Berita

Lansia 91 Tahun di China Sering Bicara dengan Televisi, Kehadiran “Anak Sementara” Mengubah Hidupnya

20
Ilustrasi lansia perempuan berusia 91 tahun di China yang mendapatkan pendampingan dan perhatian dari pekerja jasa pendamping lansia
Jasa pendamping lansia di China membantu warga lanjut usia yang tinggal sendiri melalui bantuan sehari-hari dan teman berbincang.

Golansia.com – Kesepian bisa menjadi beban berat bagi orang lanjut usia yang tinggal seorang diri, terlebih ketika pasangan hidup telah tiada dan keluarga tidak selalu bisa hadir. Di China, kondisi ini mendorong munculnya layanan pendamping berbayar yang bukan hanya membantu pekerjaan sehari-hari, tetapi juga memberikan teman berbicara bagi para lansia.

Kisah Yang, perempuan berusia 91 tahun yang tinggal di pinggiran Beijing, menjadi gambaran nyata betapa berharganya kehadiran seseorang bagi mereka yang menjalani hari-hari dalam kesendirian.

Setelah suaminya meninggal dunia, Yang harus menjalani kehidupan tanpa teman di rumah. Pada saat ingin berbincang, ia terkadang sampai berbicara dengan televisi karena tidak memiliki orang lain untuk diajak mengobrol.

“Kesulitan terbesar sebenarnya adalah kesepian,” kata Yang kepada BBC. Ia mengungkapkan bahwa terkadang televisi menjadi tempatnya mencurahkan keinginan untuk berbicara dengan seseorang.

Rasa sepi yang berkepanjangan bahkan pernah membuat Yang berpikir untuk mengakhiri hidupnya melalui eutanasia sukarela. Ia sempat membicarakan keinginan tersebut dengan putranya, tetapi mendapat penjelasan bahwa praktik itu dilarang.

Di luar persoalan emosional, Yang juga menghadapi masalah kesehatan. Glaukoma yang dideritanya membuat penglihatan semakin terbatas, sehingga kegiatan sederhana di rumah, seperti mengatur pendingin ruangan, menjadi sulit dilakukan.

Situasi tersebut mulai berubah setelah ia mendapatkan bantuan dari Wang Yingwei, seorang mantan penjual telepon seluler yang kini menjalankan usaha pendampingan lansia di Beijing.

Bukan Sekadar Mengantar Makanan, tetapi Menemani Lansia

Bersama tim kecilnya, Yingwei mendatangi rumah para pelanggan untuk mengantarkan makanan hangat, memperbaiki perlengkapan rumah tangga, serta menemani mereka berbincang.

Untuk Yang, tim tersebut datang dua kali sehari. Mereka tidak hanya memastikan kebutuhan makanannya terpenuhi, tetapi juga membantu menyelesaikan persoalan rumah tangga yang sulit ditanganinya sendiri.

Salah satunya adalah masalah pendingin ruangan. Setelah perlengkapan tersebut diperbaiki, Yang bisa menjalani aktivitas di rumah dengan lebih nyaman.

Namun, hal yang paling berarti baginya bukan semata-mata bantuan teknis maupun makanan yang diantarkan. Kehadiran orang yang bersedia mendengarkan ceritanya membuat kehidupan sehari-hari terasa berbeda.

“Senang rasanya memiliki seseorang ketika kita membutuhkannya, seseorang yang bisa diajak berbagi isi hati,” ungkap Yang.

Ia mengaku kini merasa lebih bahagia karena tidak lagi menghadapi kesepian seperti sebelumnya.

Yingwei menyebut dirinya dan tim sebagai “anak-anak komunitas”, yakni orang-orang yang berupaya hadir untuk membantu para lansia layaknya anggota keluarga.

“Kami menempatkan diri pada posisi orang lanjut usia dan benar-benar memperhatikan kebutuhan mereka,” ujar Yingwei, sebagaimana diberitakan BBC pada Oktober 2026.

Menurutnya, persoalan yang dihadapi lansia sering kali terlihat sederhana bagi orang lain, tetapi dapat menjadi sumber kesulitan besar bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik.

Ia mencontohkan perbaikan perlengkapan kamar mandi serta pemasangan tangki air dengan sistem penyaringan untuk mengatasi persoalan kualitas air di rumah pelanggan.

Bagi Yingwei, bantuan kecil semacam itu dapat memberikan perubahan berarti dalam kehidupan seseorang.

Berawal dari Pengalaman Merawat Keluarga

Keputusan Yingwei membangun usaha pendampingan lansia tidak terlepas dari pengalaman keluarganya sendiri.

Ayah mertuanya pernah menderita Alzheimer dan harus tinggal di panti jompo. Pengalaman tersebut membuat Yingwei memikirkan alternatif layanan yang memungkinkan orang lanjut usia tetap tinggal di rumah mereka selama mungkin, tanpa kehilangan bantuan yang diperlukan.

Ia kemudian mengembangkan layanan yang menggabungkan bantuan praktis dengan pendampingan sosial.

Menurut Yingwei, hubungan antara dirinya dan pelanggan kerap berkembang menjadi kedekatan emosional. Para lansia memperlakukannya seperti anak sendiri, sedangkan ia berusaha memperlakukan mereka seperti orang tua.

Biaya layanan yang ditawarkannya disebut kurang dari separuh biaya mempekerjakan seorang pengasuh. Usaha tersebut kini melibatkan empat pekerja, dengan kemungkinan pengembangan apabila permintaan terus bertambah.

Meski demikian, pendampingan semacam ini tidak hanya berkaitan dengan urusan biaya. Kehadiran orang yang dapat dipercaya juga menjadi bagian penting bagi lansia yang membutuhkan bantuan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Perempuan 75 Tahun Memanggil Pendampingnya “Anak Kesayangan”

Pengalaman serupa dirasakan Zheng Ruizhi, perempuan berusia 75 tahun yang tinggal di bagian utara pinggiran Beijing.

Putranya tinggal sekitar dua jam perjalanan dari rumahnya. Setelah pensiun, kesempatan Zheng untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama orang lain semakin terbatas.

Kondisinya bertambah menantang ketika ia harus menjalani pemulihan akibat cedera yang membuat sejumlah aktivitas sehari-hari menjadi lebih sulit.

Kehadiran Yingwei memberikan bantuan sekaligus teman untuk berbagi cerita. Kedekatan mereka bahkan membuat Zheng memiliki panggilan khusus bagi pendamping tersebut, yaitu “anak kesayanganku”.

Ia mengungkapkan rasa sayang dan kepercayaannya kepada Yingwei karena merasa lebih tenang ketika mendapatkan bantuan.

Bagi Zheng, hubungan itu bukan sekadar transaksi jasa. Perhatian dan sikap peduli yang diterimanya turut memberikan rasa aman ketika menghadapi keterbatasan dalam keseharian.

Yang pun merasakan hal serupa. Ia mengaku tidak ingin kehilangan Yingwei dan anggota timnya karena kebaikan mereka telah membantu membuat hidupnya lebih nyaman.

Kedua kisah tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan lansia tidak selalu berhenti pada makanan, tempat tinggal, atau bantuan fisik. Kesempatan untuk berbicara, didengarkan, dan merasa diperhatikan juga memiliki arti penting.

Mengapa Jasa Pendamping Berbayar Berkembang di China?

Exit mobile version