Example 728x250
Tips Sehat Manula

Lansia Lebih Pilih Obat Warung Saat Sakit, Pakar Sebut Ada Tanda Bahaya yang Tak Boleh Diabaikan

138
×

Lansia Lebih Pilih Obat Warung Saat Sakit, Pakar Sebut Ada Tanda Bahaya yang Tak Boleh Diabaikan

Sebarkan artikel ini
Lansia memilih obat warung
eorang lansia indonesia sedang meminum obat warung dirumahnya

Golansia.com – Meningkatnya kecenderungan lansia mengobati diri sendiri dengan membeli obat di warung atau apotek tanpa berkonsultasi ke tenaga kesehatan dinilai bukan sekadar persoalan perilaku individu. Fenomena ini justru dianggap sebagai sinyal adanya persoalan yang lebih mendasar dalam sistem pelayanan kesehatan bagi kelompok lanjut usia di Indonesia.

Pakar kesehatan dari Griffith University Australia dan Universitas YARSI, Dicky Budiman, menilai banyak lansia yang memilih swamedikasi bukan karena enggan berobat, melainkan karena berbagai hambatan yang membuat akses ke fasilitas kesehatan menjadi sulit dan melelahkan.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius mengingat jumlah lansia di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun.

Populasi Lansia Terus Bertambah

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia telah mencapai sekitar 29 juta jiwa atau sekitar 12 persen dari total populasi.

Angka tersebut diperkirakan terus meningkat hingga mendekati 20 persen pada tahun 2045. Dengan pertumbuhan yang signifikan itu, tren swamedikasi yang tidak terkontrol berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan masyarakat yang lebih besar.

Lansia memiliki kondisi fisiologis yang berbeda dengan orang dewasa pada umumnya. Mereka lebih rentan mengalami berbagai penyakit kronis, menggunakan banyak jenis obat sekaligus, serta memiliki respons tubuh yang berbeda terhadap pengobatan.

Swamedikasi Masih Sangat Tinggi

Data BPS tahun 2023 menunjukkan bahwa hampir 80 persen masyarakat Indonesia pernah melakukan pengobatan sendiri.

Sementara itu, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) mencatat lebih dari sepertiga rumah tangga di Indonesia menyimpan obat untuk kebutuhan swamedikasi. Sebagian di antaranya bahkan termasuk obat keras dan antibiotik yang diperoleh tanpa resep dokter.

Kondisi ini menjadi perhatian karena penggunaan obat tanpa pengawasan medis dapat meningkatkan risiko kesalahan penggunaan, terutama pada kelompok lansia yang memiliki kondisi kesehatan lebih kompleks.

Mengapa Lansia Memilih Mengobati Diri Sendiri?

Ada sejumlah faktor yang mendorong lansia lebih memilih membeli obat sendiri dibanding datang ke fasilitas kesehatan.

1. Tinggal Sendiri dan Minim Pendampingan

Sebagian lansia hidup sendiri atau hanya bersama pasangan yang juga sudah lanjut usia. Kondisi ini membuat mereka kesulitan mendapatkan bantuan saat harus berobat ke puskesmas atau rumah sakit.

2. Faktor Ekonomi dan Isolasi Sosial

Tidak sedikit lansia mengalami keterbatasan ekonomi, kehilangan pasangan hidup, atau tinggal jauh dari anak dan keluarga. Situasi tersebut dapat memicu isolasi sosial yang berdampak pada kesehatan fisik maupun mental.

Akibatnya, mereka lebih memilih mencari solusi praktis dengan membeli obat sendiri daripada meminta bantuan orang lain.

3. Kesenjangan Digital

Pasca pandemi Covid-19, banyak layanan kesehatan beralih ke sistem digital. Namun sebagian besar lansia belum terbiasa menggunakan teknologi untuk mengakses layanan kesehatan secara daring.

Hambatan ini membuat proses mendapatkan layanan kesehatan terasa semakin rumit.

4. Proses Berobat yang Melelahkan

Bagi lansia, antrean panjang dan prosedur administrasi yang berbelit bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga menyangkut kondisi kesehatan mereka.

Menunggu berjam-jam dapat memperparah nyeri sendi, meningkatkan risiko gangguan sirkulasi darah, memicu kelelahan, hingga memperburuk kondisi penyakit kronis yang sudah ada.

Risiko Serius di Balik Swamedikasi

Meski terlihat praktis, kebiasaan mengobati diri sendiri memiliki sejumlah risiko yang tidak boleh dianggap remeh.

Polifarmasi

Lansia sering mengonsumsi beberapa jenis obat sekaligus. Tanpa pengawasan dokter, kondisi ini dapat meningkatkan risiko efek samping, gangguan keseimbangan, kebingungan, hingga rawat inap.

Obat Menjadi Lebih Berisiko

Seiring bertambahnya usia, fungsi ginjal dan hati mengalami penurunan. Akibatnya, obat yang aman bagi orang dewasa belum tentu aman bagi lansia karena proses metabolisme tubuh yang berbeda.

Resistensi Antibiotik

Penggunaan antibiotik tanpa resep dokter dapat mempercepat munculnya resistensi bakteri, sehingga pengobatan menjadi lebih sulit ketika infeksi serius terjadi.

Menutupi Gejala Penyakit Berbahaya

Swamedikasi juga berpotensi menutupi gejala penyakit serius seperti infeksi berat, gangguan jantung, radang usus buntu, hingga sepsis. Kondisi ini bisa membuat diagnosis dan penanganan medis menjadi terlambat.

Solusi yang Perlu Dilakukan

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dicky Budiman mendorong pemerintah melakukan sejumlah langkah strategis.

Pertama, memperbaiki sistem pelayanan dengan menyediakan jalur khusus bagi lansia dan penyandang disabilitas di seluruh fasilitas kesehatan.

Kedua, memperluas layanan kunjungan rumah atau home visit bagi lansia yang kesulitan datang ke puskesmas maupun rumah sakit.

Ketiga, memperkuat peran kader kesehatan dan pendamping sosial agar lansia mendapatkan bantuan ketika membutuhkan layanan medis.

Selain itu, edukasi mengenai bahaya penggunaan obat tanpa pengawasan dokter juga perlu ditingkatkan, baik kepada lansia, keluarga, maupun tenaga farmasi.

Investasi untuk Masa Depan

Meningkatnya jumlah lansia di Indonesia menuntut sistem kesehatan yang lebih ramah dan inklusif. Pelayanan geriatri yang terintegrasi tidak hanya penting untuk menjaga kualitas hidup lansia saat ini, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi kesehatan masyarakat Indonesia.

Jika tidak diantisipasi sejak sekarang, tren swamedikasi di kalangan lansia berpotensi berkembang menjadi persoalan kesehatan yang lebih besar di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *