Example 728x250
DiabetesKesehatan

Diabetes Tak Terkontrol Bisa Merusak 7 Organ Tubuh, dari Mata hingga Jantung

36
×

Diabetes Tak Terkontrol Bisa Merusak 7 Organ Tubuh, dari Mata hingga Jantung

Sebarkan artikel ini

Golansia.com — Kadar gula darah yang terus-menerus tinggi dapat merusak tubuh secara perlahan, bahkan sebelum penderitanya menyadari ada masalah. Dampaknya tidak hanya menyerang pankreas, tetapi juga pembuluh darah dan saraf yang menopang kerja berbagai organ. Mata, ginjal, jantung, otak, hingga kaki termasuk bagian tubuh yang berisiko mengalami komplikasi jika diabetes tidak dikelola dengan baik.

Diabetes melitus terjadi ketika pankreas tidak menghasilkan insulin dalam jumlah cukup atau tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif. Akibatnya, glukosa menumpuk di dalam darah. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat merusak pembuluh darah kecil maupun besar serta mengganggu fungsi saraf.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan diabetes dapat menyebabkan kebutaan, gagal ginjal, serangan jantung, stroke, hingga amputasi anggota gerak bawah. Karena kerusakannya berkembang secara bertahap, pemeriksaan kesehatan dan pengendalian gula darah menjadi penting untuk mencegah komplikasi.

 

Berikut tujuh bagian tubuh yang dapat terdampak diabetes.

1. Kaki: Luka Kecil Bisa Berujung Amputasi

Kaki termasuk bagian tubuh yang rentan mengalami komplikasi diabetes. Kadar gula darah tinggi dalam waktu lama dapat merusak saraf tepi atau menyebabkan neuropati perifer. Kondisi ini membuat penderita mengalami kesemutan, sensasi terbakar, nyeri seperti tertusuk, hingga kehilangan kemampuan merasakan sentuhan atau rasa sakit.

Ketika sensasi pada kaki berkurang, luka akibat lecet, sepatu yang terlalu sempit, atau benda tajam bisa tidak disadari. Masalah menjadi lebih serius apabila diabetes juga mengganggu aliran darah ke tungkai sehingga proses penyembuhan luka berlangsung lebih lambat.

Luka yang tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi infeksi dan ulkus diabetikum. Dalam kondisi berat, kerusakan jaringan yang luas bisa berujung pada amputasi.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebutkan sekitar separuh penderita diabetes mengalami suatu bentuk kerusakan saraf. CDC juga mengingatkan penderita untuk memeriksa kaki setiap hari, termasuk bagian telapak, tumit, dan sela-sela jari, meskipun tidak merasakan keluhan.

 

2. Mata: Penglihatan Bisa Menurun hingga Kebutaan

Diabetes dapat merusak pembuluh darah kecil di retina, yaitu jaringan peka cahaya yang berada di bagian belakang mata. Kerusakan ini dikenal sebagai retinopati diabetik.

Pada tahap awal, retinopati diabetik sering tidak menimbulkan gejala yang terasa. Namun, seiring perkembangan penyakit, pembuluh darah retina dapat bocor, tersumbat, atau memicu pertumbuhan pembuluh darah baru yang abnormal. Kondisi tersebut dapat menyebabkan penglihatan kabur, munculnya bintik-bintik gelap, hingga kehilangan penglihatan.

Selain retinopati, penderita diabetes juga berisiko mengalami katarak dan glaukoma. Keduanya dapat mengganggu penglihatan dan membutuhkan penanganan medis.

Karena kerusakan mata dapat berkembang tanpa keluhan pada tahap awal, pemeriksaan mata secara berkala tetap diperlukan. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) merekomendasikan pemeriksaan mata dengan pelebaran pupil setidaknya satu kali setahun bagi banyak penderita diabetes, sesuai anjuran dokter.

 

3. Ginjal: Kerusakan Bisa Terjadi Tanpa Gejala Awal

Ginjal menyaring limbah dan kelebihan cairan dari darah melalui jutaan struktur kecil yang disebut nefron. Setiap nefron memiliki jaringan pembuluh darah halus yang rentan mengalami kerusakan akibat kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang.

Salah satu tanda awal gangguan ginjal adalah ditemukannya albumin, yaitu protein dalam urine. Pada ginjal yang sehat, sebagian besar protein tetap berada di dalam darah dan tidak keluar bersama urine.

Ketika kerusakan berlanjut, kemampuan ginjal menyaring limbah dan cairan berlebih dapat menurun. Kondisi ini dikenal sebagai penyakit ginjal diabetik dan dapat berkembang menjadi penyakit ginjal kronis, bahkan gagal ginjal.

CDC memperkirakan sekitar satu dari tiga orang dewasa dengan diabetes mengalami penyakit ginjal kronis. Masalahnya, gangguan ginjal sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Karena itu, pemeriksaan urine untuk albumin dan tes darah untuk menilai fungsi ginjal penting dilakukan secara berkala.

 

4. Jantung: Risiko Serangan Jantung dan Gagal Jantung Meningkat

Diabetes dapat merusak lapisan pembuluh darah dan mempercepat penumpukan plak lemak di dinding arteri atau aterosklerosis. Akibatnya, pembuluh darah menyempit dan aliran darah menuju jantung dapat terganggu.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, serangan jantung, dan gagal jantung. Risiko menjadi lebih besar apabila diabetes disertai tekanan darah tinggi, kolesterol tidak terkontrol, obesitas, atau kebiasaan merokok.

CDC menyebutkan orang dengan diabetes memiliki risiko sekitar dua kali lebih besar mengalami penyakit jantung atau stroke dibandingkan orang tanpa diabetes.

Karena itu, pengelolaan diabetes tidak cukup hanya berfokus pada kadar gula darah. Tekanan darah, kadar kolesterol, berat badan, pola makan, dan aktivitas fisik juga perlu diperhatikan untuk menjaga kesehatan jantung.

 

5. Otak: Meningkatkan Risiko Stroke dan Gangguan Kognitif

Pembuluh darah di otak juga dapat mengalami kerusakan akibat diabetes. Kadar gula darah tinggi yang berlangsung lama dapat memperburuk kesehatan pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyumbatan maupun pecahnya pembuluh darah otak.

Dampaknya dapat berupa stroke, yang terjadi ketika aliran darah ke sebagian jaringan otak terhenti atau ketika pembuluh darah di otak pecah. Stroke dapat menyebabkan kelumpuhan, gangguan bicara, kesulitan menelan, hingga kecacatan permanen.

Selain stroke, diabetes juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penurunan fungsi kognitif dan demensia. Hubungan ini dipengaruhi berbagai faktor, termasuk gangguan pembuluh darah, peradangan, dan perubahan metabolisme yang dapat memengaruhi kesehatan otak.

American Heart Association menjelaskan bahwa pengendalian gula darah, tekanan darah, kolesterol, dan berat badan berperan penting dalam menekan risiko komplikasi kardiovaskular, termasuk stroke.

 

6. Lambung dan Saluran Pencernaan: Proses Mencerna Makanan Terganggu

Diabetes juga dapat merusak saraf otonom, yaitu saraf yang mengatur fungsi tubuh tanpa disadari, termasuk gerakan saluran pencernaan.

Jika saraf yang mengendalikan lambung mengalami kerusakan, proses pengosongan makanan dari lambung ke usus dapat melambat. Kondisi ini disebut gastroparesis.

Penderita dapat mengalami cepat kenyang, perut terasa penuh lebih lama, mual, muntah, kembung, dan nyeri perut. Pada sebagian orang, gangguan tersebut juga membuat pengaturan kadar gula darah semakin sulit karena penyerapan makanan menjadi tidak teratur.

NIDDK menjelaskan bahwa neuropati otonom akibat diabetes tidak hanya memengaruhi sistem pencernaan, tetapi juga dapat mengganggu fungsi kandung kemih, jantung, tekanan darah, dan organ lainnya.

 

7. Mulut dan Gusi: Lebih Rentan Infeksi

Kadar gula darah yang tinggi dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan mulut. Penderita diabetes lebih rentan mengalami penyakit gusi, infeksi, mulut kering, hingga gangguan penyembuhan jaringan.

Salah satu masalah yang perlu diwaspadai adalah periodontitis, yaitu infeksi dan peradangan pada jaringan penyangga gigi. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat merusak jaringan dan tulang yang menopang gigi sehingga gigi menjadi goyang atau tanggal.

NIDDK menjelaskan diabetes dapat meningkatkan risiko penyakit gusi dan masalah gigi lainnya. Hubungan keduanya juga dapat berlangsung dua arah: penyakit gusi yang berat dapat mempersulit pengendalian gula darah.

Menjaga kebersihan gigi dan mulut, menyikat gigi secara teratur, serta melakukan pemeriksaan ke dokter gigi merupakan bagian dari perawatan diabetes yang kerap terlupakan.

 

Pengendalian Gula Darah Penting untuk Mencegah Komplikasi

Kerusakan organ akibat diabetes tidak selalu muncul sekaligus. Risiko komplikasi dipengaruhi oleh lamanya seseorang mengalami diabetes, tingkat pengendalian gula darah, tekanan darah, kolesterol, kebiasaan merokok, serta kondisi kesehatan lainnya.

WHO menegaskan komplikasi diabetes dapat dicegah atau ditunda melalui pengobatan, pola makan sehat, aktivitas fisik, dan pemeriksaan rutin. Pengendalian penyakit juga perlu dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya dengan memantau angka gula darah.

Penderita diabetes sebaiknya mengikuti rencana pengobatan yang disusun bersama dokter, melakukan pemeriksaan fungsi ginjal dan mata secara berkala, memantau tekanan darah serta kolesterol, dan memeriksa kondisi kaki setiap hari.

Dengan deteksi dini dan pengelolaan yang konsisten, risiko kerusakan organ dapat ditekan. Diabetes memang merupakan penyakit kronis, tetapi komplikasinya tidak selalu harus terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *