tua terpencil di Panti Jompo.

Ini adalah STIGMA. Banyak kisah dan motif penolakan. 

Seorang Ibu yang sudah ditinggal suami meninggal, hidup sendiri menggunakan kursi roda, semua anaknya sudah lelah mengurus, apalagi sang ibu suka berulah sehingga memicu pertengkaran dalam keluarga. Ketika sang anak-anak mufakat menempatkan ibunya di Panti, masyarakat sekitar menyayangkan sikap anak-anaknya, bahkan menuding mereka tega “membuang” orang tua sendiri.

Kisah yang lain, seorang ayah yang punya beberapa cucu, yang sering dititipi ketika anak-menantunya bekerja, merasa bagai sudah tak bisa melakukan kebiasaannya seperti membaca, menulis dan komunikasi.

Ketika sang ayah minta tinggal di Panti, serempak anak-menantu kaget, tidak setuju, mereka malu kalau nanti ayahnya di Panti.

Akibat stigma ini, kebutuhan manusiawi bagi kehidupan nyaman lanjut usia menjadi tidak diperhatikan dan bahkan diabaikan.

SASANA TRESNA WERDHA RIA PEMBANGUNAN

Beberapa waktu yang lalu, diperingati 39 tahun usia suatu Panti Jompo yang namanya Sasana Tresna Werdha dibawah asuhan Yayasan Ria Pembangunan disingkat STWRP, di Cibubur, Jakarta Selatan.

Syukuran dengan Diskusi santai bersama penghuni, keluarga dan pembina dengan Moderator Kak Ida Ismail.

Kegiatan ber-tema “Lansia Sastra dan Bahasa Penjaga Jati Diri Bangsa” dikordinir Kepala Sasana Bapak Ns.Ibnu Abas,M.Kep, Sp.Kep.Kom dan seluruh Staf.

Acara diawali sambutan via Zoom oleh Ketua Pembina Yayasan Bapak Prof.DR.Haryono Suyono (Mantan Menko Kesra dan Taskin), Sambutan Ketua Umum Yayasan ibu Dr.Sri Kusumo Amdani,Sp.A(K),MSc dan Pembacaan puisi oleh maestro Bapak H.Taufik Ismail.

Dua pembicara yakni Rahmawati, S.Ag,M.Si (Dosen Kesos FISIP UMJ) dengan pengalaman pernah menjadi Pekerja Sosial di Australia, menyampaikan paparan “Membangun Hubungan Sosial Harmonis di Rumah Lansia”.

Dr.Abidinsyah Siregar,DHSM,MBA,MKes yang mantan Deputi BKKBN menyampaikan paparan “Kehadiran Senior Living Untuk Warga Senior/Lansia, Antara Realita dan Stigma”.

Kebutuhan akan Panti atau Sasana atau Rumah Lansia sudah mendesak, apalagi 25% atau 7,7 juta orang mempunyai ketergantungan (Disabilitas).

Berbagai sumber mencatat dari 25% disabilitas dibagi atas 22% dalam ketergantungan ringan (masih bisa dilakukan sendiri dengan bantuan alat), 1,1% ketergantungan sedang, 1% ketergantungan berat dan 1,6% ketergantungan total (seperti pada kasus Stroke berat).

Contoh nyata REALITA adalah semua residen/penghuni yang tinggal di Sasana Tresna Werdha. Dan mencontohkan yang diluar sebahagian besar terpengaruh STIGMA.

Stigma adalah sebuah pikiran, pandangan, dan juga kepercayaan negatif yang didapatkan seseorang dari masyarakat ataupun juga lingkungannya. Sayangnya, sikap itu sering menjadi hal biasa.

Penyebab munculnya Stigma, sering karena pengetahuan yang kurang, dan persepsi tanpa bukti. Sebahagian masyarakat menganggap Tabu. Pandangan agama juga kadang kala mempengaruhi.

39 tahun STWRP Cibubur berjuang dalam diam dan mulia, memberi perhatian besar kepada lanjut usia. Walau penuh tantangan, tetapi semangatnya tetap yakin dan membara. Tampak jelas wajah dan aura bahagia Pengelola dan Penghuni.

 

SEJARAH DAN POTENSI STWRP CIBUBUR JAKARTA

STWRP didirikan sebagai proyek sosial milik Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan yang berlokasi di Cibubur Jakarta Timur atas prakarsa Ibu Hj.Siti Fatimah (Tien) Soeharto pada 14 Maret 1984 untuk memenuhi harapan masyarakat lanjut usia.

Berlokasi ditengah hijau pepohonan diatas tanah seluas 1,3 hektar dan jauh dari kebisingan Ibu Kota, namun mudah di akses dengan kendaraan.

Dengan VISI “Pengabdian pada sesama dengan memberikan pelayanan secara terpadu dan menyeluruh baik fisik, mental, sosial dan spiritual sebagai upaya mempertahankan kualitas hidup lanjut usia“ dan MISI membantu pemerintah dan masyarakat dalam upaya pelayanan kesejahteraan sosial pada lanjut usia di institusi panti dengan semangat gotong royong dan kebersamaan.

Kini STWRP dengan fasilitas yang terawat dan membangun Konsep Tetap Mesra Sampai Tua, memiliki 111 Kamar yang sesuai ukurannya, ada untuk 1 orang, berdua atau untuk 4 orang. Ada beberapa model wisma dengan standar selain tempat tidur satu ukuran besar untuk berdua, juga fasilitas dapur untuk memasak ”oma” bila ”opa” rindu masakan rumah.

Jumlah werdha per Februari 2023 adalah 52 orang werdha regular /mandiri terdiri dari laki–laki 20 orang dan wanita 32 orang. 30 orang Werdha tidak mampu dan 30 orang lainnya Werdha daycare dengan usia termuda 62 tahun dan terlanjut 92 tahun.

Saya jadi ingat senior saya Bang DR.Nazaruddin Nasution,SH,MA anak Medan mantan Diplomat yang sudah pernah bekerja memimpin misi diplomasi Indonesia diberbagai Ibukota Negara seperti Bangkok, New York, Ottawa, Washington DC dan sebagai Duta Besar di Pnom Phen, Laos. Bersama istri tercinta Kak Ir.Ida Ismail kelahiran Semarang, yang juga aktifis sejak belia. Mereka ini, Nazar dan Ida, Medan dan Semarang ketemunya di HMI, sama-sama kader tangguh.

Mereka ambil sikap berani, bergeser dari kenikmatan rutinitas menjadi kebahagiaan substansial. Berdua bersama di Panti. Keberanian ini mengundang perhatian Tim liputan CNN Indonesia. 

Mereka menempati salah satu kamar yang cukup leluasa memuat kebutuhan minimal esensial mereka berdua. Di kamar berukuran sekitar 4×4 meter dilengkapi dengan TV, meja makan, ruang tamu merangkap perpustakaan dengan sedikit buku pilihan termasuk karya sendiri, pantri kecil dan toilet yang dilengkapi sumber air panas sinar matahari.

Bang Nazar dan Kak Ida, tampak begitu bahagia dan nyaman, bisa menikmati makna hidup berdua seperti awal hidup kebersamaannya, sekalipun mereka sudah punya anak-menantu hebat dan belasan cucu menyenangkan.

Kebersamaan dengan Penghuni lainnya merupakan nilai lebih sasana ini. Hubungan sosial yang akrab difasilitasi dan didukung dengan program makan bersama, nonton bersama, rekreasi bersama, dan ibadah.

Pelayanan kesehatan 24 jam, terdiri dari rawat jalan (observasi kesehatan dan konsul dokter/perawat), ruang rawat dengan 24 tempat tidur, penanganan kedaruratan, farmasi, fisioterapi dan laboratorium sederhana serta kendaraan untuk rujukan ke RSUD Pasar Rebo, RS Melia, RSCM Jakarta dan Laboratorium Prodia.

Dilayani 2 orang Dokter, seorang Spesialis Kes.Jiwa, seorang Psikolog, 6 ahli gizi, 6 pramu lansia, selain tenaga tehnis lainnya.

Kegiatan terprogram sesuai karakteristik lanjut usia seperti senam : Gerak dan Latih otak, Senior fitness, Senam bugar lansia, Relaksasi otot dan Kesadaran indera,Tera dan jantung sehat. Melukis, bernyanyi, angklung, berkebun, menyulam dan merangkai bunga. Bahkan ada shopping dan darmawisata.

Seluruh penghuni sudah BEBAS STIGMA, karena proses masuk dan bisa diterima sebagai penghuni, benar-benar diperoleh atas kesepakatan dan keinginan sendiri dari Sang Penghuni berusia diatas 60 tahun dan Keluarganya.

Persetujuan Pengelola baru diperoleh setelah pihak Pengelola berkunjung kerumah keluarga Penghuni (home visit) dan setiap Penghuni melewati adaptasi selama 3 (tiga) bulan, agar benar-benar merasa nyaman.

Pesan tertulis didepan “Biarkanlah lanjut usia memilih, bagaimana mereka menjalani sisa usianya, dengan tenang, nyaman dan bermartabat. STW RIA PEMBANGUNAN SIAP BANTU LANSIA MEWUJUDKAN.

Penasaran? Silahkan kunjungi STWRP Jl. Karya Bhakti no.2 Rt. 08/07 Cibubur JakTim 13720. Dan info lebih tehnis kepada Bos nya yang ramah Bapak Ibnu Abbas no.kontak : 021-8730179 / 87753201-3.

Selamat Ulang STWRP ke-39. Terimakasih mewujudkan Realita, menghilangkan Stigma

Jakarta Sunter, 17 Maret 2023

Dr.Abidinsyah Siregar,DHSM,MBA,MKes :

Purna Bakti Kemenkes/BKKBN, Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes (2017-2022)/Deputi BKKBN (2013-2017)/ Komisioner KPHI (2013-2019)/Direktur Kestradkom Kemenkes (2011-2013)/ Sekretaris Inspektorat Jenderal Depkes (2010-2011)/ Kepala Pusat Promkes Depkes RI (2008-2010)/ Sekretaris KKI (2005-2008)/ Alumnus PH Management Disaster, WHO Searo, Thailand (2004).

Ketua Umum BPP OBKESINDO (IHO)/ Ketua MN Kahmi (2009-2012)/ Ketua PB IDI (2012-2015/ Ketua PP IPHI/ Ketua PP ICMI/ Ketua PP DMI/ Waketum DPP JBMI/ Ketua PP ASKLIN/ Penasehat BRINUS/ Penasehat Gowes KOSEINDO/ Ketua IKAL FKUSU/ Ketua PP KMA-PBS/ Wakorbid.PP IKAL-Lemhannas/ Pengasuh mediasosial GOLansia.com dan Kanal-kesehatan.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *