Example 728x250
BerandaDR. Abidin

Bullying Ada di Mana-mana, di Pendidikan, Kantor, dalam Jabatan Juga Ada, Bagaimana Mengakhirinya?

1041
×

Bullying Ada di Mana-mana, di Pendidikan, Kantor, dalam Jabatan Juga Ada, Bagaimana Mengakhirinya?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr.Abidin/ Observer Kesehatan ( Purnabakti JFAU Kemenkes/BKKBN, Ketua Umum BPP OBKESINDO/IHO, Sekretaris KKI (2005-2008); Ketua PB IDI (2012-2015).

Golansia.com — Belakangan ini Perundungan atau Bullying sedang marak. Yang paling popular atau viral belakangan ini, berkenaan dengan kejadian perundungan dalam Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) wilayah stress tinggi dimana berlatih zero-error, yang sedang ditangani Menteri Kesehatan (dan mungkin juga bersama Menteri Pendidikan, yang ranahnya juga sebagai pengumpul data/informasi untuk nantinya diserahkan kepada pihak berkewenangan hukum).

Menurut Jubir Kemenkes Dr.M.Syahril, laporan perundungan selalu ada. Setahun terakhir dari Juli 2023 hingga Agustus 2024 dilaporkan 356 kasus perundungan, dominan di Rumah Sakit Vertikal, milik Pemerintah Pusat/Kemenkes. Walaupun belum ada Investigasi menyeluruh, 39 orang sudah dikenakan sanksi tegas. Tidak diperinci apakah pengenaan saksi ringan, sedang atau berat.

Penanganan pada level yang peka dan butuh kecermatan tinggi, apalagi jika ada yang dilaporkan bunuh diri, maka setidaknya ada 3 (tiga) persoalan pokok yang perlu dilihat secara jujur dan adil yaitu adanya dugaan pelanggaran Etik (ditangani Organisasi Profesi pelaku dan korban), pelanggaran Disiplin (jika profesi Dokter ditangani Kolegium dan Konsil Kedokteran Indonesia/KKI serta Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia/MKDKI) dan pelanggaran pidana oleh penyidik Kepolisian RI. Penanganan diluar system hukum nasional, tentu bisa bias dan tidak memperbaiki situasi.

Perundungan atau bullying ada dimana-mana. Bahkan di rumah juga ada. Kita coba melihat didunia kerja, perkantoran, tempat dimana proses manajemen ditatakelola oleh orang-orang yang katanya bekerjasama untuk mencapai tujuan organisasi yang merupakan tujuan bersama.

Bullying adalah perilaku (bisa agresif) berupa intimidasi oleh individu atau kelompoknya terhadap orang lain. Hal ini bisa meresahkan karena dampaknya besar pada mental dan kehidupan korban juga sang pelaku.

Menurut stopbullying.gov, melihat bullying sebagai perilaku intimidasi yang dapat dilakukan berulang baik emosional maupun fisik dan melibatkan ketidakseimbangan kekuatan di mana pelaku mendominasi dan korban menjadi pihak yang lemah. Perilaku ini dapat terjadi pada siapa saja dan kapan saja.

Unicef, mengidentifikasi bullying lewat tiga karakteristik yaitu disengaja (menyakiti), terjadi secara berulang dan ada perbedaan kekuasaan.

Bullying dalam pekerjaan di perkantoran, lebih bermotif relasi kekuasaan. Yang lebih kuasa memperlakukan bawahan atau junior nya sebagai “tenaga kerja, bukan sebagai mitra kerja”.

Kita kutip beberapa pakar bullying, antara lain Dan Olweus (Psikolog Swedia,1997) mendifinisikan lebih kepada relasi kekuasaan, beliau berpendapat bahwa bullying adalah perilaku negatif yang mengakibatkan seseorang dalam keadaan tidak nyaman/terluka dan biasanya terjadi berulang-ulang yang ditandai dengan adanya ketidakseimbangan kekuasaan antara pelaku dan korban/bawahan.

Barbara Coloroso (2007) dari Nigeria berpendapat bahwa bullying selalu melibatkan adanya ketidakseimbangan kekuatan, niat untuk mencederai, ancaman agresi lebih lanjut, dan terror.

Siswati dan Widayanti (Psikolog UNDIP, 2009) berpendapat bahwa Bullying bisa semakin berat sehingga berperilaku agresi. Seperti ejekan, hinaan, dan ancaman seringkali dapat mengarah ke agresi.

Awalnya persaingan yang bisa bermotif subjektif (iri, cemburu) maupun objektif (lebih cerdas, lebih cekatan) yang kemudian menjadi permusuhan antar pribadi yang disengaja, diulang, dan pada tingkat yang bisa membahayakan kesehatan maupun status ekonomi dari individu yang ditargetkan.

Berikutnya berubah menjadi permusuhan, dan berlanjut dengan berbagai tindakan negatif, dalam bentuk kekerasan, komentar, godaan, pengucilan sosial, dan lain-lain.

Dampaknya membuat korban tidak nyaman hingga tidak betah, akibatnya mempengaruhi performa kerjanya, kesehatan dan mental pun bisa terancam.

Keadaan akan semakin berat, jika korban berdiam diri.

Aktor penyebab terjadinya bullying diperkantoran bisa siapapun didalamnya, terutama yang memiliki relasi kekuasaan, untuk memanfaatkan orang lain untuk kepentingan pribadinya.

Tidak heran jika tingkat stress diperkantoran cukup tinggi di Indonesia mencapai 26% (Kompas.com, 2023). Boleh jadi salah satu pencetusnya suasana kerja yang tegang karena pembiaran adanya bullying.

 

PENYEBAB JENIS BULLYING DIPERKANTORAN

Centers for Disease Control and Prevention, Amerika Serikat menjelaskan bahwa bullying dapat berdampak pada kesehatan fisik dan emosional, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Misalnya, cedera fisik, masalah sosial, masalah emosional, bahkan meningkatkan risiko bunuh diri dan kematian.

Mengapa bullying di perkantoran bisa terjadi? Seperti kata para ahli diatas, penyebab utamanya adalah penggunaan kekuasaan dari orang yang memiliki jabatan atau kekuasaan di kantor. Pelaku bisa merupakan atasan atau yang dekat dengan atasan.

Bullying atau perundungan dilakukan kepada bawahan, karena mengganggap korban lebih rendah dari mereka dan tidak akan berani melawan bagaimanapun mereka diperlakukan.

Para pakar Psikologi mengungkapkan sekitar 61% kasus bullying dilakukan oleh atasan kepada bawahan, 30% oleh rekan kerja, dan 9% oleh bawahan kepada atasan

Beberapa contoh bullying diperkantoran yang dikumpulkan suatu survey di Amerika Serikat :

  1. Mengecilkan Posisi Seseorang di Tempat Kerja

Disini korban dikecilkan kontribusinya di tempat kerja. Bahkan jika berusaha aktif berpartisipasi, akan ada yang mempermalukan didepan rekan kerja lainnya. 64% responden melaporkan bahwa mereka pernah dipermalukan saat rapat, terutama ketika hendak atau saat memberikan pendapat.

  1. Membuat Peraturan Secara Seenaknya

 Terutama pelaku yang punya kuasa biasanya akan membuat aturan tertentu di luar kebiasaan, yang menguntungkan dirinya sendiri dan merugikan banyak orang. 61% pelaku tak akan mengikuti peraturan yang ia buat sendiri, artinya aturan dibuat untuk orang lain sebagai korban.

  1. Meremehkan Pekerjaan Orang Lain

Pelaku selalu meremehkan pekerjaan orang lain. Ekspektasinya berlebihan bahkan sering tak masuk akal, atau keluar dari skema perencanaan kantor. Pekerjaannya diremehkan meski sudah standar. Ada 58% korban seperti ini yang diremehkan meski sudah bekerja baik dan memenuhi standar.

  1. Membuat Tuduhan Tidak Berdasar

71% responden mengaku mengalami bullying tuduhan melakukan kesalahan yang tak pernah dilakukan.

  1. Mengintimidasi Secara Nonverbal

Contoh bullying ini adalah tatapan yang tak menyenangkan dari rekan kerja atau atasan. Atau bisa pula sikap mendiamkan bahkan dikucilkan oleh rekan kerja sekantor. 

  1. Menetapkan Target yang Berlebihan pada Korban

Pelaku bullying ngotot bahwa performa kerja korban tidak beres, tidak memenuhi standar, meskipun tak ada masalah apa pun.

Hasil penelitian mencatat ada 57% responden mengaku bahwa mereka sering mendapat perlakuan kasar di tempat kerja, dikritik terus-menerus, meski mereka sudah bekerja sesuai prosedur dan target yang telah ditetapkan.

  1. Mengompori Orang Lain untuk Menyerang Korban

Pelaku bullying (biasanya atasan/senior anda) akan ngompori orang lain disekitarnya dan ia merasa senang, menang, dan berkuasa ketika melihat banyak orang yang berpihak padanya. 55% responden mengaku hal ini sering terjadi di tempat kerja.

  1. Bercanda di Luar Batas

Candaan OK, tetapi ketika anda berulang dijadikan target percandaan, bisa jadi anda target bullying.

 

  1. Mengucapkan Kata-Kata Kasar

Kata-kata seperti makian, memarahi dengan kata/kalimat yang kasar atau meneriaki anda secara kurang pantas. Boleh jadi anda menjadi target bullying. Bentuk lebih halus, misalnya komentar negatif atas penampilan, isi meja kerja, gaya hidup, keluarga dll.

  1. Menyebarkan Rumor

 Tanda awal adanya bullying ketika mendengar rumor tentang anda di kantor yang menyebar dari satu mulut ke mulut lain, sekalipun ada diantaranya yang mempertanyakan kepada anda, dengan tujuan memperburuk citra.

  1. Pengabaian Hak

Masih ditemukan adanya kepastian yang diabaikan. Misalnya seseorang yang sudah melewati proses seleksi jabatan yang panjang dan cukup melelahkan, setelah ditetapkan sebagai kandidat pemenang dan tinggal menunggu Pelantikan, dan setelah menunggu lama, yang dilantik orang lain yang tidak ikut seleksi, yang tidak diketahui prosesnya seperti apa, Atau pada kasus lainnya pembiaran jabatan Pelaksana Harian sampai bertahun tanpa membuka seleksi sebagai jalan pengembangan karier staf. Tentu ini merupakan bullying non verbal, yang lukanya tak tahu sedalam apa. Belum lagi hilangnya motivasi kerja staf.

 

MENCEGAH ATAU MENGATASI BULLYING DI PERKANTORAN

Menjadi korban memang tidak menyenangkan dan bahkan menyakitkan, tetapi dalam posisi apapun sebagai Karyawan/Pegawai harus sabar dan waspada.

Jika anda anggap sebagai pembelajaran, sang perundung/ pelaku akan capek sendiri, dengan catatan semangat kerja jangan sampai hilang.

Dalam keadaan tertentu, melampaui batas, lapor kepada atasan dengan membawa catatan dan bukti berdasar waktu dan saksi.

Disarankan anda juga :

  • Membuat Catatan

Dokumentasikan insiden bullying seperti apa yang dialami, siapa pelakukanya, apa latar belakangnnya, Dimana, kapan dan apa yang dilakukan. Ini akan menjadi bukti kuat dan mereka tak bisa mengelak atau membantah telah mem-bully kamu. Simpan segala bukti, baik

catatan, komentar di pesan percakapan, surat elektronik berisi ancaman, dan sebagainya.

 

  • Hadapi Pelaku Bullying

Jika sudah cukup bukti dan sakti, dan sudah punya keberanian, hadapi pelaku. Sampaikan pada pelaku bahwa kamu tidak suka diperlakukan seperti itu dan dia harus minta maaf. Jangan marah dan tetap tenang, elegan.

 

  • Introspeksi dan Edukasi Diri

 Pelajari dari berbagai sumber terkait bullying di perkantoran dengan rekan kerja dan atasan. Jenis dan ciri bullying. Ini untuk mengantisipasi dan merespons dengan baik manakala terjadi, sekaligus juga introspeksi diri atas sisi kurang. 

  • Bicaralah dengan Rekan Kerja

Mungkin diantara rekan kerja juga mengalami bullying yang sama atau melihat kejadian yang sama seperti yang ada rasakan. Kesaksian mereka berguna jika kelak anda complain atas bullying.

  • Temui dan Bicara dengan Atasan

Persiapkan diri dengan baik dan matang, dengan membawa catatan dan jika mungkin saksi sesama rekan kerja. Jika tidak puas atas respons atasan, sampaikan untuk melanjutkan kepengaduan ke Bagian Kepegawaian atau bagian HRD sesuai prosedur internal.

So, jika anda mengalami 10 model bullying yang sering terjadi di kantor atau yang bullying ke-11 (Pengabaian Hak) yang mulai sering terdengar di perkantoran Pemerintah utamanya, tegakkan hak anda dengan berani, santun, sesuai prosedur. Jangan biarkan kesalahan terjadi. Pengabaian Hak bukan untuk dibiarkan, karena ia dikawal dengan peraturan Per-Undang-Undangan untuk meningkatkan Kinerja Organisasi Perkantoran terutama Kantor Pemerintahan.

 

Boleh jadi sang pelaku orang baik namun lemah mental. Punya kapasitas tetapi lemah Integritas.

 

Selamat bekerja dengan ekspektasi yang tinggi dan konsisten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *