Berita

Selamat dari Tsunami dengan Memanjat Pohon, Kisah Nelayan Lansia di Reok

161
Nelayan lansia di Reok yang selamat dari tsunami Flores 2026
Abdul Hamid Jamaludin, nelayan berusia 69 tahun asal Reok, Manggarai, selamat dari tsunami setelah memanjat pohon saat gelombang menerjang pesisir.

Golansia.com – Di tengah dahsyatnya gempa dan tsunami yang menerjang pesisir Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), kisah Abdul Hamid Jamaludin (69) menjadi gambaran perjuangan warga menyelamatkan diri dari bencana.

Nelayan asal Nanga Banda, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, itu selamat setelah memanjat pohon ketika gelombang tsunami menerjang kawasan tempat tinggalnya.

Peristiwa tersebut terjadi setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Berdasarkan catatan BMKG, gempa terjadi pukul 04.58 WIB dengan kedalaman sekitar 15 kilometer dan episenter berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo. Gempa tersebut memicu tsunami di sejumlah wilayah pesisir.

Sedang Melaut Saat Gempa Mengguncang

Saat bencana terjadi, Abdul sedang berada di laut untuk menangkap ikan. Ia tengah melepaskan pukat ketika merasakan getaran gempa.

Abdul kemudian menyadari bahwa kondisi laut berubah. Ia pun segera berusaha menarik pukat dan mengarahkan perahunya kembali menuju pantai.

Namun, situasi berubah dengan cepat.

Perahu kayu miliknya ternyata sulit mendekati daratan. Abdul akhirnya turun dari perahu dan berusaha menariknya sambil berjalan kaki.

Saat itulah ia melihat gelombang besar datang dari arah laut.

“Saat itu saya lihat ke arah laut, gelombang seperti gunung.”

Abdul akhirnya meninggalkan perahunya dan berlari mencari tempat yang lebih tinggi. Karena gelombang sudah mendekat, ia memutuskan memanjat sebuah pohon.

Dari atas pohon, Abdul menyaksikan air laut meluap dan menerjang kawasan tempat tinggalnya.

Pondok tempat ia biasa beraktivitas bahkan sempat terlihat seperti tenggelam diterjang air.

Gelombang Tsunami Diperkirakan Mencapai Tiga Meter

Abdul memperkirakan tinggi gelombang yang menerjang kawasan tersebut sekitar tiga meter.

Menurutnya, ketinggian air bahkan mencapai sekitar setengah bagian pohon tempat ia menyelamatkan diri.

Peristiwa itu juga membuat perahu kayunya mengalami kerusakan. Jaring ikan koyak, bagian perahu patah, dan jangkar miliknya turut terdampak.

Kini, perahu tersebut terdampar sekitar 30 meter dari garis pantai dan tidak lagi dalam kondisi layak untuk digunakan mencari ikan.

Padahal, bagi Abdul, perahu bukan sekadar alat transportasi di laut. Perahu merupakan sumber penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Panik Memikirkan Istri

Di tengah kepanikan menyelamatkan diri, Abdul tidak hanya memikirkan keselamatannya sendiri.

Ia teringat istrinya, Juleha Usman (63), yang saat itu berada di pondok.

Setelah kondisi mulai memungkinkan, Abdul kembali mencari istrinya. Namun, Juleha tidak berada di dalam pondok.

Rupanya, Juleha sudah lebih dahulu menyelamatkan diri dengan berlari menuju jalan raya.

Keduanya akhirnya selamat dari terjangan tsunami.

Pondok mereka juga masih berdiri dan tidak mengalami kerusakan berarti. Namun, sejumlah barang berharga yang berada di dalamnya tidak berhasil diselamatkan.

Uang Rp20 Juta Ikut Hanyut

Bencana tersebut tidak hanya merusak peralatan Abdul untuk mencari nafkah. Uang dan emas yang disimpan pasangan tersebut juga ikut hilang terbawa gelombang.

Abdul mengatakan, uang sekitar Rp20 juta yang disimpannya merupakan tabungan untuk membayar perahu.

“Saya ada simpan uang Rp20 juta. Hilang semua. Padahal uang itu mau bayar perahu.”

Kehilangan tersebut membuat Abdul semakin terpukul. Sebagai nelayan, kerusakan perahu berarti hilangnya salah satu sarana utama untuk mendapatkan penghasilan.

Dalam kondisi setelah bencana, ia mengaku belum memperoleh bantuan hingga sekitar sepuluh hari setelah tsunami.

Gempa Flores M7,7 Memicu Tsunami

Gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 merupakan gempa dangkal dengan magnitudo 7,7. BMKG menyebut gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme sesar naik (thrust fault).

Hasil pemodelan BMKG menunjukkan sejumlah wilayah pesisir NTT berada dalam status ancaman tsunami. Untuk wilayah Manggarai bagian utara, estimasi tinggi tsunami masuk dalam kategori Siaga 0,5–3 meter.

BMKG kemudian mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB setelah tidak lagi menemukan kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di wilayah terdampak.

Beberapa hari setelah kejadian, aktivitas gempa susulan masih berlangsung. BMKG mencatat ribuan gempa susulan pascagempa utama, termasuk sejumlah gempa yang dirasakan masyarakat.

Korban Gempa Terus Didata

Dampak gempa dan tsunami Flores tidak hanya dirasakan Abdul dan masyarakat pesisir Manggarai. Bencana tersebut berdampak di sejumlah wilayah NTT dan daerah sekitarnya.

Hingga 25 Agustus 2026, BNPB dilaporkan mencatat 103 orang meninggal dunia dan 1.666 orang mengalami luka-luka akibat gempa tersebut.

Kisah Abdul menjadi pengingat bahwa ketika gempa kuat terjadi di wilayah pesisir, masyarakat perlu segera memperhatikan tanda-tanda tsunami dan mengikuti arahan evakuasi.

BMKG sejak awal mengimbau masyarakat di wilayah yang mendapat status ancaman untuk menjauhi pantai dan segera melakukan evakuasi sesuai tingkat peringatan.

Bagi Abdul, keputusan untuk meninggalkan perahu dan memanjat pohon mungkin telah menyelamatkan nyawanya.

Perahunya bisa rusak, harta benda bisa hilang, tetapi keselamatan jiwa tetap menjadi hal yang paling berharga setelah bencana datang.

Sumber: kompas

Exit mobile version