Example 728x250
BerandaBeritaKesehatan

Duh! Polusi Udara Picu Demensia, Studi Terbaru Mengungkap

435
×

Duh! Polusi Udara Picu Demensia, Studi Terbaru Mengungkap

Sebarkan artikel ini

Golansia.com — Kebiasaan memakai masker sebaiknya tidak sepenuhnya ditinggalkan meski pandemi sudah mereda. Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science mengungkap, paparan polusi udara—khususnya partikel halus PM2,5—berhubungan langsung dengan meningkatnya risiko demensia, terutama jenis Lewy body dementia (LBD).

“Tidak seperti usia atau genetika, ini adalah sesuatu yang dapat kita ubah,” kata Xiaobo Mao, ahli saraf di Johns Hopkins University dan peneliti utama studi, dikutip dari Guardian.

Paparan PM2,5 dan Risiko Demensia

Penelitian tersebut menganalisis rekam medis 56,5 juta pasien Medicare di Amerika Serikat dalam rentang 2000–2014. Dengan menggunakan kode pos tempat tinggal pasien, peneliti memperkirakan paparan jangka panjang terhadap polusi PM2,5.

Hasilnya, mereka menemukan bahwa paparan PM2,5 meningkatkan risiko Lewy body dementia—tipe demensia kedua paling umum setelah Alzheimer. LBD terbentuk dari penumpukan protein alpha-synuclein di otak. Protein ini sebenarnya penting untuk fungsi otak yang sehat, namun dalam jumlah berlebih dapat membunuh sel saraf, menyusutkan otak, dan menurunkan kemampuan kognitif.

Uji coba pada tikus semakin memperkuat temuan ini. Tikus yang dipaparkan polusi PM2,5 dua kali sehari selama 10 bulan mengalami kematian sel saraf dan penyusutan otak. Sebaliknya, tikus yang telah dimodifikasi agar tidak menghasilkan alpha-synuclein sebagian besar tidak terpengaruh.

Dampak Kesehatan Publik

Meski penelitian dilakukan pada hewan, para ilmuwan menilai bukti ini cukup kuat untuk mengaitkan polusi udara dengan risiko demensia pada manusia. Mao menekankan pentingnya kebijakan udara bersih.

“Dengan mengurangi paparan kolektif kita terhadap polusi udara, kita berpotensi mengurangi risiko berkembangnya kondisi neurodegeneratif yang merusak ini dalam skala populasi yang luas,” katanya.

Data Global dan Indonesia

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut polusi udara sebagai “ancaman kesehatan lingkungan terbesar” dengan 99 persen populasi dunia hidup di wilayah dengan kualitas udara di bawah standar aman. WHO juga memperkirakan 7 juta kematian prematur setiap tahun berkaitan dengan polusi udara.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat polusi udara berkontribusi terhadap meningkatnya penyakit kronis, mulai dari penyakit jantung, stroke, kanker paru, hingga demensia. Data Kemenkes menunjukkan prevalensi demensia di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 1,2 juta kasus pada 2023, dengan angka yang terus meningkat seiring bertambahnya usia harapan hidup penduduk.

Pentingnya Antisipasi

Temuan ini mengingatkan kembali pentingnya menjaga kebiasaan sehat, termasuk memakai masker saat kualitas udara menurun, mengurangi aktivitas di luar ruangan saat polusi tinggi, dan mendorong kebijakan publik untuk udara bersih. Upaya kolektif dinilai sangat krusial, tidak hanya untuk mengurangi risiko penyakit pernapasan, tetapi juga gangguan otak degeneratif yang dampaknya bisa lebih panjang.

(Dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *