Example 728x250
BeritaKesehatanTips Sehat Manula

62 Kasus “Super Flu” Sudah Terdeteksi di RI, Kasus Terbanyak di Jatim dan Kalimantan Selatan

381
×

62 Kasus “Super Flu” Sudah Terdeteksi di RI, Kasus Terbanyak di Jatim dan Kalimantan Selatan

Sebarkan artikel ini

Golansia.com — Kasus infeksi influenza A (H3N2) subclade K atau yang populer disebut “super flu” telah terkonfirmasi menyebar di sejumlah wilayah Indonesia hingga akhir Desember 2025. Berdasarkan whole genome sequencing (WGS) yang diselesaikan pada 25 Desember lalu, total 62 kasus telah teridentifikasi di delapan provinsi, dengan konsentrasi tertinggi ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Penyebaran virus ini terutama memengaruhi perempuan dan anak-anak, meskipun tren kasus influenza nasional secara keseluruhan dilaporkan menurun dalam beberapa pekan terakhir.

 

Sebaran Kasus dan Profil Pasien

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan subclade K telah terdeteksi sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di berbagai fasilitas kesehatan. Rinciannya, dari 62 kasus yang tercatat: 23 kasus berada di Jawa Timur, 18 kasus di Kalimantan Selatan, dan 10 kasus di Jawa Barat. Provinsi lain yang mencatat kasus adalah Sumatra Selatan (5 kasus), Sumatra Utara (3), serta Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan DI Yogyakarta masing-masing satu kasus. Mayoritas pasien adalah perempuan, sekitar 64,5 persen, dan kelompok usia anak-anak menjadi yang paling banyak terpapar.

Pandangan Kemenkes dan WHO

“Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A (H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan,” ujar Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, Prima Yosephine, dikutip dari detikHealth. Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa meskipun varian tersebut menyebar, tidak ada bukti peningkatan keparahan penyakit dibandingkan influenza musiman pada umumnya.

 

Karakteristik Mutasi dan Gejala Klinis

Meski termasuk bagian dari flu musiman, spesialis paru dari Rumah Sakit Paru Persahabatan, Agus Dwi Susanto, menekankan bahwa subclade K memiliki karakter mutasi yang berbeda dan cenderung lebih agresif dalam proses infeksinya. Laju replikasi varian ini lebih cepat di saluran napas sehingga jumlah virus yang diproduksi meningkat, dan masa inkubasinya cenderung lebih singkat sehingga gejala muncul lebih cepat dibandingkan influenza biasa maupun COVID-19. Secara klinis, pasien sering menunjukkan gejala yang cukup berat, antara lain demam tinggi, nyeri otot berat, kelelahan ekstrem, batuk kering, sakit kepala, dan sakit tenggorokan yang berat.

“Seperti demam tinggi (39-41 derajat Celsius); nyeri otot yang berat; kelelahan/lemas ekstrem; batuk kering; sakit kepala dan tenggorokan yang berat. Sedangkan flu biasa dan COVID yg saat ini gejalanya ringan sampai sedang,” tutur Agus.

Gejala ini menunjukkan perbedaan intensitas dibandingkan flu musiman pada umumnya.

Upaya Pencegahan dan Imbauan Kesehatan

Mengingat penyebaran yang sudah mencakup delapan provinsi, pencegahan menjadi langkah penting yang harus dilakukan masyarakat. Agus memberikan sejumlah saran praktis untuk mengurangi risiko penularan, terutama pada masa transisi cuaca dan musim hujan yang dapat memperburuk kondisi pernapasan.

“Pakai masker bila kontak dengan penderita atau di keramaian; vaksinasi influenza. Bila sakit flu jangan batuk, bersin sembarangan. Tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin,” saran Agus.

Selain itu, otoritas kesehatan mendorong masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta mempertimbangkan vaksinasi influenza tahunan bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta.

Situasi Global dan Tren Influenza

Secara global, tren kasus influenza A (H3N2) meningkat di sejumlah negara belahan utara saat memasuki musim dingin, seperti di Amerika Serikat, yang melaporkan lonjakan kasus influenza; subclade K bahkan mendominasi sebagian besar kasus H3N2 yang dianalisis. Namun, efektivitas vaksin influenza yang tersedia tetap membantu menurunkan risiko sakit berat dan komplikasi pada individu yang divaksinasi.

Dengan penataan surveilans yang berkesinambungan dan perilaku pencegahan yang disiplin, otoritas kesehatan berharap penyebaran “super flu” dapat dikendalikan tanpa membebani fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia.(DBS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *