Example 728x250
BerandaKesehatanParu-Paru

Bukan Cuma Paru-Paru, Kabut Asap Juga Mengancam Penglihatan

45
×

Bukan Cuma Paru-Paru, Kabut Asap Juga Mengancam Penglihatan

Sebarkan artikel ini

Golansia.com — Kabut asap tidak selalu membuat seseorang langsung batuk atau sesak napas. Dalam kondisi kualitas udara yang memburuk, mata bisa lebih dahulu merasakan dampaknya. Rasa perih, merah, gatal, dan berair kerap dianggap gangguan ringan. Padahal, paparan partikel dan zat pencemar secara berulang dapat mengganggu lapisan pelindung mata dan memicu peradangan.

Mata menjadi salah satu organ yang rentan terhadap polusi udara karena permukaannya bersentuhan langsung dengan lingkungan luar. Partikel halus, debu, serta senyawa kimia dalam asap dapat menempel pada permukaan mata dan mengganggu lapisan air mata yang berfungsi menjaga kelembapan sekaligus melindungi kornea.

Mengutip Columbia Asia, Rabu (4/11/2026), dokter spesialis mata Columbia Asia, Dr. Siva Kumar Sundralingam, menjelaskan kabut asap terbentuk ketika konsentrasi partikel halus dan kasar, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, ozon, serta senyawa organik beracun menumpuk di udara yang stagnan.

Sumber polutan tersebut antara lain kebakaran hutan, pembakaran lahan pertanian, emisi kendaraan, dan aktivitas industri.

Dampak asap terhadap mata juga menjadi perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dalam penjelasan mengenai dampak kesehatan kebakaran hutan, WHO menyebut paparan asap dapat menimbulkan iritasi pada mata dan saluran pernapasan. Keluhan tersebut dapat muncul dalam jangka pendek, bergantung pada komposisi asap, tingkat paparan, dan kondisi kesehatan seseorang.

 

Polusi Udara Bisa Memicu Mata Merah hingga Penglihatan Kabur

Permukaan mata dilindungi lapisan air mata atau tear film yang menjaga kornea tetap lembap dan membantu mempertahankan kejernihan penglihatan. Lapisan ini juga menjadi penghalang awal terhadap partikel dan zat asing dari lingkungan.

Namun, perlindungan tersebut dapat terganggu ketika mata terpapar polutan. Partikel halus bisa menempel pada permukaan mata, sedangkan sejumlah zat kimia dapat larut dalam lapisan air mata. Akibatnya, keseimbangan lapisan pelindung mata terganggu dan memicu respons peradangan.

Salah satu gangguan yang dapat muncul adalah konjungtivitis iritatif, yakni peradangan pada konjungtiva atau selaput bening yang melapisi bagian putih mata dan bagian dalam kelopak mata.

Gejalanya meliputi mata merah, gatal, terasa terbakar, berair berlebihan, hingga sensasi seperti ada pasir atau benda asing di balik kelopak mata.

Polusi udara juga dapat memperburuk mata kering. Ketika lapisan air mata tidak stabil, kelembapan permukaan mata lebih cepat menghilang. Penderita bisa merasakan mata perih, panas, mudah lelah, dan penglihatan kabur sementara.

National Institutes of Health (NIH) melalui berbagai publikasi kesehatan mata menjelaskan bahwa paparan polutan lingkungan dapat mengganggu permukaan mata dan memperburuk gejala mata kering. Orang yang sebelumnya sudah memiliki gangguan mata kering atau alergi mata berpotensi mengalami keluhan lebih berat ketika terpapar asap.

Partikel yang masuk ke bawah kelopak mata juga dapat menimbulkan sensasi mengganjal. Menggosok mata saat mengalami keluhan justru berisiko memperparah iritasi dan menyebabkan gesekan pada permukaan kornea.

Karena itu, mata yang terasa gatal atau perih sebaiknya tidak dikucek. Jika terdapat partikel yang masuk, mata dapat dibilas menggunakan air bersih mengalir.

 

Paparan Berulang Dapat Memperburuk Gangguan Mata

Dampak kabut asap tidak selalu berhenti pada iritasi sementara. Paparan berulang dapat memperburuk kondisi permukaan mata, terutama pada orang yang sudah memiliki gangguan mata sebelumnya.

Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah penyakit mata kering kronis atau *dry eye disease*. Paparan polutan dapat memperburuk peradangan pada permukaan mata dan mengganggu kestabilan lapisan air mata. Dalam jangka panjang, keluhan dapat berupa rasa kering, panas, perih, sensasi berpasir, dan penglihatan yang berfluktuasi.

Siva juga menyebut keratitis toksik sebagai salah satu gangguan yang dapat berkaitan dengan paparan bahan kimia. Kondisi ini terjadi ketika zat iritan merusak lapisan epitel kornea. Tingkat kerusakan bergantung pada jenis bahan, konsentrasi, dan lamanya paparan. Pada kasus berat, kerusakan kornea dapat mengganggu kejernihan penglihatan.

Gangguan lain yang perlu diperhatikan adalah pterigium dan pinguekula. Keduanya merupakan pertumbuhan jaringan pada konjungtiva. Pterigium dapat tumbuh ke arah kornea, sedangkan pinguekula umumnya berupa penebalan atau benjolan kekuningan pada bagian putih mata.

Paparan lingkungan seperti debu, angin, dan iritan dapat berperan dalam gangguan permukaan mata. Namun, faktor sinar ultraviolet juga memiliki kaitan kuat dengan kemunculan pterigium. Karena itu, kondisi tersebut tidak dapat dikaitkan hanya dengan kabut asap.

 

Siapa yang Lebih Rentan Mengalami Iritasi Mata?

Tidak semua orang merasakan dampak paparan asap dengan tingkat keparahan yang sama. Orang yang memiliki riwayat mata kering, alergi mata, atau gangguan pada permukaan mata dapat lebih mudah mengalami iritasi.

Pengguna lensa kontak juga perlu lebih berhati-hati. Partikel dan asap dapat menimbulkan ketidaknyamanan ketika lensa menempel pada permukaan mata. Saat kualitas udara memburuk, penggunaan kacamata dapat menjadi pilihan yang lebih aman dibandingkan lensa kontak.

American Academy of Ophthalmology (AAO) menyebut orang yang memiliki mata kering, blefaritis, atau konjungtivitis alergi lebih rentan mengalami rasa terbakar dan perih ketika terpapar asap kebakaran. AAO menyarankan masyarakat mengurangi paparan asap, menggunakan air mata buatan bila diperlukan, serta memakai kacamata atau pelindung mata yang sesuai.

Anak-anak, lansia, dan orang yang banyak bekerja di luar ruangan juga perlu memperhatikan kondisi kualitas udara. Semakin lama seseorang berada di lingkungan berasap, semakin besar peluang terjadinya paparan terhadap mata dan saluran pernapasan.

 

Cara Melindungi Mata dari Kabut Asap

Ketika kualitas udara memburuk, perlindungan mata sebaiknya dilakukan sebelum keluhan muncul. Berikut sejumlah langkah yang dapat diterapkan:

1. Pantau kualitas udara. Periksa Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) atau indeks kualitas udara setempat sebelum beraktivitas. Jika kondisinya tidak sehat, kurangi kegiatan di luar ruangan.

2. Gunakan kacamata pelindung. Kacamata dengan desain yang cukup menutup area mata dapat membantu mengurangi paparan langsung partikel dan angin. Kacamata hitam juga dapat mengurangi paparan sinar ultraviolet, tetapi tidak menggantikan pelindung pernapasan.

3. Hindari mengucek mata. Kebiasaan ini dapat memperburuk iritasi dan meningkatkan risiko gesekan pada permukaan kornea.

4. Bilas mata jika terpapar partikel. Gunakan air bersih mengalir untuk membantu membersihkan partikel yang menempel. Pastikan tangan sudah dicuci sebelum menyentuh area mata.

5. Gunakan air mata buatan bila diperlukan. Tetes pelumas atau air mata buatan dapat membantu menjaga kelembapan mata. Pilih produk yang sesuai dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan jika keluhan berulang.

6. Kurangi masuknya asap ke dalam rumah. Tutup pintu dan jendela ketika udara di luar tercemar. Jika memungkinkan, gunakan pembersih udara dengan filter HEPA untuk membantu mengurangi partikel di dalam ruangan.

7. Istirahatkan penggunaan lensa kontak. Selama kondisi udara berasap, pengguna lensa kontak sebaiknya beralih ke kacamata untuk mengurangi iritasi.

American Academy of Ophthalmology juga menyarankan masyarakat tetap berada di dalam ruangan ketika asap pekat, menggunakan kacamata atau pelindung mata, serta memanfaatkan pembersih udara berfilter HEPA untuk membantu mengurangi paparan partikel di rumah.

 

Jangan Abaikan Nyeri dan Penglihatan Kabur

Iritasi ringan akibat asap umumnya dapat membaik setelah seseorang menjauh dari sumber paparan dan membersihkan mata. Namun, keluhan yang menetap atau semakin berat tidak boleh dianggap sepele.

Segera periksakan mata apabila muncul nyeri hebat, penglihatan menurun atau kabur yang tidak membaik, mata sangat merah, sensitif berlebihan terhadap cahaya, atau keluar kotoran yang tidak biasa. Pemeriksaan juga diperlukan jika keluhan tidak membaik setelah langkah pertolongan awal.

Hindari menggunakan obat tetes mata antibiotik atau steroid tanpa petunjuk dokter. Obat yang tidak sesuai dapat menimbulkan masalah baru atau menutupi gejala penyakit mata yang membutuhkan penanganan khusus.

Kabut asap memang lebih sering dikaitkan dengan gangguan pernapasan. Namun, kesehatan mata juga perlu mendapat perhatian. Mengurangi paparan, menggunakan pelindung yang tepat, dan tidak menunda pemeriksaan ketika muncul gejala merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan mata selama kualitas udara memburuk.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *