Example 728x250
Beranda

Kasus Gagal Ginjal di Indonesia Melonjak, Kebutuhan Fasilitas Cuci Darah Makin Mendesak

553
×

Kasus Gagal Ginjal di Indonesia Melonjak, Kebutuhan Fasilitas Cuci Darah Makin Mendesak

Sebarkan artikel ini
foto istimewa

Golansia.com — Penyakit Ginjal Kronis (PGK) kini menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat Indonesia, memengaruhi tidak hanya lansia, tetapi juga anak-anak, remaja, dan dewasa muda. Jumlah pasien gagal ginjal di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya, mencerminkan perlunya perhatian khusus terhadap upaya perawatan yang memadai.

Mengutip data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), jumlah pasien gagal ginjal di Indonesia mencapai 1.501.016 kasus pada tahun 2023. Data JKN menunjukkan bahwa pada 2021, gagal ginjal tercatat sebagai diagnosis sekunder tertinggi kedua. Kebutuhan cuci darah pun meningkat tajam, dengan prosedur cuci darah menjadi layanan medis terbanyak yang dilakukan di tahun 2021.

Menurut prediksi, jika tidak ditangani dengan baik, PGK berpotensi menjadi penyebab kematian kelima tertinggi di dunia pada tahun 2040. Penyakit seperti hipertensi, diabetes nefropati, dan glomerulopati kerap menjadi pemicu utama PGK, yang akhirnya membutuhkan prosedur cuci darah sebagai solusi perawatan jangka panjang.

Untuk membantu mengatasi kebutuhan ini, PT Itama Ranoraya Tbk bekerja sama dengan PT Kencana Pilar Mandiri dan PT Trimitra Sehati, berupaya mendistribusikan mesin hemodialisis ke berbagai daerah di seluruh Indonesia. Saat ini, puluhan kontrak kerja sama operasional mesin hemodialisis telah disepakati dengan sejumlah rumah sakit dan klinik utama, mencakup wilayah seperti Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Lampung, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, hingga ke wilayah Kalimantan.

“Distribusi mesin hemodialisis ini adalah langkah konkret kami untuk memberikan akses yang lebih baik kepada pasien ginjal kronis di seluruh Indonesia. Kami ingin memastikan semua pasien, terutama di daerah dengan jumlah kasus tertinggi, dapat memperoleh perawatan dengan mudah dan biaya yang relatif terjangkau,” ungkap Direktur Utama PT Itama Ranoraya Tbk Heru Firdausi Syarif.

Langkah ini diharapkan dapat mengurangi beban keluarga pasien PGK di berbagai wilayah, sekaligus mendukung upaya pemerintah memperkuat layanan kesehatan nasional.

Selain perawatan, PGK juga dapat dicegah dengan menjaga gaya hidup sehat, seperti konsumsi air putih minimal 2 liter per hari, menghindari minuman manis, membatasi asupan garam, tidak merokok, berolahraga rutin, dan menjaga berat badan ideal. Pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala juga dianjurkan guna mendeteksi dini potensi masalah kesehatan ginjal.

Melalui upaya kolaboratif dalam pencegahan dan perawatan, diharapkan masyarakat Indonesia dapat menjaga kesehatan ginjal dan mengurangi risiko serta komplikasi akibat PGK.

DBS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *