Golansia.com — Mendapat khabar Bang Dullah (demikian panggilan kkd DR.Abdullah Hehamahua, Ketum PB HMI 1978-1981 dan terakhir Penasehat KPK 2005-2013), berada di UGD suatu RS didaerah Cisalak, Jakarta Selatan, sudah diambil tindakan medis namun belum dapat kamar.
Alhamdulillah paginya terkhabar sudah dapat kamar perawatan yang baik.
Sore hari bezoek si Abang tapi urung menyentuhnya karena terdengar suara nafas yang menunjukkan sedang pulas tertidur, begitu juga kak Emma, di dipan sebelahnya.
Hampir sejam kemudian petugas datang dan memberitahu sudah bangun, “silahkan bezoek dokter” kata petugasnya yang ramah.
Bang Dullah sudah tampak segar walaupun masih berbaring setengah duduk karena telah diambil cairan dari dalam rongga paru, kata kak Emma 3,5 liter (satu angka yang tidak kecil, dan pasti sangat merepotkan dan butuh daya tahan tubuh yg fit).
Pembicaraan jadi makin asyik dengan kedatangan Kkd Mohammad Noer, Ph.D (Rekan bang Dullah, Waketum DPP DDII) yang ternyata orang Medan, seasal dengan saya.
Ada 3 hal penting yang saya catat yang menunjukkan kekuatan Bang Dullah :
1.Keras sikap dan semangatnya bisa saya tangkap saat bertemu dirumahnya, lupa dimana di Jakarta sekitar awal 80an, bersama senior saya Ir.Ludhy A Thayab (Ketua Umum HMI Cabang Medan 1979-1980), diterangi cahaya lilin, saya yang masih aktifis muda di Kedokteran sudah merasakan aura tegas dan beraninya.
Sejak itu bang Dullah menghilang, khabarnya di Malaysia.
Saat pelarian ke Malaysia, akibat era Malari 1978, bang Dullah yang berpendidikan Diploma Tehnologi Industri Univ.Hasanuddin Makassar, melanjutkan S1 dan S2 Tehnologi Enginering di Malaysia, lanjut S1 Hukum dan S2 Manajemen Hukum di UNKRIS Jakarta serta S3 di UNJ Jakarta..
2.Sekembalinya ke Indonesia paska Reformasi (2001), bang Dullah pelan-pelan muncul dalam dunia politik Indonesia sebagai aktifis Partai Masyumi sampai menjadi Ketua Dewan Syuro.
Bang Dullah memilih profesi pada bidang Pengawasan (PKPN), sampai akhirnya menjadi Penasehat KPK (2005-2013).
Saat saya Presidium MW Kahmi Sumut 1999-2004 (dengan Korpres Abgda H.Hasnil Basri Siregar,SH), kami mengundang bang Dullah ke Medan.
Turun dibandara Polonia (masih Bandara lama ditengah kota Medan) tidak mau dijemput, naik kendaraan umum. Tiba ditempat acara, Tiara Convention Center. Saat beliau sebagai pembicara, mengingatkan pentingnya Indonesia yang bersih, bersih dari Korupsi.
Bang Dullah mengulang lagi tegoran dahsyat diforum HMI/KAHMI bahwa 8 dari 10 Koruptor adalah Alumni HMI.
Ucapannya tegas sekaligus mencemaskan. Bagi saya itu pernyataan tepat. Tak perlu saya mengkonfimasi.
Tiba makan siang tak mau makan, langsung minta izin kembali ke bandara Polonia, cari kenderaan umum, kebetulan tak jauh dari tempat acara.
3.Saat bezoek, ada yang menarik pandangan mata saya, Bang Dullah, kata saya “betis abang besar berotot diusia 78 tahun, ini menunjukkan abang kuat dan sehat”.
Bang Dullah pun cerita, pengalaman kecilnya di Saparua, Maluku harus berjalan kaki 10 km dari rumah ke Sekolah, begitu juga pulangnya 10 km lagi.
Karena prestasi belajar, Abdullah kecil mendapat hadiah Sepeda dan jalan kaki berubah menjadi mengayuh sepeda 20 km. Sampai sekarang masih rajin jalan.
“Saya baru 2 kali masuk Rumah Sakit seperti ini. Yang pertama saat di Makassar, setelah dipenjara 3 tahunan oleh rezim, dan butuh perawatan”.
Kali ini didiagnosa Pneumonia dengan cairan di paru.
(Note : Indonesia kini menjadi negara kedua tertinggi kasus Paru, diantara India dan Cina yang berpenduduk miliyaran). Kenyataan ini menunjukkan Sanitasi udara, lingkungan dan air yang kualitasnya masih buruk disebahagian besar wilayah Republik ini.
Kak Emma, menimpali, mungkin karena si Abang beberapa bulan terakhir pergi memenuhi banyak undangan ke berbagai kota silih berganti, dengan kegiatan mulai Basic Training/LK 1, Senior Course. Baik yang diselenggarakan HMI, PII, KAMMI maupun DDII. Bang Dullah menimpali, mungkin saya dapat teguran Allah SWT karena saya sombong, sempat memuji diri atas kemampuan saya bisa kesana-sini. (saya membathin, HMI harus bangga punya manusia berenergi lebih dan berkomitmen sangat tinggi membina HMI seperti Bang Akbar Tandjung, Bang Dullah dan lainnya)
Bang Dullah yang kini berusia 78 tahun dan kak Emma punya 7 cucu dengan anak menantu semua lulusan universiti di Malaysia.
Salah satu putranya, DR.Ir.Muhammad Yusuf Abduh,MT kini Lektor Kepala pada Sekolah Enginering dan Education Tehnologi bidang Hayati ITB, Bandung.
Yang khabarnya sudah memenuhi syarat menjadi Guru Besar tapi masih terhalang syarat waktu minimal.
Saya tertarik pada penelitian beliau yang mendalami banyak penelitian Obat Bahan Alam.
Yang kebetulan dulu tanggungjawab saya saat dipercaya Menteri Kesehatan sebagai Direktur Kesehatan Tradisional Kemenkes pertama (2011-2013) dan kini dimasa pensiun dipercaya sejawat profesional sebagai Ketua Umum PP Perkumpulan Dokter Disiplin Herbal Medik Indonesia/ PDHMI).
Kak Emma yang dialegnya rada Melayu, memberi saya cenderamata karya Yusuf Abduh sebotol kecil berlabel “Heal and Shield”, cairan oles hangat dan wangi, berbahan minyak biji anggur, dan beberapa bahan alam lainnya dan propolis. Tertulis untuk meringankan batuk, pilek dan sinusitis.
Kok belum ada Izin Edar BPOM nya kak, kata saya. Kita punya Kepala Badan POM yang responsif Prof DR.Taruna Ikrar, kader muda, putra Sulawesi yang sangat peduli Kesehatan Tradisional dan Obat Bahan Alam berbasis kearifan lokal.
Karya-karya besar Yusuf Abduh menjawab kebutuhan Transformasi Kesehatan yang menyediakan Pelayanan Kesehatan yang terintergrasi dan Holistik.
Belum selesai tentunya bicara tentang Bang Dullah. Tentu dalam kiprah menjaga dan mengawal Keuangan Negara lewat Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara (PKPN sejak 2001-2004) dan sebagai Penasehat KPK (2005-2013). Hingga kini, sikap kritisnya kepada upaya cegah Korupsi tidak berubah dan lantang. Sikap itu juga khabarnya berlaku pada diri sendiri seperti tidak menggunakan fasilitas jabatannya untuk urusan pribadi, sekalipun urusan sosial.
Bang Dullah sungguh contoh Kader Teladan yang punya integritas dan kesalehan. Dirinya Adalah Himpunan Teladan.
Semoga Allah SWT memberi abangda dan keluarga Kesehatan dan terus berkarya melanjutkan pengabdian, membangun Karakter Bangsa yang berintegritas dan bertakwa.
MENUA BERMARTABAT.
Suara adzan maghrib mengakhiri Silaturrahmi 60 menit kami dan pamit dengan saling mendoakan.
Cisalak, 1 Nov 2025
Dr. Abidinsyah Siregar
Dewan Etik MN Kahmi
Ketua Umum HMI Cabang Medan 1981-1983.

















