Example 728x250
Penyakit Mata

Katarak Bisa Menyerang Usia Muda, Kenali 5 Faktor Risiko dan Cara Melindungi Mata

23
×

Katarak Bisa Menyerang Usia Muda, Kenali 5 Faktor Risiko dan Cara Melindungi Mata

Sebarkan artikel ini
Pemeriksaan mata pada orang dewasa muda untuk mendeteksi gangguan penglihatan dan risiko katarak.
Katarak tidak hanya terjadi pada lansia. Paparan sinar UV, diabetes, dan faktor kesehatan tertentu dapat meningkatkan risiko gangguan lensa mata pada usia lebih muda.

Golansia.com – Katarak selama ini sering dianggap sebagai gangguan penglihatan yang hanya dialami oleh orang lanjut usia. Padahal, kondisi yang menyebabkan lensa mata menjadi keruh ini juga dapat terjadi pada orang berusia muda, terutama jika memiliki faktor risiko tertentu.

Paparan sinar ultraviolet (UV), penyakit diabetes, penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang, hingga rabun jauh dengan ukuran minus tinggi merupakan beberapa faktor yang perlu diperhatikan untuk menjaga kesehatan mata.

Senior Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Eye Hospitals and Clinics, Prof. Dr. dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, SpM(K), PhD, menjelaskan bahwa lingkungan tempat tinggal dan kebiasaan sehari-hari turut berperan dalam kesehatan lensa mata.

Karena itu, menjaga penglihatan sebaiknya tidak menunggu sampai memasuki usia lanjut. Perlindungan mata dan kebiasaan hidup sehat perlu diterapkan sejak usia produktif.

1. Tinggal di Wilayah Tropis dan Sering Terpapar Sinar Matahari

Indonesia merupakan negara tropis yang memperoleh paparan sinar matahari sepanjang tahun. Kondisi ini membuat perlindungan terhadap sinar ultraviolet menjadi salah satu perhatian penting dalam menjaga kesehatan mata.

Menurut dr. Tjahjono, masyarakat yang tinggal di wilayah tropis berpotensi mengalami katarak lebih awal dibandingkan masyarakat di wilayah non-tropis. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah paparan sinar matahari dalam jangka panjang.

Meski cahaya diperlukan agar manusia dapat melihat, paparan ultraviolet yang berlebihan dapat meningkatkan risiko kerusakan pada lensa mata.

Kebiasaan bekerja di lapangan, berolahraga di luar ruangan, atau menghabiskan banyak waktu di bawah terik matahari perlu diimbangi dengan perlindungan yang memadai.

Kepala Lions Eye Bank Jakarta (LEBJ) sekaligus spesialis mata JEC Eye Hospitals and Clinics, dr. Sharita R. Siregar, SpM(K), menyarankan penggunaan kacamata hitam untuk membantu melindungi mata dari paparan UV.

Selain kacamata hitam dengan perlindungan UV yang memadai, penggunaan topi bertepi lebar juga dapat membantu mengurangi paparan sinar matahari langsung ke mata.

Langkah sederhana ini penting diterapkan sejak muda, terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas luar ruangan cukup tinggi.

2. Diabetes Dapat Meningkatkan Risiko Katarak

Faktor berikutnya adalah kondisi kesehatan, khususnya diabetes. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat memengaruhi struktur dan fungsi lensa mata.

Dr. Tjahjono menjelaskan bahwa gangguan metabolisme pada penderita diabetes dapat mempercepat terjadinya katarak.

Oleh sebab itu, menjaga kadar gula darah tetap terkendali menjadi bagian penting dari upaya melindungi kesehatan mata.

Orang yang memiliki diabetes dianjurkan menjalani pemeriksaan mata secara berkala sesuai saran tenaga medis. Pemeriksaan diperlukan untuk mendeteksi perubahan penglihatan maupun komplikasi mata sedini mungkin.

Perlu diingat, katarak bukan satu-satunya gangguan mata yang berkaitan dengan diabetes. Penyakit ini juga dapat menimbulkan komplikasi lain yang memerlukan penanganan khusus.

3. Penggunaan Obat Tertentu dalam Jangka Panjang

Tidak semua obat menimbulkan masalah pada lensa mata. Namun, penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko katarak pada sebagian orang.

Dr. Tjahjono mencontohkan obat golongan kortikosteroid atau steroid yang dapat digunakan dalam penanganan penyakit tertentu, termasuk asma. Obat-obatan untuk kondisi medis lain juga perlu diperhatikan sesuai jenis dan cara penggunaannya.

Risiko tersebut tidak berarti pasien harus menghentikan pengobatan secara mandiri. Obat yang diresepkan dokter tetap harus digunakan sesuai petunjuk.

Jika menjalani pengobatan jangka panjang, terutama dengan obat yang berpotensi memengaruhi mata, konsultasikan kebutuhan pemantauan kesehatan mata kepada dokter.

Langkah ini membantu memastikan penyakit yang mendasari tetap tertangani sekaligus mengurangi risiko efek samping yang dapat dicegah.

4. Rabun Jauh dengan Ukuran Minus Tinggi

Rabun jauh atau miopia dengan ukuran minus tinggi juga perlu mendapat perhatian. Kondisi ini berbeda dari katarak, tetapi dapat berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan mata tertentu.

Dr. Tjahjono menyebutkan bahwa orang dengan ukuran minus sangat tinggi, misalnya mencapai minus 15 hingga minus 20, dapat mengalami katarak pada usia yang lebih muda.

Karena itu, seseorang dengan miopia tinggi sebaiknya tidak hanya mengandalkan penggunaan kacamata untuk memperjelas penglihatan. Pemeriksaan mata menyeluruh juga diperlukan untuk memantau kondisi lensa, retina, dan bagian mata lainnya.

Apabila penglihatan berubah, terasa semakin kabur, atau tidak lagi membaik dengan koreksi kacamata seperti biasanya, segera periksakan mata ke dokter spesialis mata.

5. Pola Makan Tidak Seimbang dan Kurangnya Asupan Gizi

Nutrisi turut mendukung kesehatan mata. Namun, anggapan bahwa makan wortel saja sudah cukup untuk mencegah katarak perlu diluruskan.

Wortel memang mengandung beta-karoten yang dapat diubah tubuh menjadi vitamin A. Nutrisi ini penting untuk fungsi penglihatan normal, terutama dalam proses melihat pada kondisi cahaya redup.

Meski demikian, kesehatan lensa mata tidak bergantung pada satu jenis makanan atau vitamin saja.

Dr. Tjahjono menekankan pentingnya vitamin C dalam membantu tubuh menghadapi stres oksidatif. Berbagai jenis sayuran dan buah-buahan dapat menjadi sumber vitamin serta antioksidan yang mendukung kesehatan tubuh.

Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, masyarakat dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang mencakup sayuran, buah-buahan, sumber protein, biji-bijian, dan makanan lain sesuai kebutuhan.

Pola makan yang baik merupakan bagian dari pemeliharaan kesehatan mata, tetapi tidak menjamin seseorang terbebas sepenuhnya dari katarak.

Katarak Terbentuk Secara Bertahap Selama Bertahun-tahun

Katarak umumnya berkembang secara perlahan. Perubahan pada lensa mata dapat berlangsung selama bertahun-tahun sebelum seseorang menyadari gangguan penglihatan yang cukup mengganggu aktivitas.

Dr. Tjahjono menyebutkan bahwa proses pembentukan katarak dapat berlangsung sekitar 15 hingga 30 tahun. Lamanya proses ini dapat berbeda pada setiap orang, bergantung pada usia, kondisi kesehatan, faktor genetik, paparan lingkungan, dan faktor risiko lainnya.

Artinya, seseorang yang mengalami katarak pada usia 60 tahun tidak serta-merta dapat disimpulkan mulai mengalami kerusakan lensa sejak usia 30 tahun akibat pola makan yang buruk. Prosesnya bersifat kompleks dan tidak hanya ditentukan oleh satu kebiasaan.

Karena berkembang perlahan, katarak juga dapat luput dari perhatian pada tahap awal. Gejalanya antara lain penglihatan berkabut, warna tampak kurang cerah, lebih silau saat melihat cahaya, dan kesulitan melihat dengan jelas pada malam hari.

Jika mengalami gejala tersebut, pemeriksaan oleh dokter spesialis mata diperlukan untuk memastikan penyebabnya dan menentukan penanganan yang sesuai.

Cara Menjaga Kesehatan Mata Sejak Usia Muda

Ada sejumlah kebiasaan yang dapat diterapkan untuk membantu menjaga kesehatan mata dan mengurangi faktor risiko katarak.

  • Gunakan kacamata dengan perlindungan UV. Pilih kacamata hitam yang memberikan perlindungan UVA dan UVB saat beraktivitas di luar ruangan.
  • Kenakan topi bertepi lebar. Perlindungan tambahan ini membantu mengurangi paparan sinar matahari langsung ke mata.
  • Kendalikan diabetes. Ikuti rencana pengobatan dan anjuran pemeriksaan mata dari dokter.
  • Jangan mengubah penggunaan obat sendiri. Konsultasikan risiko efek samping obat jangka panjang kepada tenaga medis.
  • Konsumsi makanan bergizi seimbang. Variasikan sumber vitamin, mineral, protein, dan antioksidan dalam menu harian.
  • Lakukan pemeriksaan mata secara berkala. Frekuensi pemeriksaan dapat disesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, dan faktor risiko masing-masing.

Katarak memang lebih sering ditemukan pada usia lanjut, tetapi bukan berarti kelompok usia muda dapat mengabaikan kesehatan mata. Perlindungan dari sinar UV, pengendalian penyakit kronis, penggunaan obat secara tepat, dan pemeriksaan mata merupakan langkah penting untuk menjaga kualitas penglihatan dalam jangka panjang.

Menjaga kesehatan mata sebaiknya dimulai sebelum gangguan muncul. Dengan mengenali faktor risiko sejak dini, masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan yang lebih tepat dan mencari pertolongan medis ketika muncul perubahan penglihatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *