Berita

Bappenas: Ekonomi Perak Berpotensi Jadi Mesin Pertumbuhan Baru, Lansia Bukan Sekadar Beban

14
Lansia Indonesia aktif berkegiatan sebagai gambaran potensi ekonomi perak dan peluang produktivitas usia lanjut.
Pengembangan ekonomi perak berpotensi membuka peluang usaha dan layanan yang mendukung kehidupan lansia agar tetap sehat, mandiri, dan produktif.

Golansia.com – Meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia dinilai dapat membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru. Sektor kesehatan, teknologi, jasa keuangan, hunian, hingga pariwisata berpotensi berkembang seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat pada usia lanjut.

Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, mengatakan pertambahan populasi lansia selama ini kerap dipandang sebagai tantangan ekonomi. Padahal, perubahan demografi tersebut juga dapat menciptakan pasar baru, mendorong investasi, dan membuka lapangan kerja.

Pernyataan itu disampaikan Febrian dalam peluncuran buku Muda Menata, Tua Berdaya sekaligus Kick Off Pengembangan Desain Ekonomi Perak Indonesia di Jakarta, Rabu (21/10/2026). Informasi tersebut dikutip dari Antara.

Menurut Febrian, peluang ekonomi dari meningkatnya jumlah lansia dapat dikembangkan melalui layanan kesehatan dan perawatan, teknologi digital, jasa keuangan, penyediaan hunian ramah lansia, pariwisata, hingga industri pangan dan gaya hidup sehat.

Peluang tersebut menjadi salah satu landasan pengembangan ekonomi perak atau silver economy, yaitu kegiatan ekonomi beserta produk dan layanan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lanjut usia sekaligus mempersiapkan penduduk menghadapi masa tua.

Ekonomi perak dinilai dapat mendorong pertumbuhan nasional

Febrian menegaskan, ekonomi perak perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional. Pengembangannya tidak semestinya hanya dipandang sebagai perluasan program kesejahteraan sosial.

Dengan meningkatnya kebutuhan penduduk lansia, berbagai sektor usaha berpeluang menghadirkan produk dan layanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan kelompok usia tersebut. Jika dikelola secara inklusif, perkembangan ini juga berpotensi menciptakan kesempatan kerja serta membantu mengurangi kemiskinan.

Indonesia dapat mempelajari pengalaman Jepang yang telah menghadapi penuaan penduduk lebih awal. Di negara tersebut, kebutuhan masyarakat lansia turut mendorong perkembangan layanan perawatan, teknologi pendukung aktivitas sehari-hari, layanan kesehatan, serta berbagai produk yang dirancang untuk kelompok usia lanjut.

Bappenas memproyeksikan jumlah penduduk Indonesia berusia 65 tahun ke atas dapat mencapai sekitar 50 juta orang pada 2050, atau kurang lebih 16 persen dari total populasi. Proyeksi tersebut menunjukkan pentingnya persiapan sejak dini untuk menghadapi perubahan struktur penduduk.

Febrian juga mengingatkan bahwa meningkatnya usia harapan hidup merupakan salah satu cerminan kemajuan pembangunan, termasuk dalam bidang kesehatan dan pendidikan. Namun, keberhasilan tersebut perlu disertai upaya menjaga kualitas hidup agar masyarakat dapat menjalani usia lanjut secara sehat, mandiri, dan bermartabat.

Pengembangan ekonomi perak harus inklusif

Meski menyimpan peluang bisnis dan investasi, ekonomi perak tidak boleh hanya berorientasi pada lansia yang memiliki daya beli tinggi. Pengembangan produk, layanan, dan teknologi perlu memperhatikan keterjangkauan, aksesibilitas, serta perlindungan bagi kelompok lansia yang lebih rentan.

Febrian menyoroti kondisi sebagian lansia yang belum memiliki tabungan pensiun memadai. Lebih dari separuh lansia juga masih bekerja, terutama di sektor informal yang umumnya memiliki keterbatasan perlindungan sosial.

Pada saat yang sama, kebutuhan perawatan jangka panjang semakin penting untuk diperhatikan. Selama ini, keluarga masih memikul sebagian besar tanggung jawab dalam merawat anggota keluarga yang telah lanjut usia.

Karena itu, kebijakan kelanjutusiaan perlu menggabungkan perlindungan sosial dengan upaya memperluas kesempatan bagi lansia yang masih mampu dan ingin berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi maupun kehidupan bermasyarakat.

Febrian menilai, lansia bukan kelompok yang memiliki kondisi dan kebutuhan seragam. Ada lansia yang membutuhkan bantuan serta perawatan intensif, tetapi ada pula yang masih produktif, ingin bekerja, membangun usaha, atau berbagi pengalaman dan keterampilan.

Lansia tetap memiliki hak dan kesempatan untuk berkontribusi

Perubahan cara pandang menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan ekonomi perak. Penduduk lansia perlu dipandang sebagai warga negara yang tetap memiliki hak, kemampuan, pilihan, dan kesempatan untuk berkontribusi, bukan semata-mata sebagai penerima bantuan.

Pendekatan tersebut membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, penyedia layanan kesehatan, hingga keluarga dan masyarakat.

Inovasi yang dikembangkan juga perlu menjawab kebutuhan nyata lansia, seperti layanan kesehatan yang mudah dijangkau, hunian yang aman, teknologi yang mudah digunakan, peluang kerja yang sesuai kemampuan, serta dukungan perawatan jangka panjang.

Dengan perencanaan yang matang dan kebijakan yang inklusif, ekonomi perak berpotensi menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru bagi Indonesia. Pada saat bersamaan, pengembangannya diharapkan membantu masyarakat mempersiapkan masa tua yang lebih sehat, mandiri, aman, dan sejahtera.

Tantangan ke depan bukan hanya bagaimana memenuhi kebutuhan populasi lansia yang terus bertambah, melainkan juga bagaimana memastikan bahwa pertambahan usia tidak menghilangkan kesempatan seseorang untuk tetap produktif dan menjalani kehidupan yang bermartabat.

Exit mobile version