Example 728x250
Kesehatan

Stigma di Balik Fenomena Grey Divorce, Ketika Pasangan Lansia Memilih Berpisah

212
×

Stigma di Balik Fenomena Grey Divorce, Ketika Pasangan Lansia Memilih Berpisah

Sebarkan artikel ini
grey divorce
Pasangan Lansia

Golansia.com – Perceraian kerap menimbulkan stigma di tengah masyarakat. Pandangan negatif tersebut terasa semakin kuat ketika perpisahan terjadi pada pasangan suami istri lanjut usia, atau yang dikenal dengan istilah grey divorce.

Grey divorce merujuk pada perceraian yang terjadi pada pasangan berusia 50 tahun ke atas, umumnya setelah menjalani pernikahan selama lebih dari dua dekade. Fenomena ini kerap mengundang keheranan publik, karena dianggap bertentangan dengan anggapan bahwa pernikahan panjang identik dengan kematangan dan keharmonisan.

Psikolog klinis sekaligus pendiri Cup of Stories, Fitri Jayanthi, M.Psi., mengungkapkan bahwa pasangan lansia yang bercerai sering kali harus menghadapi penilaian sosial yang tidak ringan. Salah satu komentar yang paling sering mereka dengar adalah pertanyaan mengapa perceraian bisa terjadi setelah puluhan tahun hidup bersama.

Anggapan “Sudah Pasti Saling Memahami”

Stigma tersebut muncul karena sebagian masyarakat beranggapan bahwa pasangan yang telah lama menikah seharusnya sudah saling mengenal karakter masing-masing. Dengan pemahaman dan komunikasi yang dianggap matang, konflik dinilai dapat diselesaikan tanpa harus berujung pada perceraian.

Padahal, realitas kehidupan rumah tangga tidak selalu sesederhana itu. Konflik yang terpendam, kebutuhan emosional yang tak terpenuhi, hingga perubahan dinamika hubungan di usia senja bisa menjadi faktor yang mendorong pasangan mengambil keputusan berpisah.

Selain itu, muncul pula kekhawatiran dari lingkungan sekitar mengenai masa depan para lansia yang bercerai, seperti siapa yang akan merawat mereka ketika usia semakin menua. Pandangan semacam ini kerap menambah tekanan psikologis bagi pasangan yang sudah berada dalam kondisi emosional yang rentan.

Rentan Menjadi Bahan Gunjingan

Tak hanya stigma, pasangan lansia yang bercerai juga sering menjadi sasaran pembicaraan orang lain. Berbeda dengan perceraian di usia muda yang kerap dikaitkan dengan ketidaksiapan menikah, grey divorce justru dianggap sebagai “kegagalan” dari pernikahan yang selama ini dipandang ideal.

Menurut Fitri, banyak orang menjadikan perceraian di usia lanjut sebagai bahan spekulasi. Tak jarang, muncul dugaan adanya orang ketiga atau konflik tersembunyi, meskipun tidak ada bukti yang mendasarinya. Hal ini membuat pasangan yang bercerai semakin tertekan dan merasa dihakimi oleh lingkungan sekitar.

Pentingnya Dukungan Emosional

Tekanan sosial dan stigma yang melekat dapat berdampak besar pada kondisi mental dan emosional pasangan lansia yang baru saja berpisah. Oleh karena itu, keberadaan support system yang sehat dan empatik menjadi sangat penting agar mereka dapat bangkit dan melanjutkan hidup dengan lebih baik.

Fitri menekankan bahwa cara terbaik untuk memberikan dukungan bukanlah dengan mempertanyakan alasan perceraian. Alih-alih terus bertanya “mengapa”, ia menyarankan agar orang terdekat lebih fokus pada pertanyaan “apa”.

Pendekatan ini dinilai lebih membangun karena membantu individu yang bercerai melihat langkah konkret ke depan, bukan terjebak pada masa lalu yang justru memperdalam luka emosional. Sikap empati dan kesiapan untuk membantu jauh lebih dibutuhkan dibandingkan rasa ingin tahu yang berlebihan.

Memahami Grey Divorce dengan Empati

Fenomena grey divorce menunjukkan bahwa setiap fase kehidupan memiliki tantangan tersendiri, termasuk dalam pernikahan. Keputusan berpisah di usia lanjut bukanlah hal yang mudah, dan sering kali diambil setelah pertimbangan panjang.

Dengan memahami konteks dan mengurangi stigma, masyarakat diharapkan dapat bersikap lebih bijak dan empatik. Dukungan yang tepat tidak hanya membantu pasangan lansia menghadapi masa transisi, tetapi juga menciptakan lingkungan sosial yang lebih manusiawi dan penuh pengertian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *