Example 728x250
Berita

Populasi Lansia Meledak, Mampukah Sistem Kesehatan Indonesia Menghadapinya?

203
×

Populasi Lansia Meledak, Mampukah Sistem Kesehatan Indonesia Menghadapinya?

Sebarkan artikel ini
populasi lansia Indonesia
lansia indonesia sedang berkumpul

Golansia.com– Indonesia tengah memasuki era baru dalam struktur kependudukannya. Jumlah penduduk lanjut usia (lansia) terus meningkat dan kini menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi dalam pembangunan nasional, khususnya di sektor kesehatan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sejak 2021 Indonesia telah memasuki fase aging population atau struktur penduduk menua. Pada 2025, sekitar 11,93 persen penduduk Indonesia merupakan lansia, dengan rasio ketergantungan mencapai 11 persen.

Fenomena ini dapat menjadi peluang apabila kelompok lansia tetap sehat, aktif, dan produktif. Namun sebaliknya, jika kualitas kesehatan mereka menurun, ledakan populasi lansia berpotensi meningkatkan beban ekonomi keluarga maupun negara.

Kondisi Kesehatan Lansia Mengkhawatirkan

Data BPS tahun 2024 memperlihatkan bahwa kondisi kesehatan lansia di Indonesia masih menjadi perhatian serius.

Sekitar 44,02 persen lansia mengaku mengalami keluhan kesehatan. Sebanyak 21,21 persen telah terdiagnosis menderita penyakit tertentu, sementara 21,09 persen masih menjalani kebiasaan yang berisiko bagi kesehatan, termasuk merokok.

Yang menarik, hanya sekitar 31 persen lansia yang rutin menjalani rawat jalan di fasilitas kesehatan. Sebaliknya, lebih dari separuh atau sekitar 52 persen memilih mengobati diri sendiri dengan membeli obat di apotek maupun warung tanpa konsultasi medis.

Sementara itu, sekitar lima persen menjalani rawat inap dan sisanya menggunakan berbagai metode pengobatan lainnya.

Mengapa Banyak Lansia Memilih Mengobati Diri Sendiri?

Dokter geriatri dari Rumah Sakit Islam Pondok Kopi Jakarta, dr. Ika Fitriana, mengungkapkan bahwa kebiasaan swamedikasi atau mengobati diri sendiri masih sangat tinggi di kalangan lansia Indonesia.

Menurutnya, fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada kelompok ekonomi menengah ke bawah, tetapi juga ditemukan pada lansia dengan tingkat ekonomi yang lebih baik.

“Bahkan pada kelompok dengan pengeluaran rumah tangga tertinggi, angka lansia yang memilih mengobati diri sendiri masih cukup besar,” ujarnya.

Faktor ekonomi memang menjadi salah satu penyebab, tetapi bukan satu-satunya alasan. Banyak lansia enggan pergi ke dokter karena merasa tidak ingin merepotkan anak atau keluarga yang harus mengantar mereka berobat.

Tak sedikit pula yang menganggap keluhan kesehatan yang dialami hanyalah bagian normal dari proses penuaan sehingga tidak perlu diperiksakan secara khusus.

Akibatnya, banyak penyakit baru terdeteksi ketika kondisinya sudah cukup berat dan memerlukan penanganan yang lebih kompleks.

Sistem Kesehatan Dinilai Belum Sepenuhnya Siap

Meningkatnya jumlah lansia menuntut perubahan besar dalam sistem pelayanan kesehatan nasional.

Menurut dr. Ika Fitriana, layanan kesehatan di Indonesia masih didominasi pendekatan kuratif atau pengobatan setelah seseorang sakit. Padahal, populasi lansia membutuhkan pendekatan yang lebih menekankan aspek pencegahan dan pemeliharaan kesehatan jangka panjang.

Program-program preventif seperti pencegahan frailty (kerentanan fisik), penanganan sarkopenia atau penurunan massa otot, vaksinasi lansia, skrining kanker, hingga perawatan kesehatan gigi perlu diperkuat secara lebih luas.

Selain itu, Indonesia juga perlu mulai memikirkan pengembangan layanan pendukung seperti home care, day care lansia, hingga pembiayaan jangka panjang untuk perawatan usia lanjut.

Ancaman Beban Kesehatan di Masa Depan

Para ahli mengingatkan bahwa peningkatan jumlah lansia tanpa disertai program healthy aging yang kuat dapat memicu lonjakan biaya kesehatan nasional di masa mendatang.

Tidak hanya itu, anggota keluarga usia produktif juga berpotensi menghadapi tekanan yang lebih besar karena harus membagi waktu antara bekerja dan merawat orang tua yang mengalami ketergantungan.

Dengan angka kelahiran yang terus menurun, jumlah penduduk produktif yang menopang kelompok lansia juga diperkirakan semakin berkurang pada masa depan.

Dokter Geriatri Masih Sangat Terbatas

Tantangan lain yang dihadapi Indonesia adalah minimnya tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi khusus menangani lansia.

Menurut dr. Ika, jumlah dokter spesialis geriatri di Indonesia hingga saat ini bahkan belum mencapai 100 orang untuk melayani jutaan lansia yang tersebar di seluruh wilayah.

Kondisi serupa juga terjadi pada tenaga kesehatan lain seperti perawat geriatri, dokter rehabilitasi medik geriatri, maupun dokter spesialis kejiwaan geriatri yang jumlahnya masih sangat terbatas.

Meski demikian, kesadaran berbagai kalangan profesi kesehatan terhadap isu penuaan penduduk mulai meningkat dan menjadi sinyal positif dalam mempersiapkan layanan kesehatan masa depan.

Perlu Pendekatan Holistik untuk Lansia

Pakar senior geriatri dari Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia, dr. Bambang Joni Karjono, menilai bahwa tantangan terbesar saat ini adalah paradigma pelayanan kesehatan yang masih berorientasi pada penyakit dan organ tertentu.

Menurutnya, sebagian besar layanan kesehatan masih memisahkan penanganan berdasarkan organ tubuh, seperti jantung, ginjal, atau paru-paru.

Padahal, lansia umumnya memiliki berbagai masalah kesehatan yang saling berkaitan, termasuk aspek fisik, psikologis, dan sosial.

Karena itu, pendekatan yang lebih tepat adalah layanan kesehatan yang bersifat holistik dan komprehensif, yakni melihat lansia sebagai satu kesatuan utuh, bukan sekadar kumpulan penyakit yang ditangani secara terpisah.

Menyiapkan Indonesia Menuju Era Masyarakat Menua

Meningkatnya jumlah lansia sebenarnya merupakan indikator keberhasilan pembangunan dan meningkatnya harapan hidup masyarakat.

Namun, tanpa kesiapan sistem kesehatan, dukungan keluarga, serta kebijakan yang berpihak pada kualitas hidup lansia, bonus demografi kedua yang diharapkan justru dapat berubah menjadi beban sosial dan ekonomi.

Oleh karena itu, investasi pada program penuaan sehat, layanan kesehatan ramah lansia, serta peningkatan jumlah tenaga kesehatan geriatri menjadi langkah penting agar Indonesia siap menghadapi era masyarakat menua dalam beberapa dekade mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *