Example 728x250
KesehatanTips Sehat Manula

Waspada, Inilah yang Terjadi Saat Lansia Mengalami Patah Kaki

2076
×

Waspada, Inilah yang Terjadi Saat Lansia Mengalami Patah Kaki

Sebarkan artikel ini
Lansia Mengalami Patah Kaki
Patah Kaki

Golansia.com – Memasuki usia lanjut meningkatkan risiko seseorang terhadap berbagai penyakit. Selain itu, banyak lansia yang mengalami kesulitan dalam berjalan dan membutuhkan alat bantu. Ketika terjatuh, tulang mereka yang tidak sepadat saat masih muda membuatnya lebih rentan mengalami patah tulang.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi ketika lansia mengalami patah tulang pada kaki? Apa saja cara pengobatan yang paling tepat dan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi? Temukan informasi lengkapnya di sini!

Masalah yang Dapat Timbul saat Lansia Alami Patah Kaki

Patah tulang merupakan masalah yang sangat rentan terjadi pada lansia dan harus segera diobati, karena bisa menyebabkan komplikasi serius bahkan berisiko mengancam nyawa. Penyebab utama patah tulang pada lansia biasanya akibat terjatuh. Bagian tubuh yang paling sering mengalami patah tulang adalah tulang panggul dan tulang belakang, yang merupakan bagian vital tubuh. Namun, bukan berarti lansia tidak bisa mengalami patah kaki. Jika orangtua Anda mengalami kondisi ini, sangat penting untuk segera melakukan pemeriksaan untuk mengetahui tingkat keparahan dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Lantas, apa yang menyebabkan lansia rentan mengalami patah kaki?

Risiko patah kaki pada lansia biasanya disebabkan oleh tulang yang semakin lemah, salah satunya akibat osteoporosis, serta terjatuh. Seiring bertambahnya usia, tulang manusia secara alami akan melemah karena perubahan pada jaringan tulang. Pada wanita yang telah memasuki masa menopause, penurunan kadar hormon estrogen juga memperburuk kepadatan tulang.

Selain itu, beberapa faktor lain seperti konsumsi obat-obatan, kebiasaan merokok, alkohol, serta faktor genetik turut berperan dalam memperburuk kondisi kerapuhan tulang, terutama di usia lanjut.

Risiko terjatuh pun semakin tinggi karena gangguan keseimbangan, penurunan kemampuan penglihatan, refleks yang melambat, serta koordinasi yang menurun. Lansia yang menderita osteoporosis atau kondisi lain yang menyebabkan penurunan kepadatan tulang adalah yang paling rentan terhadap patah kaki. Hal ini karena tulang mereka memiliki kadar kalsium, fosfor, dan mineral yang lebih rendah, sehingga tulang yang lebih tipis dan kurang padat lebih mudah retak atau patah ketika terjadi benturan.

Perawatan Patah Kaki pada Lansia

Perawatan patah tulang bergantung pada lokasi cedera. Untuk patah tulang pada tungkai atau kaki, perawatan awal biasanya dilakukan dengan cara memelintir anggota gerak yang terluka dan mengistirahatkan sendi di atas dan di bawah area cedera agar tidak bergerak. Setelah itu, belat yang digunakan akan diganti dengan gips.

Pada beberapa kasus, patah tulang mungkin memerlukan tindakan pembedahan untuk menyelaraskan fragmen tulang secara tepat, meningkatkan stabilitas, dan memastikan proses penyembuhan berjalan dengan baik. Kondisi lainnya bisa memerlukan penggunaan perangkat logam, seperti pin, pelat, atau batang, untuk menjaga tulang tetap pada posisinya hingga sembuh.

Nah, berikut ini beberapa tindakan yang mungkin dilakukan saat lansia alami patah kaki:

  1. Operasi

Pada beberapa kasus, perangkat fiksasi internal, seperti batang, pelat, atau sekrup, perlu ditanamkan melalui prosedur pembedahan. Operasi sering diperlukan untuk jenis patah tulang, seperti :

  • Patah tulang ganda.
  • Displaced fracture, yaitu ketika kedua ujung tulang yang patah terpisah satu sama lain.
  • Fraktur yang merusak ligamen di sekitarnya.
  • Fraktur yang memanjang sampai ke bagian sendi.
  • Tulang hancur akibat kecelakaan.
  • Fraktur di area tertentu, seperti tulang paha.

Dalam beberapa kasus, dokter dapat merekomendasikan perangkat fiksasi eksternal. Perangkat ini merupakan bingkai yang berada di luar kaki dan melekat melalui jaringan kaki ke dalam tulang.

  1. Obat

Pemberian obat-obatan yang dijual bebas seperti acetaminophen (Tylenol) atau ibuprofen (Advil) membantu mengurangi rasa sakit dan peradangan. Apabila rasa sakit menjadi sangat hebat, dokter mungkin meresepkan obat penghilang rasa sakit dalam dosis yang lebih kuat.

  1. Terapi Fisik

Setelah belat, gips, atau perangkat fiksasi eksternal telah dilepas, dokter akan merekomendasikan terapi fisik untuk mengurangi kekakuan dan membantu gerakan dan kekuatan ke kaki menjadi normal kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *