Example 728x250
BeritaKesehatan

Cerita Nenek di India dengan Kondisi Langka: Memiliki Dua Kantong Empedu

571
×

Cerita Nenek di India dengan Kondisi Langka: Memiliki Dua Kantong Empedu

Sebarkan artikel ini
Cerita Nenek di India dengan Kondisi Langka: Memiliki Dua Kantong Empedu (foto ist)

Golansia.com — Seorang wanita berusia 60 tahun di New Delhi, India, mengalami kondisi langka yang membuatnya memiliki dua kantong empedu. Kisah ini baru terungkap setelah ia merasakan nyeri luar biasa di bagian perut selama beberapa bulan. Tak tahan dengan rasa sakit, ia akhirnya memutuskan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, dokter menemukan adanya batu empedu berukuran 4 cm. Namun, yang lebih mengejutkan adalah temuan bahwa wanita ini memiliki dua kantong empedu yang masing-masing telah berkembang sepenuhnya. Setiap kantong empedu tersebut memiliki saluran duktus sistikus sendiri yang terhubung ke saluran empedu utama yang sama. Kondisi ini, yang dikenal sebagai empedu duplex, sangat jarang terjadi dan hanya dialami oleh satu dari 34.000 orang di seluruh dunia.

Empedu duplex merupakan kondisi yang tidak sepenuhnya dipahami oleh dunia medis. Biasanya, kondisi ini berkaitan dengan kelainan perkembangan embrionik selama masa janin. Menurut Dr. Bhushan Bhole, seorang ahli transplantasi dan bedah dari PSRI Hospital India, empedu duplex merupakan salah satu anomali kongenital paling langka dalam sistem empedu. “Ini dialami oleh kurang dari 1 dari 34 ribu orang,” jelasnya seperti dilansir dari New Indian Express pada Senin (30/9/2024).

Dr. Bhole menambahkan bahwa kondisi ini terjadi ketika seseorang memiliki dua kantong empedu yang berfungsi secara mandiri, namun tetap berbagi sistem drainase empedu yang sama. Hal tersebut membuat kasus ini semakin rumit, terutama dengan ukuran batu empedu yang cukup besar. Dokter pun menyarankan agar dilakukan pembedahan yang cermat demi memperbaiki kondisi pasien.

Sebelumnya, pasien sempat ditawari untuk menjalani operasi dan endoskopi di rumah sakit lain. Namun, ia merasa ragu karena khawatir akan prosedur operasi terbuka. Setelah berbagai pertimbangan, diputuskan untuk melakukan operasi minimal invasif dengan teknik laparoskopi. Prosedur ini berjalan dengan lancar, dan pasien diperbolehkan pulang setelah kondisinya stabil.

“Pasien mengalami pemulihan yang baik pasca operasi. Ia dipantau selama 48 jam di rumah sakit dan kemudian dipulangkan dalam kondisi stabil,” pungkas Dr. Bhole.

Kisah ini menyoroti keajaiban dunia medis serta pentingnya penanganan tepat untuk kondisi-kondisi langka yang mungkin belum banyak diketahui.

Sumber: Detikcom

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *