Golansia.com — Rasa nyeri yang datang tiba-tiba di bagian kanan dada sering kali menimbulkan kekhawatiran, terlebih bagi mereka yang berusia lanjut. Walau tidak selalu menandakan kondisi berbahaya, gejala ini tetap perlu diwaspadai, terutama bila disertai sesak napas atau jantung berdebar.
Sebagian orang mungkin mengabaikannya karena dianggap hanya pegal biasa atau efek kelelahan. Namun, nyeri dada—termasuk di sisi kanan—bisa berkaitan dengan berbagai kondisi medis, dari gangguan ringan hingga penyakit serius.
Dikutip dari laman Medical News Today dan Healthline, berikut penjelasan beberapa penyebab umum nyeri dada kanan yang penting untuk dikenali, terutama bagi lansia:
Penyebab Nyeri Dada Sebelah Kanan
1. Gangguan Kecemasan atau Stres
Kecemasan berlebihan atau stres berat dapat memicu panic attack (serangan panik), yang sering kali menyerupai gejala serangan jantung.
Gejalanya meliputi:
- Nyeri dada
- Sesak napas
- Jantung berdebar
- Mual
- Pusing
- Mati rasa pada tangan dan kaki
- Berkeringat
- Gemetaran
Serangan panik dapat menimbulkan nyeri di kedua sisi dada, termasuk sebelah kanan, biasanya akibat napas yang cepat dan dangkal.
2. Otot yang Tegang
Aktivitas fisik yang terlalu intens, seperti olahraga berat atau latihan tubuh bagian atas, bisa menyebabkan otot dada menjadi tegang. Ketegangan otot ini merupakan salah satu penyebab paling umum dari nyeri dada yang muncul secara bertahap.
3. Cedera
Trauma fisik akibat jatuh, benturan keras di dada, atau kecelakaan dapat merusak jaringan otot dan struktur di area dada, termasuk jantung dan paru-paru. Cedera seperti ini kerap disertai memar, pembengkakan, atau nyeri di lokasi tertentu.
4. Fraktur Tulang Rusuk
Patah tulang rusuk, khususnya akibat benturan langsung di sisi kanan dada, bisa menyebabkan nyeri yang tajam dan rasa tidak nyaman saat bernapas.
Meski satu tulang rusuk yang patah mungkin tidak terlalu berisiko, namun bila lebih dari satu tulang rusuk mengalami fraktur, kondisi ini bisa berbahaya.
5. Pneumotoraks
Pneumotoraks terjadi ketika udara keluar dari paru-paru dan masuk ke ruang di antara paru dan dinding dada, menyebabkan paru-paru kolaps.
Gejalanya meliputi nyeri dada yang tajam dan tiba-tiba, serta kesulitan bernapas.
Penyebab umum pneumotoraks antara lain:
- Merokok
- Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)
- Asma
- Fibrosis kistik
- Biopsi paru
6. Pneumonia
Pneumonia adalah infeksi yang menyerang satu atau kedua paru-paru. Selain batuk berdahak, kondisi ini juga bisa menyebabkan nyeri dada yang terasa ketika bernapas.
Meski biasanya terjadi di kedua sisi dada, pneumonia juga bisa menyebabkan rasa nyeri di sisi kanan.
7. Refluks Asam Lambung
Ketika asam lambung naik ke kerongkongan, kondisi ini disebut refluks asam atau GERD. Karena letak kerongkongan berada di area dada, gejalanya kerap disalahartikan sebagai gangguan jantung.
Selain nyeri dada, gejala lainnya termasuk:
- Perut kembung
- Batuk
- Rasa pahit di mulut
- Mual
8. Masalah pada Liver, Kantong Empedu, dan Pankreas
Organ pencernaan seperti hati, kantong empedu, dan pankreas terletak di sisi kanan tubuh dan bisa menimbulkan rasa nyeri jika terganggu.
Beberapa penyebabnya antara lain:
- Batu empedu
- Pankreatitis (radang pankreas)
- Penyakit liver
9. Sakit Jantung
Meski nyeri dada akibat gangguan jantung lebih sering dirasakan di sisi kiri, bukan berarti nyeri di sisi kanan bisa diabaikan. Jika bagian kanan jantung terpengaruh, gejala dapat muncul di sisi kanan dada.
10. Tumor di Area Dada
Tumor yang tumbuh di rongga dada bisa menekan saraf atau pembuluh darah di sekitarnya, menimbulkan rasa nyeri atau ketidaknyamanan.
Gejala lain yang bisa menyertai termasuk:
- Benjolan
- Pembengkakan
- Perubahan bentuk dada
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Nyeri dada sebelah kanan mungkin saja berasal dari kondisi ringan seperti ketegangan otot atau gangguan lambung. Namun, jika disertai gejala lain seperti berikut, Anda perlu segera mencari pertolongan medis:
- Kesulitan bernapas
- Pernapasan yang cepat dan mendadak
- Pusing atau hampir pingsan
- Detak jantung yang sangat cepat
Lebih baik waspada daripada menunda. Berkonsultasi dengan dokter akan membantu memastikan penyebab nyeri dan mencegah risiko yang lebih serius.
Sumber: Detikhealth

















