Golansia.com — Satu jenis kanker saja sudah cukup mengubah hidup seseorang. Namun, bagi Lainie Jones, perempuan asal Amerika Serikat, ujian hidup datang bertubi-tubi dalam bentuk tujuh jenis kanker yang berbeda. Kondisi itu bukan disebabkan oleh penyebaran kanker (metastasis), melainkan oleh sindrom genetik langka yang membuat tubuhnya rentan terhadap berbagai jenis kanker.
Jones diketahui mengidap sindrom Li-Fraumeni, kelainan genetik yang meningkatkan risiko seseorang terkena beragam jenis kanker sepanjang hidupnya.
Kini, Jones tengah menjalani terapi untuk glioblastoma, jenis kanker ketujuh yang diidapnya. Glioblastoma adalah tumor otak agresif yang berpotensi mematikan.
Melansir Today, pada November 2023 lalu, Jones didiagnosis kanker paru stadium 1 dan glioblastoma sekaligus. Meski bagi kebanyakan orang, kabar seperti ini bisa menghancurkan harapan, Jones justru tetap memilih bersyukur.
“Saya merasa sangat beruntung karena selama perjalanan [melawan] kanker, saya menemukannya [deteksi kanker] sangat dini,” ujar Jones.
Diagnosis kanker pertama Jones muncul ketika usianya baru 18 tahun. Saat itu, ia mengidap karsinoma korteks adrenal, sejenis kanker agresif yang menyerang kelenjar adrenal.
Pada tahun 1985, pemeriksaan genetik belum digunakan secara luas. Karena itu, dokter saat itu belum mengetahui bahwa Jones memiliki kecenderungan genetik untuk mengidap kanker.
Selanjutnya, pada 2008, ia didiagnosis kanker payudara stadium 2 dan menjalani mastektomi ganda. Setelah itu, muncul tanda lain berupa tahi lalat mencurigakan di punggungnya, yang ternyata merupakan melanoma atau kanker kulit.
Pada tahun 2010, ia kembali didiagnosis kanker tiroid yang telah menyebar ke bagian dadanya. Temuan ini membuat dokter mulai curiga bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam pola penyakit Jones.
Barulah setelah itu, Jones didiagnosis mengidap sindrom Li-Fraumeni. Sejak saat itu, ia menjalani pemantauan intensif seperti MRI seluruh tubuh setahun sekali, pemeriksaan darah, serta berbagai tes untuk mendeteksi kanker lebih dini.
Alih-alih meratapi nasib, Jones justru menyebut sindrom langka itu sebagai penyelamat hidupnya.
“Pemeriksaan genetik menyelamatkan hidup saya karena benar-benar mengubah cara dokter memperlakukan saya. Saya merasa sangat beruntung,” ujarnya.
Perjalanan Jones tidak berhenti di sana. Pada 2012, kanker payudaranya kambuh, dan ia juga menerima diagnosis sarkoma, kanker paru-paru, serta glioblastoma—semuanya terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan.
Kini, Jones aktif menyuarakan pentingnya deteksi dini kanker, terutama bagi orang-orang yang memiliki riwayat keluarga atau kondisi genetik tertentu.
“Yang terpenting adalah deteksi dini. Meski kanker sudah hilang, Anda tetap penting melakukan pemeriksaan. Sekali pasien kanker, maka selamanya akan menjadi pasien kanker,” ujarnya tegas.
Melalui kisah hidupnya, Jones berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya pemeriksaan dini dan peran genetik dalam mencegah kanker berkembang diam-diam dalam tubuh.
Sumber: CNN Indonesia

















