Example 728x250
BerandaBeritaKesehatanTips Sehat Manula

Puasa Aman bagi Lansia, Ini Saran Gubes Ilmu Gizi Soal Pola Makan dan Cairan Tubuh

258
×

Puasa Aman bagi Lansia, Ini Saran Gubes Ilmu Gizi Soal Pola Makan dan Cairan Tubuh

Sebarkan artikel ini

Golansia.com — Puasa Ramadan dapat tetap dijalankan dengan aman oleh lanjut usia (lansia) selama kebutuhan gizi dan cairan tubuh diperhatikan dengan baik. Perubahan pola makan dan waktu makan selama puasa membuat lansia perlu lebih cermat memilih jenis makanan agar tubuh tetap bugar.

Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. dr. Abdul Rajak Taha, mengatakan bahwa kelompok lansia memiliki sejumlah kondisi khusus yang perlu diperhatikan selama berpuasa.

Menurut dia, lansia umumnya mengalami penurunan nafsu makan serta gangguan pencernaan seperti sembelit atau kembung. Selain itu, sebagian besar lansia juga memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, asam urat, atau penyakit jantung.

“Pada lansia sering terjadi penurunan nafsu makan, masalah pencernaan seperti sembelit dan kembung, serta adanya penyakit penyerta. Karena itu pengaturan makan saat puasa menjadi sangat penting,” ujarnya dalam sebuah webinar kesehatan.

Perubahan waktu makan selama Ramadan juga dapat meningkatkan risiko kekurangan energi dan zat gizi jika tidak diatur dengan baik. Di samping itu, lansia memiliki risiko dehidrasi yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lain.

“Bagi lansia, risiko dehidrasi sering kali lebih berat dibandingkan risiko kelaparan,” kata Rajak.

Perhatikan Keseimbangan Energi

Rajak menjelaskan bahwa prinsip utama gizi bagi lansia saat puasa adalah menjaga keseimbangan energi tanpa berlebihan. Puasa justru dapat memberikan manfaat kesehatan jika dilakukan dengan pola makan yang tepat.

Dalam perkembangan ilmu kedokteran, puasa bahkan dipandang sebagai salah satu pendekatan untuk menjaga kesehatan dan memperlambat proses penuaan biologis.

Karena itu, lansia dianjurkan makan secukupnya dan tidak berlebihan.

“Dianjurkan makan sekitar tujuh persepuluh kenyang. Jangan sampai terlalu kenyang,” ujarnya.

Konsep tersebut sejalan dengan pendekatan gizi modern yang dikenal sebagai calorie restriction with optimum nutrition (CRON), yaitu pembatasan kalori dengan tetap menjaga kecukupan zat gizi.

Kebutuhan Gizi Harus Tetap Lengkap

Meski energi dapat dikurangi, kebutuhan zat gizi lain tetap harus terpenuhi. Rajak menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara zat gizi makro dan mikro selama Ramadan.

Zat gizi makro seperti protein dan lemak sehat tetap diperlukan untuk menjaga fungsi tubuh. Sementara itu, vitamin dan mineral juga tidak boleh berkurang agar metabolisme tubuh tetap berjalan optimal.

Untuk sumber energi, masyarakat dapat memilih makanan sederhana yang mudah diperoleh, seperti nasi, roti, ubi, atau jagung.

“Makanan sederhana dan terjangkau tetap bisa memenuhi kebutuhan gizi selama puasa,” katanya.

 

Manfaatkan Waktu Makan dengan Baik

Selama Ramadan, waktu makan menjadi terbatas. Karena itu, lansia perlu memanfaatkan tiga waktu makan utama secara optimal, yaitu saat sahur, berbuka puasa, dan setelah salat tarawih.

Pengaturan makan pada waktu-waktu tersebut membantu tubuh memperoleh energi dan cairan yang cukup untuk menjalani puasa selama sekitar 12 hingga 14 jam.

Puasa dan Proses Peremajaan Sel

Rajak juga menjelaskan bahwa puasa berkaitan dengan proses biologis yang disebut autofagi, yaitu mekanisme tubuh membersihkan sel-sel yang rusak.

Proses ini diyakini berperan dalam menjaga kesehatan sel serta membantu memperlambat proses penuaan secara biologis.

Karena itu, puasa tidak hanya memiliki nilai ibadah, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan jika dijalankan dengan pola makan yang tepat.

Hal Penting yang Perlu Diperhatikan Lansia saat Puasa

Beberapa hal yang perlu diperhatikan lansia selama menjalankan puasa antara lain:

  • Lansia sering mengalami penurunan nafsu makan dan gangguan pencernaan.
  • Banyak lansia memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, atau penyakit jantung.
  • Waktu makan yang terbatas selama puasa berisiko menyebabkan kekurangan energi dan zat gizi.
  • Risiko dehidrasi pada lansia lebih tinggi dibandingkan rasa lapar.
  • Dianjurkan makan secukupnya, sekitar 70 persen kenyang.
  • Kebutuhan zat gizi makro dan mikro harus tetap terpenuhi.
  • Sumber energi dapat berasal dari makanan sederhana seperti nasi, roti, ubi, atau jagung.
  • Waktu makan utama saat puasa adalah sahur, berbuka, dan setelah tarawih.

Dengan pengaturan gizi yang tepat, lansia diharapkan tetap dapat menjalankan puasa secara aman, sehat, dan nyaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *