Example 728x250
Kesehatan

Kenapa Lansia Bergerak Lebih Lambat?

281
×

Kenapa Lansia Bergerak Lebih Lambat?

Sebarkan artikel ini
Lansia Bergerak Lebih Lambat
Lansia Bergerak Lebih Lambat

Golansia.com – Sudah menjadi rahasia umum bahwa tubuh secara alami menjadi lebih lambat dalam pergerakannya seiring bertambahnya usia.

Beberapa penjelasan potensial terkait hal ini mencakup metabolisme yang lebih lambat, hilangnya massa otot, dan tubuh yang kurang aktif.

Kini, para peneliti dari University of Colorado Boulder mengatakan, orang lanjut usia (lansia) bergerak lebih lambat karena mereka menghabiskan lebih banyak energi untuk melakukan hal tersebut dibandingkan orang dewasa yang lebih muda.

Para ilmuwan percaya penelitian yang baru diterbitkan dalam jurnal The Journal of Neuroscience ini dapat membantu menghasilkan alat diagnostik baru untuk penyakit Parkinson dan multiple sclerosis.

Orang tua menghemat energi

Dalam penelitian ini, tim merekrut 84 orang sehat yang terbagi dalam dua kelompok: orang dewasa muda berusia 18–35 tahun dan lansia berusia 66–87 tahun.

Para peserta diminta untuk menyentuh target di layar sambil memegang lengan robotik di tangan kanan mereka, yang bekerja mirip seperti mouse komputer.

Hasil analisis menunjukkan bahwa lansia cenderung menyesuaikan gerakan mereka di waktu-waktu tertentu untuk menghemat energi yang mereka miliki—sesuatu yang tidak terlalu terlihat pada peserta yang lebih muda.

Menurut Alaa A. Ahmed, profesor di University of Colorado Boulder, seiring bertambahnya usia, sel-sel otot tampaknya menjadi kurang efisien dalam mengubah energi menjadi kekuatan. Akibatnya, gerakan pun melambat.

Penurunan dopamin

Selain itu, Ahmed dan timnya juga meneliti bagaimana penuaan memengaruhi “sirkuit hadiah” di otak, mengingat produksi dopamin—zat kimia yang berperan penting dalam motivasi dan penghargaan—menurun seiring bertambahnya usia.

Dalam percobaan, para peserta kembali diminta mengoperasikan kursor menggunakan lengan robot untuk mencapai target di layar. Setiap kali berhasil, mereka mendapat hadiah berupa suara “bing”.

Hasilnya, baik peserta muda maupun lansia sama-sama bergerak lebih cepat ketika tahu akan mendapat hadiah. Namun, caranya berbeda. Orang dewasa muda meningkatkan kecepatan gerakan lengan, sementara peserta lansia memilih untuk mempercepat waktu reaksi, memulai gerakan mereka rata-rata 17 milidetik lebih cepat.

Clifford Segil, ahli saraf di Providence Saint John’s Health Center, Santa Monica, menilai masih diperlukan riset lanjutan untuk memahami kaitan antara penuaan otak dan melambatnya gerakan tubuh. Meski demikian, ia mendukung pesan tersirat dari studi ini: pentingnya tetap aktif berolahraga di usia lanjut, meskipun tubuh memerlukan energi lebih banyak dibandingkan saat muda.

Sementara itu, Ryan Glatt, pelatih kesehatan otak senior di Pacific Neuroscience Institute, menilai temuan ini menarik karena menghubungkan gerakan lambat dengan upaya tubuh menghemat energi sekaligus cara otak memproses penghargaan. Namun, ia mengingatkan bahwa kesimpulan semacam ini memerlukan bukti neurologis yang lebih kuat agar tidak bersifat spekulatif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *