Example 728x250
BerandaKolom Kesehatan

Kurang Gerak, Kurang Bergerak, Kurang Digerakkan

335
×

Kurang Gerak, Kurang Bergerak, Kurang Digerakkan

Sebarkan artikel ini

Prevalensi Penyakit Tidak Menular TERUS Meningkat. Dari ASEAN CFD Menuju Gaya Hidup Sehat Kawasan

Oleh: Dr. Abidinsyah Siregar,DHSM,MBA,MKes *) Observer Kesehatan

Golansia.com — Senang rasanya melihat orang-orang semua usia terutama pemuda dan dewasa berolahraga (jalan kaki, berlari dan bersepeda) di area Car Free Day (CFD), disepanjang jalan MH.Thamrin dan jalan Jenderal Sudirman Jakarta berjarak 8 Km dari Patung Kuda Monas, melawati Patung Selamat Datang/Bundaran HI dan simpang susun Semanggi hingga Patung Pemuda Membangun Jl.Singamangaraja. Car Free Day atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di Indonesia dimulai dari gerakan global untuk mengurangi polusi udara dan kemacetan.

 

Tampak ramai, penuh semangat sejak pukul 06.00 hingga 09.00, dan jalan dibuka kembali untuk umum sejak pukul 10.00. Kegiatan serupa akan dilakukan minggu berikutnya, dan seterusnya seminggu sekali.

Tradisi CFD yang sudah dimulai tahun 2002 juga berlangsung dibanyak kota dikota-kota besar se Indonesia, tujuan utama meningkatkan kesadaran lingkungan dan mendorong gaya hidup sehat di masyarakat kota.

 

Minggu kemarin saya seperti biasa melakukan Japanese Walking. Japanese Walking adalah metode olahraga jalan kaki interval yang melibatkan bergantian berjalan cepat selama tiga menit, lalu berjalan lambat selama tiga menit, diulang selama total 30 menit. Metode ini dikembangkan di Jepang untuk meningkatkan kesehatan kardiovaskular dan metabolisme, serta memperkuat otot tanpa memerlukan alat tambahan dan dalam waktu singkat.

Saya lakukan 2 kali 30 menit supaya bisa memutar Simpang Susun Semanggi

dan kembali ke Bundaran HI sejauh 6,4 Kilometer selama 60 menit.

 

Saat berjalan dari Semanggi menuju Bundaran HI saya melihat ada kegiatan Pemeriksaan Kesehatan oleh Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran UI yang dipimpin Katingnya mba Lala, berupa cek Tekanan Darah, Ukur kadar Gula

 

Darah, Asam Urat dan Cholesterol. Sempat periksa dan diskusi ringan dengan para calon Dokter. Sekalian beri saran agar buka meja konsultasi paska pemeriksaan yang bisa dilengkapi dengan mahasiswa FKM.

 

Sesampai di Bundaran Hotel Indonesia, ternyata di area timur bundaran ada arena ASEAN Car Free Day yang dipimpin Menko PMK RI Pratikno dengan tema “Inclusive Moves, Sustainable Grooves” yang mendorong kehidupan yang aktif, berkelanjutan, seimbang dan selaras. Dalam publikasinya, Menko PMK mengingatkan bahwa masalah Kesehatan merupakan isu fundamental yang harus DIKERJAKAN bersama.

ASEAN CFD merupakan inisiatif Indonesia yang digawangi oleh Kementerian Kesehatan sebagai focal point Bidang Pembangunan Kesehatan (SOMHD).

Kegiatan yang dihadiri unsur utara Sekretariat ASEAN, para Duta Besar Negara ASEAN dan Mitra dialog, tidak hanya mempererat kebersamaan tetapi juga mendorong terwujudnya gaya hidup sehat di Kawasan

 

TANTANGAN INDONESIA

 

Berdasarkan survei Standard Insights, sekitar 36,3% orang Indonesia berolahraga setidaknya seminggu sekali, sedangkan 30% berolahraga sekitar sekali sebulan. Selain itu, 17% responden melakukan olahraga lebih dari sekali seminggu. Namun, ada juga sebagian kecil yang jarang berolahraga, yaitu sekitar 13,8%, dan 1% responden mengaku tidak pernah berolahraga.

 

Dalam survei lain, disebutkan bahwa sekitar 33,5% masyarakat Indonesia kurang beraktivitas fisik. Kondisi ini boleh disebut sebagai KURANG GERAK. Perbedaan aktivitas fisik juga terlihat berdasarkan jenis kelamin, usia, dan wilayah tempat tinggal. Penduduk pedesaan 1,3 kali lebih aktif daripada penduduk perkotaan.

 

Aktivitas berolahraga direkomendasikan 150 menit per minggu atau 30 menit

per hari, setidaknya 3-5 hari seminggu, untuk menjaga kesehatan.

 

Menurut Kemenpora, tingkat partisipasi olahraga pada tahun 2022 lebih

rendah atau menurun dibandingkan 2021, yaitu 30,93% atau 3 dari 10 orang

 

yang berolahraga. Ini bisa disebabkan belum adanya program yang memacu

pengembangan olahraga.

Data partisipasi olahraga ini menunjukkan betapa masih sangat banyaknnya orang dewasa Indonesia tidak berolahraga. Ini menunjukkan Masyarakat maupun Institusi KURANG BERGERAK.

 

Penelitian BALITBANGKES Kemenkes 2018 menunjukkan trend Prevalensi Penyakit Tidak Menular seperti Kegemukan, Gangguan Pembuluh Darah, Diabetes, Gangguan Jantung, Ginjal, Stroke hingga Kanker meningkat.

 

Tidak hanya jumlah tetapi USIA pun semakin muda, menjangkau kelompok

remaja usia 15 tahun.

 

Wapres Ma’ruf Amin pada 24 Maret 2021, saat memberikan pengarahan dalam Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) yang digelar secara virtual mengatakan Indonesia sedang menghadapi triple burden of disease alias beban tiga penyakit yang muncul secara bersamaan. Situasi ini, semakin menambah tantangan sekaligus ancaman nyata di sektor kesehatan.

Ketiga Beban Ganda tersebut adalah Penyakit Menular naik lagi kasusnya , Penyakit Lintas Negara (spt HIV/Aids) makin meluas dan PTM semakin meningkat dan menjangkau kaum muda.

 

Sementara itu, Menkes BGS memacu Pembangunan RS, Pengadaan Alat Medik

canggih dan Penambahan Dokter Spesialis dari Dalam Negeri dan Luar Negeri.

 

PENGUATAN PROMOSI KESEHATAN

 

Sebenarnya SOLUSI apa yang paling tepat menjadi prioritas mengatasi Masalah Kesehatan yang tidak membuat stagnan Index Pertumbuhan Manusia (IPM), tidak menggerus Anggaran Belanja Negara dan Hutang Negara, dan mendorong Masyarakat bertanggungjawab Bersama meningkatkan kualitas kesehatannya.

 

Ada hal menarik, kelompok Masyarakat dengan tingkat Sosial Ekonomi baik atau kaya ternyata 12 kali lebih mungkin memenuhi tingkat aktivitas fisiknya.

 

Itu bermakna sebaliknya, yaitu masyarakat kurang mampu, kurang berolahraga dan pada waktunya menjadi kelompok paling banyak mengalami PTM.

 

Ada adagium yang mengatakan “semakin miskin semakin sakit dan jika semakin sakit akan semakin miskin”. Hal ini menggambarkan sebuah lingkaran setan yang saling terkait, di mana kemiskinan membatasi akses terhadap kesehatan dan nutrisi yang cukup, sementara penyakit akan semakin menggerogoti sumber daya yang ada, mengurangi kemampuan untuk bekerja, dan memperburuk kondisi ekonomi.

Ini adalah fenomena umum yang dikenal sebagai kemiskinan Kesehatan atau Penyakit miskin yang seringkali dialami oleh masyarakat negara berkembang. Fenomena ini menciptakan siklus yang sulit diputus tanpa intervensi yang memadai dari pemerintah dan masyarakat.

 

Perlu penggerakan Program Kementerian/Lembaga terhadap kegiatan yang menggerakkan Olahraga.

Perlu standarisasi persetiap Kecamatan atau Kelurahan di Perkotaan yaitu jumlah Puskesmas, Arena Olahraga dengan fasilitas lapangan sepakbola, arena berlari, kolang renang, tennis, badminton hingga Sanggar seni dan tari.

 

Tentu semua dikelola Pemerintah/Pemerintah Daerah dengan tertib, bersih dan sehat dengan menempatkan Guru pelatih dan terprogram. Kondisi ini menghindari keadaan KURANG DIGERAKKAN.

 

Ketika Masyarakat KURANG GERAK, Institusi K/L dan Organisasi kurang perhatian pada kegiatan Olahraga sehingga Masyarakat KURANG BERGERAK. Apalagi juga Pemerintah tidak memfasilitasi ketersediaan Sarana/Prasarana olahraga maka sempurnalah Masyarakat KURANG DIGERAKKAN, yang semua bermuara pada Penurunan Kualitas Manusia, Penurunan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia dan disertai Pemborosan Anggaran yang sia-sia.

 

Promosi Kesehatan yang massif menghasilkan Orang cerdas dan menjadikan Kesehatan sebagai INVESTASI, yang baginya tidak ada istilah KURANG GERAK, KURANG BERGERAK dan KURANG DIGERAKKAN, ia selalu punya cara dan

 

kesempatan untuk terus berolahraga secara teratur dan juga memeriksanakan

kesehatannya secara mandiri atau di fasilitas Kesehatan.

 

Fungsi Promosi Kesehatan sudah waktunya menjadi bahagian dari tugas setiap Kementerian dan Lembaga serta semua Organisasi. Pilihan ini tidak saja meningkatkan Kualitas Manusia Indonesia, juga menekan Pengeluaran keluarga dan Belanja Negara yang tidak terduga, yang bisa membangkrutkan.

 

Jakarta, 16 September 2025.

*)    Purnabakti Kemenkes ASN, mantan Komisioner KPHI/ Ketua Umum BPP OBKESINDO (Observasi Kesehatan Indonesia), Ketua Umum PP, Wakorbid DPP IKAL-Lemhannas, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat IPHI, Penasehat PB IDI, Penasehat Komunitas Sehat Indonesia (KOSEINDO), Penasehat ICFAM, Penasehat JBMI, Penasehat IKAL FK USU, Pengasuh mediasosial GOLansia.com dan Kanal-kesehatan.com/

Host Radiotalks Sehatselaras SmartFM (tiap Jumat malam).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *