Example 728x250
Tips LansiaTips Sehat Manula

Lansia Rentan Mengalami Depresi, Ini Alasannya

396
×

Lansia Rentan Mengalami Depresi, Ini Alasannya

Sebarkan artikel ini
Lansia Rentan Mengalami Depresi
Lansia Rentan Mengalami Depresi

Golansia.com – Setelah melalui berbagai pengalaman jatuh bangun, suka dan duka sepanjang hidup, banyak lansia tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Namun, ketangguhan itu tidak serta merta membuat mereka terbebas dari risiko gangguan kesehatan mental, seperti depresi.

Berdasarkan data dari National Association of Chronic Disease Directors, banyak lansia mengalami depresi karena kondisi hidup mereka berbeda dibanding saat masih muda. Seiring bertambahnya usia, metabolisme dan kemampuan fisik ikut menurun. Aktivitas yang dulu dinikmati kini mungkin terasa tidak nyaman atau sulit dilakukan di usia lanjut.

Penyebab Depresi pada Lansia

Depresi pada lansia sebenarnya lebih dari sekadar suasana hati yang down. Seiring bertambahnya usia, perubahan hidup yang signifikan meningkatkan risiko depresi, yang mencakup:

  1. Masalah Kesehatan

Penyakit dan kecacatan, sakit kronis atau berat, penurunan kognitif, kerusakan bentuk tubuh akibat pembedahan atau penyakit dapat berkontribusi pada depresi.

  1. Kesepian dan Rasa Terisolasi

Faktor-faktor, seperti hidup sendirian, lingkaran sosial yang semakin kecil akibat kematian atau perpindahan tempat tinggal, mobilitas yang menurun karena sakit sangat dapat memicu depresi.

  1. Tujuan Hidup yang Tak Lagi Jelas

Masa pensiun dapat menyebabkan hilangnya identitas, status, kepercayaan diri, keamanan finansial, dan meningkatkan risiko depresi. Keterbatasan fisik pada aktivitas yang biasanya dinikmati juga memengaruhi tujuan hidup para lansia.

  1. Ketakutan

Depresi ini juga dapat disebabkan oleh ketakutan akan kematian serta kecemasan atas masalah keuangan ataupun masalah kesehatan.

  1. Ditinggalkan Orang yang Disayangi

Kehilangan teman, anggota keluarga, hewan peliharaan, atau pasangan sering kali menjadi penyebab depresi pada orang dewasa yang lebih tua.

Depresi yang tidak ditangani dengan baik bisa menyebabkan masalah kesehatan serius

Penanganan yang Bisa Dilakukan

Beberapa orang beranggapan bahwa setelah mencapai usia tertentu, akan sulit bagi seseorang untuk mempelajari keterampilan baru, mencoba aktivitas baru, atau mengubah gaya hidup mereka.

Namun, kenyataannya, otak manusia tidak pernah berhenti beradaptasi, bahkan di usia lanjut. Orang-orang tetap dapat belajar hal-hal baru dan terbuka terhadap ide-ide segar, yang pada gilirannya membantu mencegah depresi.

Untuk mengatasi depresi, diperlukan aktivitas-aktivitas baru yang menyenangkan, kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan, menjaga diri tetap aktif secara fisik dan sosial, serta merasakan kedekatan dengan komunitas dan orang-orang tercinta.

Berikut ini beberapa tips untuk menangani gejala depresi yang dialami:

  • Tetap terhubung. Meski rasanya ingin mengisolasi diri sendiri, lawanlah perasaan ini. Berusahalah untuk terhubung dengan orang lain dan batasi waktu sendirian. Jika tidak bisa keluar untuk bersosialisasi, undang orang yang dicintai untuk berkunjung, atau berhubungan melalui telepon.
  • Pelihara hewan. Hewan peliharaan dapat menemani lansia menjalani kehidupan sehari-hari. Misalnya, menjadi teman olahraga yang baik dan cara yang bagus untuk bertemu orang lain atau penyuka hewan lain.
  • Temukan makna dan tujuan hidup. Ada banyak cara untuk menemukan makna baru dalam hidup dan terus merasa terlibat di dunia. Fokuslah pada apa yang masih bisa dilakukan, bukan apa yang dulu bisa dilakukan.
  • Setelah pensiun dan anak-anak punya kehidupannya masing-masing, lansia mungkin memiliki lebih banyak waktu untuk mengunjungi tempat-tempat yang selalu ingin dikunjungi.
  • Terapkan kebiasaan sehat. Semakin baik lansia merawat tubuhnya, semakin baik suasana hati yang dimiliki. Jadi, cobalah untuk rutin berolahraga, mengonsumsi makanan sehat, dan istirahat yang cukup.

Perawatan depresi terbukti efektif baik untuk orang yang lebih muda maupun lansia. Namun, karena depresi pada lansia sering kali dipicu atau diperburuk oleh tantangan atau situasi hidup yang sulit, rencana perawatan harus mempertimbangkan masalah tersebut juga. Hal yang sangat penting adalah mengenali gejalanya sejak dini dan segera mencari bantuan jika diperlukan.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *