Example 728x250
BerandaKesehatanTips Lansia

Lansia Perlu Bahagia agar Tetap Sehat, Kemenkes Ingatkan Risiko Kanker hingga Penyakit Jantung

286
×

Lansia Perlu Bahagia agar Tetap Sehat, Kemenkes Ingatkan Risiko Kanker hingga Penyakit Jantung

Sebarkan artikel ini

Golansia.com — Menjaga kesehatan pada usia lanjut tidak cukup hanya dengan pola makan sehat dan aktivitas fisik. Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa kesehatan mental, termasuk rasa bahagia dan terbebas dari stres berkepanjangan, memiliki peran penting dalam menjaga kualitas hidup lansia sekaligus menekan risiko berbagai penyakit degeneratif.

Pesan tersebut disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2026. Pemerintah terus mendorong pendekatan pelayanan kesehatan lansia yang lebih holistik, yakni memadukan kesehatan fisik, mental, dan sosial agar masyarakat tetap sehat dan produktif di usia senja.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, dr. Imran Pambudi, mengatakan kondisi psikologis lansia memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan tubuh. Menurutnya, perasaan tidak bahagia dapat memicu respons negatif pada sel-sel tubuh yang berujung pada percepatan munculnya penyakit degeneratif.

“Kita perlu menyampaikan bahwa lansia itu harus bahagia. Karena kalau nggak bahagia tubuh kita juga akan meresponnya negatif. Sel-sel tubuh kita juga akan merespon negatif, sehingga akan muncul penyakit-penyakit degeneratif secara lebih cepat,” kata dr Imran usai Puncak Hari Lanjut Usia 2026, Sabtu (13/6/2026).

Ia menjelaskan, dampak dari kondisi psikologis yang buruk tidak bisa dianggap sepele. Respons negatif tubuh akibat stres atau ketidakbahagiaan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular.

“Kanker, kemudian penyakit tidak menular, darah kita akan lebih kental ya sehingga akan lebih memudahkan kita kena sakit jantung, hipertensi dan lain-lain,” ujar dr Imran.

Karena itu, menurut dia, upaya menjaga kesehatan lansia perlu dilakukan secara menyeluruh. Selain menjaga kebugaran fisik, kesehatan mental dan kebahagiaan juga harus menjadi perhatian agar kualitas hidup lansia tetap terjaga.

Untuk menjaga kondisi fisik, dr. Imran menyarankan lansia rutin melakukan aktivitas sederhana seperti berjalan kaki. Aktivitas tersebut dinilai efektif menjaga kesehatan jantung tanpa harus melakukan olahraga dengan intensitas tinggi.

“Jadi intinya kita selain tadi aktivitas fisik ya juga harus bahagia. Aktivitas fisik ini yang kami perlu sampaikan adalah tidak usah terlalu berat sebetulnya. Minimal jalan 30 menit sehari, seminggu minimal lima kali untuk bisa menjaga tubuh kita, jantungnya lebih sehat,” ucap dia.

Selain olahraga aerobik, lansia juga dianjurkan melakukan latihan kekuatan dengan beban ringan. Menurut dr. Imran, latihan tersebut penting untuk mempertahankan massa otot yang secara alami mulai berkurang seiring bertambahnya usia.

“Dan yang kedua ternyata angkat beban. Nah, kenapa? Karena ternyata secara fisiologis sejak usia kita 30 tahun otot kita itu berkurang. Nah, kalau kita berkurang kekuatan kita lemah akhirnya juga tidak bisa menopang badan dengan baik,” kata dia.

Ia menjelaskan, penurunan massa otot akan membuat tulang bekerja lebih keras menopang tubuh. Jika kondisi itu tidak diantisipasi, risiko osteoporosis pada lansia akan meningkat dan dapat mengganggu mobilitas maupun kemandirian mereka.

“Yang menopang hanya tulang sehingga akhirnya nanti kena osteoporosis ya dan lain-lain. Jadi kita harus ada angkat beban. Tidak usah beban barbel yang ratusan kilo jauh usah gitu ya,” ujar dr. Imran.

Menurut Kementerian Kesehatan, menjaga kesehatan lansia membutuhkan kombinasi antara aktivitas fisik yang rutin, pola makan bergizi, pemeriksaan kesehatan berkala, serta lingkungan sosial yang mendukung. Dengan pendekatan tersebut, lansia diharapkan dapat menjalani masa tua yang lebih sehat, mandiri, dan tetap memiliki kualitas hidup yang baik.(Dbs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *