Example 728x250
BeritaInternasional

Lansia di Malaysia Makin Banyak Hidup Sendiri, Teknologi Pintar Diusulkan untuk Cegah Kematian Terlambat Diketahui

34
×

Lansia di Malaysia Makin Banyak Hidup Sendiri, Teknologi Pintar Diusulkan untuk Cegah Kematian Terlambat Diketahui

Sebarkan artikel ini
Lansia duduk sendirian di rumah dengan perangkat pintar untuk pemantauan kesehatan.
Teknologi pintar dan dukungan komunitas diusulkan untuk membantu meningkatkan keselamatan lansia yang tinggal sendirian.

Golansia.com – Meningkatnya jumlah warga lanjut usia (lansia) yang tinggal sendirian di Malaysia memunculkan persoalan sosial yang perlu mendapat perhatian serius. Di tengah perubahan pola kehidupan keluarga dan bertambahnya populasi usia lanjut, pemanfaatan teknologi pintar mulai dipertimbangkan untuk membantu melindungi lansia dari risiko kecelakaan maupun kematian tanpa diketahui orang lain.

Fenomena yang dikenal sebagai lonely death atau kematian dalam kesendirian ini menjadi perhatian karena sebagian lansia tidak memiliki orang yang secara rutin memantau kondisi mereka. Dalam sejumlah kasus yang diberitakan media setempat, kematian baru diketahui setelah tetangga mencium bau tidak sedap dari tempat tinggal korban.

Data Kementerian Kesehatan Malaysia menunjukkan bahwa dari sekitar 4,2 juta penduduk berusia 60 tahun ke atas, hanya sekitar 600.000 orang yang memenuhi lima kriteria penuaan sehat.

Kriteria tersebut meliputi dukungan sosial yang memadai, kondisi kognitif yang baik, tidak mengalami depresi, mampu menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri, serta tidak memiliki penyakit kronis atau mampu mengendalikan kondisi kesehatannya.

Gambaran lain terlihat dalam National Health and Morbidity Survey (NHMS) 2025. Survei tersebut mencatat sekitar 18,8 persen lansia Malaysia, atau setara dengan 770.800 orang, hidup sendirian. Proporsi ini meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan angka 6,3 persen pada 2018.

Peningkatan tersebut memperlihatkan pentingnya sistem perlindungan sosial yang mampu menjangkau lansia, khususnya mereka yang tinggal tanpa pendamping di rumah.

Ribuan lansia diperkirakan meninggal sendirian setiap tahun

Malaysia tengah menghadapi perubahan demografi menuju masyarakat menua. Negara tersebut diproyeksikan memasuki kategori aged nation pada 2048, sehingga kebutuhan terhadap layanan kesehatan, pendampingan, dan perlindungan bagi lansia diperkirakan semakin besar.

Direktur Institut Penelitian Penuaan Malaysia di Universiti Putra Malaysia, Associate Professor Dr. Rahimah Ibrahim, memperkirakan terdapat sekitar 3.500 kasus kematian dalam kesendirian setiap tahun di negara tersebut.

Perkiraan itu mengacu pada data mikro dari Perlis, wilayah yang memiliki populasi sekitar 300.000 jiwa. Dalam periode 2022 hingga Agustus 2024, wilayah tersebut mencatat 80 kasus kematian mendadak pada warga yang tinggal sendirian.

Angka tersebut menjadi gambaran mengenai tantangan yang dapat muncul ketika lansia menjalani kehidupan tanpa dukungan sosial dan pemantauan yang memadai. Namun, perkiraan tersebut tetap perlu dibaca sesuai cakupan data yang digunakan dan tidak serta-merta dianggap sebagai angka nasional yang tercatat secara menyeluruh.

Teknologi pintar dinilai dapat membantu melindungi lansia

Salah satu pendekatan yang diusulkan adalah penggunaan perangkat pintar atau smart devices yang dapat memantau kondisi kesehatan dan mendeteksi situasi darurat.

Dosen Senior Departemen Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Dr. Hapsah Md Yusof, menilai Malaysia dapat mempelajari pengalaman Jepang dalam menghadapi fenomena kodokushi, istilah yang digunakan untuk menggambarkan kematian seseorang dalam kesendirian tanpa segera diketahui.

Menurut Hapsah, teknologi perlu diintegrasikan dengan sistem pendampingan berbasis komunitas, kunjungan berkala, serta pendataan warga lanjut usia di tingkat pemerintahan daerah.

Di Jepang, perangkat pemantauan telah digunakan dalam sejumlah lingkungan perawatan lansia untuk membantu mengawasi aktivitas dan kondisi kesehatan penggunanya.

Malaysia sendiri telah mengenal perangkat seperti jam tangan pintar yang mampu memantau detak jantung dan sejumlah indikator kesehatan. Meski demikian, pengembangan teknologi yang secara khusus dirancang untuk kebutuhan lansia masih dinilai penting.

Perangkat tersebut diharapkan memiliki fitur pendeteksi jatuh (fall detection), indikasi kehilangan kesadaran, serta perubahan pola aktivitas yang tidak biasa.

Sistem juga perlu terhubung dengan aplikasi yang dapat mengirimkan peringatan kepada anggota keluarga, pengasuh, fasilitas perawatan, atau petugas darurat ketika terdeteksi kondisi yang membutuhkan penanganan segera.

Dengan mekanisme tersebut, lansia yang mengalami keadaan darurat berpeluang mendapatkan bantuan lebih cepat, terutama ketika tidak ada orang lain di rumah.

Risiko jatuh menjadi perhatian utama

Pencegahan jatuh merupakan salah satu aspek penting dalam perlindungan kesehatan lansia. Seiring bertambahnya usia, gangguan keseimbangan, penurunan kekuatan otot, masalah penglihatan, dan kondisi kesehatan tertentu dapat meningkatkan risiko terjatuh.

Dalam materi yang diberitakan, penelitian kesehatan publik di Malaysia mencatat angka kejadian jatuh pada lansia berkisar antara 4,07 hingga 14,1 persen.

Naskah sumber juga menyebutkan bahwa lansia yang tinggal sendirian menghadapi risiko jatuh dua kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang tinggal bersama keluarga. Sementara itu, sebuah studi di pusat medis setempat menemukan bahwa sekitar 24 persen pasien lansia yang mengalami jatuh meninggal dalam satu tahun akibat komplikasi terkait.

Angka-angka tersebut perlu dipahami berdasarkan populasi dan metode penelitian masing-masing. Meski demikian, risiko jatuh menegaskan pentingnya pemeriksaan kesehatan, penataan rumah yang aman, serta sistem bantuan yang dapat diakses dengan cepat.

Teknologi pendeteksi jatuh dapat menjadi salah satu alat pendukung. Namun, perangkat tersebut tetap membutuhkan jaringan respons yang jelas agar peringatan yang dikirimkan benar-benar ditindaklanjuti.

Basis data terpadu lansia dinilai penting

Selain teknologi pemantauan, Hapsah mengusulkan pembentukan basis data terpadu bagi lansia yang hidup sendirian.

Sistem ini dapat melibatkan berbagai instansi, termasuk Departemen Kesejahteraan Sosial, kepolisian, Departemen Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, pemerintah daerah, serta pemimpin komunitas.

Selama ini, informasi mengenai kematian lansia yang hidup sendirian dapat tersebar di berbagai lembaga sesuai dengan tugas masing-masing. Integrasi data diharapkan membantu petugas mengenali individu yang membutuhkan perhatian lebih awal.

Melalui sistem yang terkoordinasi, data mengenai tingkat risiko dapat digunakan untuk memicu pemeriksaan lanjutan, menyiapkan rujukan bantuan, dan memastikan tindak lanjut dalam batas waktu yang telah ditentukan.

Pendekatan tersebut juga diusulkan untuk mendukung pelaksanaan Rencana Aksi Lansia Nasional Malaysia 2026–2030.

Meski menjanjikan, penerapan sistem digital tidak terlepas dari sejumlah tantangan. Keterbatasan biaya, rendahnya literasi digital, kendala bahasa, akses internet di daerah pedesaan, serta perlindungan privasi menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Karena itu, penggunaan teknologi perlu disertai subsidi konektivitas, aplikasi dengan tampilan yang mudah digunakan, pelatihan digital, dan pendampingan lintas generasi.

Konsep Smart Ageing Cities mulai dipertimbangkan

Upaya melindungi lansia juga dapat diintegrasikan dengan perencanaan kota. Direktur Jenderal PLANMalaysia, Datuk Dr. Alias Rameli, menyatakan bahwa agenda Smart City di Malaysia perlu diperkuat melalui konsep Smart Ageing.

Konsep ini menghubungkan kebutuhan lansia dengan pengembangan layanan publik, tata kelola pemerintahan, masyarakat, dan infrastruktur digital.

Pengembangannya dapat diarahkan menuju Smart Ageing Cities, yakni lingkungan perkotaan yang dirancang agar lebih aman, mudah diakses, dan mendukung kehidupan warga lanjut usia.

Pemanfaatan data spasial dapat membantu pemerintah memetakan wilayah dengan konsentrasi penduduk lansia yang tinggi. Informasi tersebut kemudian dapat menjadi dasar untuk merencanakan fasilitas kesehatan, layanan pendampingan, dan program perlindungan sosial.

Perak disebut sebagai salah satu wilayah yang berpotensi menjadi proyek percontohan Smart Ageing Township. Wilayah tersebut dilaporkan memiliki proporsi penduduk berusia 65 tahun ke atas tertinggi di Malaysia pada 2025.

Teknologi perlu berjalan bersama kepedulian sosial

Meningkatnya jumlah lansia yang tinggal sendirian menunjukkan bahwa persoalan penuaan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga dukungan sosial dan kesiapan lingkungan tempat tinggal.

Perangkat pintar dapat membantu mendeteksi keadaan darurat, tetapi teknologi saja tidak cukup. Ketersediaan keluarga, tetangga yang peduli, petugas komunitas, dan layanan kesehatan tetap menjadi bagian penting dalam sistem perlindungan lansia.

Kunjungan rutin, komunikasi yang konsisten, serta pendataan warga rentan dapat membantu memastikan bahwa lansia tidak terabaikan ketika membutuhkan pertolongan.

Pengalaman Malaysia juga menjadi pengingat bagi negara lain yang menghadapi perubahan demografi serupa, termasuk Indonesia. Persiapan menuju masyarakat menua perlu dilakukan melalui kombinasi layanan kesehatan, lingkungan yang ramah lansia, pemanfaatan teknologi, dan penguatan hubungan sosial.

Pada akhirnya, keberhasilan perlindungan lansia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan perangkat yang digunakan, tetapi juga oleh seberapa cepat bantuan diberikan dan seberapa kuat kepedulian masyarakat terhadap mereka yang hidup sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *