Golansia.com — Tidur seringkali dianggap sebagai aktivitas sekunder dalam keseharian, namun kenyataannya tidur memegang peran yang sangat krusial dalam menjaga kesehatan tubuh dan pikiran. Pakar kesehatan Dr. Abidinsyah Siregar, menekankan bahwa tidur bukan hanya soal rasa ngantuk semata, tetapi merupakan proses biologis penting yang mendukung pemulihan tubuh.
“Tidur itu adalah kesempatan tubuh kita untuk melakukan proses recovering, refreshing, restorasi,” tegasnya, dalam podcast Sehar Selaras Smart FM, Jumat (18/10/2024).
Jam Tidur yang Tepat Berdasarkan Usia
Seiring bertambahnya usia, kebutuhan tidur seseorang akan berubah. Bayi memerlukan tidur hingga 14 jam sehari, remaja sekitar 11-13 jam, sedangkan orang dewasa cukup dengan 7-9 jam. Uniknya, lanjut usia justru memiliki kebutuhan tidur yang lebih pendek, yakni 7-8 jam. Dr. Abidinsyah menyoroti bahwa bertambahnya usia mengurangi durasi tidur seseorang, tetapi ini harus tetap diimbangi dengan kualitas tidur yang baik.
“Kita perlu berhati-hati melihat kondisi ini,” ujarnya, mengingatkan bahwa tidur yang tidak cukup dapat memengaruhi daya ingat, konsentrasi, berat badan, bahkan meningkatkan risiko penyakit serius seperti stroke, diabetes, hingga kanker.
Pentingnya Kebersihan Tidur (Sleep Hygiene)
Dr. Abidinsyah menggarisbawahi pentingnya menerapkan kebiasaan tidur yang sehat atau dikenal dengan istilah sleep hygiene. Ini tidak hanya berkaitan dengan durasi tidur, tetapi juga mencakup aspek lingkungan tidur yang mendukung proses tidur berkualitas.
“Tidak boleh kita menggunakan tidur itu asal-asalan,” katanya. Faktor-faktor seperti pencahayaan, suara, hingga suhu ruangan perlu diatur dengan cermat untuk menciptakan suasana yang optimal. Tidur di sofa atau sambil membawa laptop ke atas tempat tidur, menurutnya, dapat merusak kualitas tidur.
“Bahkan, aktivitas kecil seperti membalas pesan WhatsApp sebelum tidur bisa mengganggu adiksi terhadap gadget, yang mengakibatkan kita tidak menyadari waktu telah berlalu,” tambahnya.
Dampak Negatif Kurang Tidur
Kurang tidur bukan hanya membuat seseorang merasa lelah keesokan harinya, tetapi juga bisa berakibat lebih serius. Kognitif seseorang menurun, produktivitas berkurang, dan secara tidak langsung menimbulkan stres. “Kalau tidur tidak cukup, racun dalam tubuh tidak tersaring dengan baik, sehingga tubuh terasa tidak segar keesokan harinya,” jelas Dr. Abidinsyah. Akibatnya, seseorang mungkin merasa lebih cepat lelah, sulit berkonsentrasi, dan daya pikir menurun.
Dalam konteks produktivitas, kurang tidur juga dapat menyebabkan performa kerja yang buruk. “Stres itu datang ketika kerja tidak selesai, tidak bisa konsentrasi, dan akhirnya kinerja menurun,” tambahnya. Hal ini bisa membuat individu merasa semakin tertekan, karena tanggung jawab yang tertunda akan berdampak pada kehidupan profesional mereka.
Mengatasi Kesulitan Tidur
Bagi mereka yang sering mengalami kesulitan tidur, Dr. Abidinsyah memberikan beberapa saran praktis. Pertama, hindari makan malam yang terlalu berat, serta jangan mengonsumsi kopi, alkohol, atau melakukan aktivitas fisik berat menjelang waktu tidur. Sebaliknya, dia menganjurkan untuk menciptakan suasana tenang di kamar, dengan pencahayaan redup dan suhu ruangan yang nyaman.
“Kita harus memastikan tidak ada benda yang bisa mengganggu tidur kita,” ujarnya. Cahaya yang terlalu terang dapat memberikan rangsangan pada otak, yang menghalangi tubuh untuk masuk ke mode istirahat. Selain itu, menghindari paparan gadget sebelum tidur juga penting, karena dapat membuat pikiran tetap aktif, meskipun tubuh sudah siap untuk istirahat.
Tidur adalah elemen penting yang sering diabaikan, padahal peranannya sangat vital dalam menjaga kesehatan tubuh dan pikiran. Dengan menerapkan kebiasaan tidur yang sehat, kita tidak hanya meningkatkan kualitas hidup, tetapi juga melindungi diri dari berbagai penyakit serius. Sebagaimana yang dikatakan Dr. Abidinsyah, “Tidur adalah momen penting dalam hidup kita yang tidak boleh kita abaikan.”
Simak pemaparan lengkap Dr. Abidinsyah Siregar dalam video berikut

















