Golansia.com — Jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia terus meningkat seiring bertambahnya angka harapan hidup masyarakat. Di balik kondisi tersebut, perhatian terhadap kesehatan mental lansia menjadi isu yang semakin penting untuk diperhatikan bersama.
Berdasarkan data Statistik Penduduk Lanjut Usia 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 11,93 persen penduduk Indonesia kini masuk kategori lansia atau berusia di atas 60 tahun. Kondisi ini menandakan Indonesia telah memasuki fase ageing population sejak tahun 2021.
Meningkatnya populasi lansia memang menjadi indikator keberhasilan pembangunan. Namun di sisi lain, banyak lansia yang kini menghadapi persoalan kesepian akibat tinggal sendiri setelah ditinggal pasangan hidup atau anak-anak yang merantau.
Kesepian Lansia Bisa Berdampak pada Kesehatan Mental
Psikolog Klinis RS Kemenkes Surabaya, Mellyana Setyowati, M.Psi., Psikolog, mengatakan bahwa tinggal sendiri tidak selalu menyebabkan gangguan mental. Namun kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko masalah psikologis apabila disertai minim interaksi sosial dan kehilangan dukungan emosional.
Menurut Mellyana, lansia sering kali merasa kehilangan peran sosial, tidak lagi dibutuhkan, hingga kehilangan makna dalam kehidupan sehari-hari.
“Kesepian pada lansia bukan hanya tentang hidup sendiri, tetapi juga muncul ketika seseorang merasa tidak memiliki tempat berbagi dan kehilangan perhatian dari lingkungan sekitar,” ujarnya seperti dikutip dari Kompas.com.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut jika berlangsung lama dapat memicu kecemasan, depresi, gangguan tidur, penurunan motivasi, hingga memperburuk kondisi kesehatan fisik lansia.
Dukungan Sederhana Sangat Berarti bagi Lansia
Mellyana menegaskan bahwa hubungan sosial yang sehat memiliki peran besar dalam menjaga kesejahteraan psikologis lansia.
Menurutnya, perhatian sederhana seperti menelepon orang tua, mengajak berbincang, atau menemani mereka menikmati waktu santai dapat memberikan dampak emosional yang sangat positif.
“Interaksi sederhana bersama keluarga, tetangga, maupun teman sebaya bisa membantu lansia merasa tetap dihargai dan menjadi bagian dari lingkungan sosial,” katanya.
Ia menambahkan, sebagian besar lansia sebenarnya tidak membutuhkan perhatian yang berlebihan. Mereka hanya ingin tetap didengar, dihormati, dan merasa memiliki arti dalam kehidupan keluarga.
Masalah Mental Lansia Sering Tersembunyi di Balik Keluhan Fisik
Mellyana juga mengingatkan bahwa gangguan kesehatan mental pada lansia kerap tidak disadari karena muncul dalam bentuk keluhan fisik.
Banyak lansia mengeluhkan tubuh mudah lelah, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, atau menurunnya energi. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya tekanan psikologis.
Karena itu, keluarga dan lingkungan sekitar diminta lebih peka terhadap perubahan perilaku lansia.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain mulai menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan minat terhadap aktivitas favorit, mudah cemas, sering merasa tidak berguna, hingga kehilangan semangat menjalani aktivitas sehari-hari.
Menurut Mellyana, perubahan tersebut sering dianggap sebagai hal biasa akibat faktor usia, padahal bisa menjadi sinyal depresi yang membutuhkan pendampingan profesional.
Sumber: kompas

















