Golansia.com – Kacang tanah selama ini dikenal sebagai sumber protein nabati, lemak sehat, serat, serta berbagai zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Namun, penelitian terbaru menemukan potensi manfaat lain dari konsumsi kacang tanah, yakni berkaitan dengan respons otak terhadap hormon insulin pada kelompok lanjut usia (lansia).
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Food & Function tersebut menemukan bahwa konsumsi kacang tanah secara teratur selama beberapa bulan berkaitan dengan peningkatan respons otak terhadap insulin pada sejumlah area yang berperan dalam fungsi kognitif dan memori.
Penelitian ini dilakukan oleh tim dari pusat medis Maastricht University, Belanda. Para peneliti ingin mengetahui apakah kebiasaan mengonsumsi kacang tanah dapat memengaruhi respons insulin di otak seiring bertambahnya usia.
Respons Insulin Meningkat pada Area Otak yang Berkaitan dengan Memori
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan respons otak terhadap insulin, terutama pada sejumlah wilayah di belahan otak kanan.
Area yang mengalami perubahan meliputi hippocampus, parahippocampal gyrus, lingual gyrus, dan posterior cingulate gyrus. Wilayah-wilayah tersebut memiliki keterkaitan dengan berbagai proses kognitif, termasuk pembentukan ingatan, pengolahan informasi, dan fungsi memori.
Insulin bukan hanya hormon yang berperan mengatur kadar gula darah. Hormon ini juga terlibat dalam sejumlah proses penting di otak, seperti pembelajaran, penyimpanan memori, serta komunikasi antarsel saraf.
Seiring bertambahnya usia, respons otak terhadap insulin dapat mengalami perubahan. Kondisi tersebut menjadi salah satu aspek yang terus diteliti karena berkaitan dengan proses penuaan otak dan kesehatan kognitif.
Bagaimana Penelitian Konsumsi Kacang Tanah Dilakukan?
Dalam penelitian tersebut, sebanyak 31 orang sehat berusia 60 hingga 75 tahun dilibatkan sebagai partisipan.
Selama periode 16 minggu, mereka diminta mengonsumsi 60 gram kacang tanah sangrai tanpa garam beserta kulitnya setiap hari. Para peneliti kemudian membandingkan hasil pengamatan selama periode konsumsi kacang tanah dengan periode ketika partisipan tidak mengonsumsinya.
Untuk menilai respons insulin di otak, peneliti memberikan insulin melalui hidung atau metode intranasal insulin. Selanjutnya, perubahan aktivitas dan aliran darah di sejumlah wilayah otak diamati menggunakan pemindaian magnetic resonance imaging (MRI) dengan teknik arterial spin labeling.
Melalui metode tersebut, peneliti dapat mengamati perubahan respons otak setelah pemberian insulin.
Temuan ini menunjukkan adanya perubahan pada respons insulin di sejumlah wilayah otak setelah intervensi konsumsi kacang tanah. Namun, hasil tersebut belum dapat diartikan sebagai bukti bahwa kemampuan mengingat seluruh partisipan meningkat atau risiko demensia mereka menurun.
Kandungan Gizi Kacang Tanah yang Menarik Perhatian Peneliti
Kacang tanah mengandung beragam zat gizi yang bermanfaat bagi tubuh. Di antaranya lemak tak jenuh, protein nabati, serat, vitamin, mineral, serta senyawa bioaktif dari tumbuhan.
Bahan pangan ini juga mengandung asam amino arginin yang digunakan tubuh untuk menghasilkan oksida nitrat atau nitric oxide.
Senyawa tersebut membantu mengatur fungsi pembuluh darah, termasuk proses pelebaran pembuluh darah yang berperan dalam menjaga sirkulasi. Aliran darah yang baik merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung fungsi otak.
Meski demikian, manfaat yang diamati dalam penelitian tidak dapat dikaitkan hanya dengan satu kandungan tertentu. Komposisi nutrisi kacang tanah secara keseluruhan diduga berkontribusi terhadap perubahan yang ditemukan.
Penelitian Sebelumnya Juga Menemukan Perubahan pada Aliran Darah Otak
Temuan terbaru ini berkaitan dengan penelitian sebelumnya dari tim yang sama. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Nutrition pada 2025 tersebut juga mengamati dampak konsumsi kacang tanah selama 16 minggu.
Dalam penelitian terdahulu, para peneliti melaporkan peningkatan total aliran darah ke otak sebesar 3,6 persen serta perbaikan skor memori verbal sebesar 5,8 persen setelah intervensi.
Hasil tersebut memberikan tambahan informasi mengenai kemungkinan hubungan antara konsumsi kacang tanah dan kesehatan otak pada kelompok usia lanjut.
Namun, temuan dari penelitian yang berbeda tetap perlu ditafsirkan sesuai metode, jumlah partisipan, dan indikator yang digunakan masing-masing studi.
Belum Terbukti Mencegah Alzheimer atau Demensia
Walaupun hasil penelitian menunjukkan perubahan positif pada respons insulin di beberapa area otak, para peneliti belum menyimpulkan bahwa konsumsi kacang tanah dapat mencegah Alzheimer atau menghentikan perkembangan demensia.
Jumlah partisipan yang hanya 31 orang juga menjadi salah satu keterbatasan penelitian. Selain itu, pengamatan terhadap respons otak dalam jangka waktu tertentu belum cukup untuk membuktikan adanya perlindungan jangka panjang terhadap penurunan fungsi kognitif.
Diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah peserta lebih besar, periode pengamatan lebih panjang, serta pengukuran kemampuan kognitif yang lebih menyeluruh.
Bolehkah Lansia Mengonsumsi Kacang Tanah Setiap Hari?
Kacang tanah dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang bagi lansia. Kandungan protein nabati, serat, dan lemak tak jenuhnya menjadikan bahan pangan ini salah satu pilihan camilan bergizi.
Namun, jumlah konsumsi tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan energi dan kondisi kesehatan masing-masing. Kacang tanah tanpa tambahan garam dan gula dapat menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan produk olahan dengan kandungan natrium atau gula tinggi.
Lansia yang memiliki alergi kacang tanah tentu harus menghindarinya. Mereka yang mengalami kesulitan mengunyah atau menelan juga perlu memilih bentuk penyajian yang aman.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan otak tidak bergantung pada satu jenis makanan. Pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik teratur, tidur cukup, interaksi sosial, dan pengendalian faktor risiko penyakit kronis tetap menjadi bagian penting dari upaya menjaga fungsi kognitif hingga usia lanjut.

















