Golansia.com — Menjalankan puasa di usia lanjut sering kali dipandang sebagai tantangan. Padahal, dengan pemahaman yang tepat, ibadah ini justru dapat menjadi sarana menjaga kesehatan fisik sekaligus kualitas hidup para lansia.
Hal itu disampaikan oleh dr Abidinsyah Siregar dalam webinar bertajuk “Lansia Berpuasa Cerdas, Semangat, Sehat, dan Bermartabat” yang digelar komunitas penggerak gerakan menua bermartabat. Menurutnya, puasa tidak hanya berkaitan dengan dimensi ibadah semata, tetapi juga dapat membentuk pola hidup yang lebih sehat dan bermakna, terutama bagi kelompok lanjut usia.
“Yang kita bicarakan bukan hanya ibadahnya. Puasa juga bisa membuat seseorang menjadi cerdas, bersemangat, sehat, bahkan bermartabat,” ujar Abidinsyah dalam sambutannya.
Menurut dia, kecerdasan dalam berpuasa berawal dari perubahan pola makan. Saat menjalankan puasa, seseorang dituntut lebih selektif dalam memilih makanan yang dikonsumsi agar tubuh mampu bertahan selama sekitar 12 hingga 14 jam tanpa asupan.
Proses memilih makanan tersebut, kata Abidinsyah, secara tidak langsung melatih seseorang untuk berpikir lebih rasional tentang kebutuhan tubuhnya.
“Orang yang berpuasa pasti pola makannya berubah dan tidak sembarangan. Dia mulai melihat, belajar, memilih, dan mencari makanan apa yang membuat dia tetap sehat sepanjang waktu puasa,” tuturnya.
Ia mengingatkan agar puasa tidak justru menimbulkan masalah kesehatan baru akibat pola makan yang tidak tepat. Karena itu, pemilihan menu sahur dan berbuka perlu diperhatikan dengan baik, terutama bagi lansia yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Puasa Bukan Alasan Bermalas-malasan
Selain melatih kecerdasan dalam mengatur pola makan, puasa juga dapat menjadi momentum meningkatkan semangat beraktivitas.
Menurut Abidinsyah, meskipun aktivitas fisik mungkin sedikit berkurang selama berpuasa, waktu yang ada dapat dialihkan pada kegiatan produktif seperti membaca, menulis, mendengar kajian, atau berkarya.
“Jangan sampai puasa dibawa tidur atau bermalas-malasan. Puasa seharusnya tidak membuat badan kita bertambah lemah atau terlihat sangat loyo,” katanya.
Ia menegaskan, semangat beraktivitas justru menjadi bagian penting dari menjaga kesehatan mental dan fisik para lansia selama menjalankan ibadah puasa.
Dampak Positif bagi Metabolisme
Secara medis, puasa juga membawa perubahan positif pada sistem metabolisme tubuh. Ketika tubuh tidak menerima asupan makanan dalam beberapa jam, berbagai mekanisme biologis bekerja untuk menyesuaikan diri.
Menurut mantan Komisi Pengawas Haji Indonesia KPH BKKBN ini, perubahan itu melibatkan aktivitas enzim dan hormon yang membuat sejumlah fungsi tubuh menjadi lebih optimal.
“Sistem kerja metabolisme tubuh berubah. Enzim dan hormon berkembang sedemikian rupa sehingga fungsi-fungsi seperti antioksidan bekerja lebih optimal,” ujarnya.
Kondisi tersebut, lanjut dia, dapat membantu tubuh memperbaiki berbagai gangguan kesehatan sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh jika dilakukan dengan cara yang tepat.
Menjadi Teladan bagi Keluarga
Dalam konteks lansia, puasa juga memiliki dimensi sosial yang penting, yakni membangun martabat diri. Ketua Umum Kesindo ini menilai, ketika lansia mampu menjalankan puasa dengan baik, mereka tidak hanya menjaga kesehatan, tetapi juga memberi teladan bagi keluarga.
“Dengan menunjukkan cara berpuasa yang baik, seorang lansia bisa menjadi teladan bagi anak, menantu, cucu, bahkan cicitnya,” kata dia.
Teladan tersebut, menurutnya, menjadi bentuk penghargaan terhadap diri sendiri sekaligus memperkuat posisi lansia dalam keluarga.
“Orang akan berkata, ‘Eyang luar biasa puasanya.’ Di situlah muncul rasa hormat dan harga diri bahwa meskipun sudah tua, dia tetap mampu menjalankan ibadah dengan baik,” ujarnya.
Dengan pemahaman yang tepat, puasa bagi lansia tidak sekadar menahan lapar dan haus, tetapi menjadi sarana membangun kecerdasan dalam menjaga kesehatan, menumbuhkan semangat hidup, memperbaiki metabolisme tubuh, sekaligus mempertahankan martabat di usia senja.(*)

















