Example 728x250
BerandaDemensiaKesehatan

Serupa Tapi Tak Sama: Memahami Beda Alzheimer dan Demensia Menurut Penjelasan Dokter

172
×

Serupa Tapi Tak Sama: Memahami Beda Alzheimer dan Demensia Menurut Penjelasan Dokter

Sebarkan artikel ini

Golansia.com — Lupa menaruh kacamata atau mendadak lupa nama kenalan sering kali memicu kekhawatiran akan penyakit pikun di usia lanjut. Dalam perbincangan sehari-hari, istilah Alzheimer dan demensia kerap dicampuradukkan seolah-olah merujuk pada satu kondisi yang identik. Padahal, secara medis, terdapat batasan dan perbedaan mendasar di antara keduanya.

“Banyak orang berpikir keduanya bisa saling menggantikan, tetapi ada perbedaan,” jelas National Executive Programs Lead of Brain Health di American Heart Association, Claire Sexton, D.Phil, mengutip Prevention, Senin (3/8/2026).

Demensia Adalah “Payung Besar”, Alzheimer Salah Satu Jenisnya

Untuk memahami perbedaannya, bayangkan demensia sebagai sebuah kategori umum, bukan nama satu penyakit yang spesifik. Demensia menggambarkan sekelompok gejala yang ditandai dengan penurunan fungsi kognitif otak hingga mengganggu kemampuan seseorang dalam menjalani aktivitas harian secara mandiri.

“Demensia adalah istilah payung untuk berbagai penyakit yang ditandai dengan penurunan kognitif, dan penyakit Alzheimer adalah jenis demensia yang paling umum di bawah payung tersebut,” ungkap direktur Cedars-Sinai Health System Memory and Aging Program, Zaldy S. Tan, M.D., M.P.H.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa mayoritas penderita demensia memang mengidap Alzheimer. Namun, demensia juga dapat dipicu oleh kondisi medis lain, seperti:

  • Demensia vaskular (akibat gangguan pembuluh darah otak/stroke)
  • Demensia frontotemporal
  • Demensia badan Lewy (Lewy body)
  • Penurunan kognitif akibat infeksi atau konsumsi alkohol berlebih

“Masing-masing memiliki ciri khasnya sendiri di otak, seperti tanda, perkembangan, dan gejalanya sendiri yang unik, tetapi terkadang bisa juga terjadi bersamaan sehingga ada patologi campuran,” papar Sexton.

Perbedaan Gejala Awal dan Pemicu di Otak

Kemunculan gejala pertama kali dapat menjadi petunjuk utama untuk membedakan jenis gangguan yang dialami pasien.

“Kehilangan memori episodik adalah gejala penyakit Alzheimer yang paling awal dan biasanya paling menonjol,” terang ahli saraf bersertifikat di Wellstar Health Systems, Archana Koganti, M.D.

Berbeda dengan Alzheimer yang diawali dengan gangguan memori jangka pendek, jenis demensia lainnya dapat menunjukkan tanda awal berupa penurunan responsifitas tubuh, perubahan perilaku dan kepribadian secara drastis, hingga kebingungan terhadap orientasi ruang.

Secara biologis, Alzheimer dipicu oleh penumpukan serpihan protein beta amiloid serta jalinan protein tau di dalam sel-sel saraf otak. Tumpukan protein beracun ini mengganggu jalur komunikasi antarsaraf, mematikan fungsi belajar dan ingatan terlebih dahulu, sebelum akhirnya merusak kemampuan berbahasa maupun bergerak.

Memahami ‘Penurunan Kognitif Ringan’ (*Mild Cognitive Impairment*)

Perlu diingat, tidak semua gejala pelupa langsung mengarah pada demensia berat. Terdapat fase transisi yang disebut penurunan kognitif ringan (Mild Cognitive Impairment/MCI).

Direktur medis Center for Cognitive and Memory Disorders di The Ohio State Wexner Medical Center, Douglas Scharre, M.D., memberikan perbedaan yang jelas:

Tahap Demensia: Pasien benar-benar membutuhkan bantuan orang lain untuk menyelesaikan tugas sederhana, seperti membayar tagihan atau menyalakan televisi.

Tahap Penurunan Kognitif Ringan: Pasien mungkin agak lambat dan butuh sedikit petunjuk lisan, tetapi masih mampu menyelesaikan tugasnya sendiri.

“Jadi kamu pelupa, kurang efisien, dan mungkin butuh petunjuk lisan, tetapi kamu masih bisa melakukan fungsi itu sendiri. Itulah penurunan kognitif ringan,” kata dr. Scharre.

Pentingnya Deteksi Dini dan Langkah Pencegahan

Jika Anda atau anggota keluarga mulai sering tersesat di rute yang biasa dilewati atau berulang kali melupakan janji penting, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dan melakukan pemeriksaan fungsi kognitif.

“Seperti halnya kondisi medis apa pun, biasanya semakin awal kamu mengidentifikasinya, semakin banyak pilihan perawatan yang kamu miliki dan biasanya semakin baik kondisi kamu,” kata dr. Scharre.

Beberapa penyebab demensia dapat diterapi hingga membaik. Sementara untuk Alzheimer, meski belum bisa disembuhkan secara total, intervensi medis sejak dini sangat menentukan efektivitas pengobatan.

“Pengobatan baru yang disetujui FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan di Amerika Serikat) untuk Alzheimer, misalnya, hanya bekerja pada tahap penurunan kognitif ringan. Di situlah titik optimalnya, dan jika kamu mulai mengalami sedikit lebih dari demensia ringan, obat itu tidak berguna,” ucap dr. Scharre.

Dalam proses diagnosis, dokter umumnya akan mengevaluasi riwayat kesehatan, memeriksa refleks saraf, melakukan MRI scan untuk mendeteksi peradangan atau tumor, serta melakukan tes darah guna memantau fungsi organ dan kadar vitamin B12.

Kabar baiknya, memiliki riwayat demensia dalam keluarga tidak berarti Anda pasti akan mengalaminya di masa depan. Faktor gaya hidup memegang peranan kunci dalam menjaga kesehatan otak.

“Kabar baiknya adalah ada hal-hal yang dapat kita lakukan dalam hidup kita untuk mengurangi risiko. Tetap aktif secara fisik, kognitif, dan sosial, serta kurangi faktor risiko kardiovaskular,” kata Sexton.

Menjaga tekanan darah tetap stabil, mengontrol berat badan, serta mengelola kadar gula darah adalah langkah nyata yang dapat dilakukan sejak dini untuk meminimalkan risiko penurunan fungsi otak di usia tua.

Sumber: Kompas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *