Golansia.com — Di era serba cerdas saat ini, menggenggam smartphone seolah menjadi kebutuhan primer yang sulit dilepaskan. Mulai dari urusan pekerjaan, mencari hiburan, hingga menenangkan anak yang sedang rewel, perangkat mungil ini selalu jadi solusi serba bisa. Namun, di balik segala kemudahan yang ditawarkannya, ada bahaya nyata yang sedang menggerogoti kesehatan masyarakat secara perlahan.
Isu krusial inilah yang dikupas tuntas oleh Dr. Abidinsyah Siregar dalam program Sehat Selaras di kanal Radio Smart FM yang bertajuk “Virus Digital: Ancaman Kesehatan Serius”, pada (25/1/2025). Observer Kesehatan Indonesia ini membedah bagaimana ketergantungan layar telah berbalik menjadi musuh dalam selimut bagi keluarga.
Dari Alat Kerja Menjadi Perangkap Adiksi
Dalam paparannya, Dr. Abidinsyah Siregar menjelaskan bahwa fenomena “Virus Digital” bukanlah infeksi biologis, melainkan dampak destruktif akibat salah guna dan ketergantungan akut terhadap perangkat digital.
“Gawai yang semula diciptakan sebagai alat bantu kerja untuk meningkatkan produktivitas, kini telah bergeser fungsi menjadi alat hiburan tanpa batas, bahkan mainan yang mengontrol pikiran penggunanya,” tegas Dr. Abidin dalam siaran tersebut.
Pergeseran fungsi inilah yang memicu rangkaian gangguan kesehatan kompleks—baik secara kognitif, fisik, emosional, maupun sosial.
1. Tumbuh Kembang Anak dalam Pertaruhan
Anak-anak menjadi kelompok paling rentan yang menjadi “korban” utama virus digital. Dr. Abidin menyoroti beberapa dampak serius yang sering kali diabaikan oleh para orang tua:
Kegagalan Perkembangan Kognitif: Paparan konten digital yang serba instan mengunci pola pikir anak. Akibatnya, daya fokus dan konsentrasi belajar mereka merosot tajam saat berada di sekolah.
Ledakan Emosi (Tantrum Digital): Keterikatan adiktif pada layar membuat emosi anak menjadi tidak stabil. Mereka cenderung reaktif, gampang marah, hingga Meraung-raung ketika gawai diambil dari tangannya.
Depresiasi Fisik dan Motorik: Gaya hidup pasif (leseh-lesehan) akibat keasyikan menatap layar membuat anak malas bergerak, mengganggu selera makan, hingga memicu gangguan kesehatan organ seperti kerusakan mata dan fungsi pendengaran akibat pemakaian headset berlebih.
2. Orang Dewasa: Dari Gangguan Kesuburan hingga Krisis Finansial
Dampak virus digital tidak berhenti pada anak-anak. Orang dewasa yang tak bijak membatasi durasi layar (creen time) juga menanggung risiko kesehatan yang tidak kalah mengerikan:
Ancaman terhadap Kesuburan: Dr. Abidin mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa kebiasaan menatap layar hingga larut malam dapat mengganggu sistem hormonal dan produksi enzim. Hal ini berimbas pada penurunan kualitas sperma pada pria maupun sel telur pada wanita.
Insomnia dan Penurunan Efisiensi Kerja: Otak yang terus-menerus terstimulasi oleh aliran informasi digital kehilangan kemampuan untuk rileks, memicu insomnia kronis dan kelelahan mental yang menurunkan produktivitas.
Jeratan Bahaya Digital Lanjutan: Adiksi gawai pada orang dewasa tak jarang mengarahkan mereka pada perilaku destruktif lain, seperti judi online, yang berakhir pada kebangkrutan finansial dan depresi berat.
Strategi Menangkal Virus Digital di Rumah
Untuk membendung sebaran “virus” ini, Dr. Abidin Siregar menekankan pentingnya ketegasan dan peran aktif orang tua di rumah melalui beberapa langkah konkret:
1. Batasi Kepemilikan Gawai Berdasarkan Usia
Anak usia dini (TK hingga kelas awal SD) sangat tidak disarankan memiliki atau menggunakan smartphone pribadi, kecuali jika didampingi penuh untuk kebutuhan kurikulum pembelajaran.
2. Hidupkan Kembali Interaksi Dunia Nyata
Jangan biarkan anak terisolasi dalam dunia maya. Curi waktu berharga mereka dari layar dengan mengajak beraktivitas di luar ruangan—seperti berolahraga di taman, mengeksplorasi alam, atau sekadar berbincang hangat.
3. Bangun Tradisi “Bebas Gawai”
Terapkan aturan tegas di rumah. Jauhkan ponsel dari meja makan dan jadikan area tempat tidur sebagai zona bebas digital untuk menjaga kualitas komunikasi serta waktu istirahat keluarga.
Pesan Kunci Dr. Abidinsyah Siregar:
Kemajuan teknologi dan keberadaan kecerdasan buatan (AI) adalah hal yang inevitable (tidak bisa dihindari). Namun, prinsip utamanya tidak boleh terbalik: kitalah yang harus mendominasi dan mengendalikan teknologi, bukan gawai yang menyita waktu dan mendominasi hidup kita.
Nonton informasi lengkapnya di sini

















