Example 728x250
BerandaKesehatanTips Sehat Manula

Studi Ungkap Dua Jenis Olahraga yang Efektif Menurunkan Tekanan Darah dalam 24 Jam

180
×

Studi Ungkap Dua Jenis Olahraga yang Efektif Menurunkan Tekanan Darah dalam 24 Jam

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi olah raga

Golansia.com — Hipertensi masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di dunia karena sering berkembang tanpa gejala, tetapi dapat memicu komplikasi serius seperti serangan jantung, stroke, hingga gagal ginjal. Di tengah tingginya angka penderita tekanan darah tinggi, kabar baik datang dari dunia penelitian yang menemukan bahwa jenis olahraga tertentu dapat membantu menurunkan tekanan darah bahkan hanya dalam waktu 24 jam.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari 1,2 miliar orang dewasa di seluruh dunia hidup dengan hipertensi. Namun, sebagian besar penderita tidak menyadari kondisinya atau belum berhasil mengendalikan tekanan darah hingga mencapai angka yang aman.

Kepala Kardiologi di Beth Israel Deaconess Hospital-Needham sekaligus pengajar kedokteran di Harvard Medical School, Cliff Berger, M.D., F.A.C.C., mengungkapkan bahwa di Amerika Serikat saja, hipertensi memengaruhi sekitar 45 persen orang dewasa.

“Yang memprihatinkan adalah sekitar setengah dari penderita hipertensi tidak memiliki kontrol tekanan darah yang adekuat, yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, dan penyakit ginjal. Sangat penting untuk mengobati tekanan darah tinggi pada usia berapa pun,” ujar Dr. Berger.

Meskipun obat-obatan medis berperan penting dalam pengendalian hipertensi, banyak pasien masih mengalami kesulitan menjaga tekanan darah tetap stabil dalam jangka panjang.

Sebagai informasi, seseorang didiagnosis mengalami hipertensi jika memiliki tekanan darah sistolik di atas 130 mmHg atau tekanan darah diastolik di atas 80 mmHg.

Menurut para ahli, perubahan gaya hidup tetap menjadi salah satu kunci utama dalam pengelolaan hipertensi, termasuk menjaga pola makan sehat, mengurangi asupan garam, menghindari rokok, serta rutin berolahraga.

Temuan terbaru yang dipublikasikan dalam British Journal of Sports Medicine menunjukkan bahwa beberapa jenis aktivitas fisik tertentu memberikan manfaat yang lebih besar dibanding olahraga lainnya dalam menurunkan tekanan darah.

 

Dua Kombinasi Olahraga Paling Efektif

Studi tersebut merupakan tinjauan sistematis berskala besar dan meta-analisis yang mengumpulkan data dari 31 penelitian mengenai olahraga dan tekanan darah tinggi.

Penelitian ini melibatkan total 1.345 penderita hipertensi, dikutip dari Prevention.

Para peneliti mengamati berbagai jenis aktivitas fisik, mulai dari latihan aerobik, high-intensity interval training (HIIT) atau latihan interval intensitas tinggi, latihan kombinasi, hingga pilates.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua jenis latihan yang paling efektif dalam menurunkan tekanan darah.

Penelitian tersebut memaparkan bahwa latihan aerobik, seperti jogging atau bersepeda, yang dikombinasikan dengan latihan beban (resistensi), serta latihan HIIT, secara signifikan mampu menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada penderita hipertensi dalam periode 24 jam.

Temuan ini menunjukkan bahwa tubuh dapat merespons aktivitas fisik dengan relatif cepat melalui pelebaran pembuluh darah, peningkatan fungsi jantung, serta perbaikan sirkulasi darah setelah berolahraga.

Lebih lanjut, melakukan HIIT, latihan aerobik, atau kombinasi keduanya selama periode empat minggu terbukti efektif menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik hingga ke tingkat yang signifikan secara klinis.

Bagi penderita hipertensi, hasil ini menjadi kabar menggembirakan karena menunjukkan bahwa olahraga tidak hanya memberikan manfaat jangka panjang, tetapi juga dapat membantu memperbaiki tekanan darah dalam waktu relatif singkat.

Mengenai temuan ini, Dr. Berger menjelaskan bahwa riset terbaru tersebut semakin memperkuat bukti-bukti medis yang selama ini telah menunjukkan pentingnya aktivitas fisik dalam pengendalian tekanan darah tinggi.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa olahraga bukan pengganti pengobatan yang telah diresepkan dokter. Aktivitas fisik sebaiknya menjadi bagian dari pendekatan menyeluruh yang mencakup pola makan sehat, menjaga berat badan ideal, mengelola stres, serta mematuhi terapi yang diberikan tenaga kesehatan.(DBS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *