Example 728x250
Kesehatan

Lansia Sering Meriang? Kenali Penyebab, Tanda Bahaya, dan Cara Menanganinya Sejak Dini

168
×

Lansia Sering Meriang? Kenali Penyebab, Tanda Bahaya, dan Cara Menanganinya Sejak Dini

Sebarkan artikel ini
Seorang lansia mengenakan selimut sambil memegang termometer karena mengalami meriang dan menggigil sebagai tanda awal gangguan kesehatan.
Meriang pada lansia dapat menjadi gejala awal infeksi atau penyakit serius sehingga perlu dikenali sejak dini agar penanganan tidak terlambat.

Golansia.com – Meriang pada lansia sering kali dianggap sebagai keluhan ringan. Padahal, pada orang berusia lanjut, sensasi menggigil atau merasa kedinginan dapat menjadi tanda awal adanya infeksi maupun gangguan kesehatan yang membutuhkan penanganan segera.

Berbeda dengan orang yang lebih muda, lansia tidak selalu mengalami demam tinggi saat tubuh melawan infeksi. Karena itu, keluarga dan pendamping perlu lebih peka mengenali perubahan kondisi fisik maupun perilaku yang muncul bersamaan dengan meriang.

Apa Itu Meriang pada Lansia?

Meriang merupakan sensasi tubuh terasa dingin atau menggigil meskipun suhu tubuh sebenarnya sedang meningkat. Kondisi ini terjadi ketika tubuh berusaha menaikkan suhu inti sebagai mekanisme alami untuk melawan infeksi atau peradangan.

Pada lansia, respons sistem kekebalan tubuh cenderung menurun sehingga tanda-tanda infeksi sering kali tidak muncul secara khas. Bahkan, sebagian lansia hanya mengeluhkan meriang tanpa mengalami demam tinggi.

Karena itu, keluhan ini tidak sebaiknya dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan.

Gejala Meriang yang Perlu Diwaspadai

Meriang dapat menjadi pertanda kondisi medis serius apabila disertai gejala lain, seperti:

  • Menggigil hebat atau berlangsung lama.
  • Tubuh terasa sangat lemas dan tidak bertenaga.
  • Kebingungan atau perubahan kesadaran secara tiba-tiba.
  • Sesak napas atau napas terasa lebih cepat.
  • Nyeri pada dada atau perut.
  • Sakit kepala berat atau leher terasa kaku.
  • Mual, muntah, atau diare yang tidak kunjung membaik.
  • Tanda dehidrasi, seperti mulut kering dan berkurangnya frekuensi buang air kecil.

Apabila beberapa gejala tersebut muncul bersamaan, sebaiknya lansia segera mendapatkan pemeriksaan medis agar penyebabnya dapat diketahui lebih cepat.

Penyebab Meriang pada Lansia

Ada berbagai kondisi yang dapat memicu meriang pada usia lanjut, mulai dari infeksi ringan hingga penyakit yang mengancam jiwa.

Beberapa penyebab yang paling sering ditemukan antara lain:

1. Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Infeksi saluran kemih merupakan salah satu penyebab paling umum meriang pada lansia. Tidak jarang, ISK hanya menimbulkan gejala lemas, meriang, atau kebingungan tanpa disertai nyeri saat buang air kecil.

2. Infeksi Saluran Pernapasan

Penyakit seperti influenza, bronkitis, maupun pneumonia dapat menyebabkan tubuh menggigil sebagai respons terhadap infeksi.

3. Infeksi Kulit

Luka yang terinfeksi atau peradangan pada jaringan kulit (selulitis) juga dapat memicu meriang dan demam.

4. Efek Samping Obat

Beberapa jenis obat tertentu dapat memengaruhi pengaturan suhu tubuh sehingga menimbulkan sensasi dingin atau menggigil.

5. Dehidrasi

Kurangnya cairan membuat tubuh kesulitan menjaga suhu normal sehingga lansia lebih mudah mengalami meriang.

6. Penyakit Kronis

Diabetes, gangguan tiroid, penyakit autoimun, hingga gangguan saraf dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko infeksi.

7. Sepsis

Sepsis merupakan komplikasi infeksi berat yang menyebar ke seluruh tubuh. Kondisi ini termasuk keadaan darurat medis dan harus segera ditangani di rumah sakit.

Kapan Meriang Harus Segera Dibawa ke Dokter?

Meriang pada lansia sebaiknya tidak ditunda penanganannya apabila disertai kondisi berikut:

  • Suhu tubuh lebih dari 38°C atau justru kurang dari 36°C.
  • Kebingungan, mengantuk berlebihan, atau sulit diajak berkomunikasi.
  • Sesak napas atau napas sangat cepat.
  • Nyeri dada atau nyeri perut hebat.
  • Sulit buang air kecil atau urine berubah warna.
  • Tanda dehidrasi berat.
  • Memiliki penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, atau gangguan ginjal.

Semakin cepat penyebab diketahui, semakin besar peluang mencegah komplikasi yang lebih serius.

Cara Mengatasi Meriang pada Lansia

Penanganan meriang bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Namun, beberapa langkah awal yang dapat dilakukan antara lain:

  • Mengukur suhu tubuh secara berkala.
  • Memastikan kebutuhan cairan tetap terpenuhi.
  • Memberikan makanan bergizi yang mudah dicerna.
  • Istirahat yang cukup.
  • Menggunakan obat penurun demam, seperti parasetamol, sesuai anjuran dokter apabila disertai demam.

Jika penyebabnya adalah infeksi bakteri, dokter akan meresepkan antibiotik. Sementara pada infeksi virus, pengobatan lebih difokuskan pada peredaan gejala dan menjaga kondisi tubuh tetap stabil.

Hindari membungkus tubuh dengan selimut terlalu tebal ketika demam karena dapat menghambat pelepasan panas tubuh. Kompres hangat pada lipatan tubuh juga dapat membantu menurunkan suhu secara bertahap.

Cara Mencegah Meriang pada Lansia

Pencegahan tetap menjadi langkah terbaik untuk menjaga kesehatan lansia. Beberapa upaya yang dapat dilakukan meliputi:

  • Mendapatkan vaksin influenza dan pneumonia sesuai rekomendasi dokter.
  • Rajin mencuci tangan dengan sabun.
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya vitamin, protein, dan serat.
  • Minum air putih yang cukup setiap hari.
  • Melakukan aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki atau senam lansia.
  • Menghindari kontak dengan orang yang sedang sakit.
  • Mengontrol penyakit kronis secara rutin melalui pemeriksaan kesehatan.

Dengan pola hidup sehat dan pemantauan yang baik, risiko infeksi maupun komplikasi akibat meriang dapat dikurangi secara signifikan.

Kesimpulan

Meriang pada lansia tidak selalu merupakan kondisi ringan. Keluhan ini bisa menjadi sinyal awal adanya infeksi atau gangguan kesehatan yang membutuhkan penanganan segera.

Karena gejala pada lansia sering kali tidak khas, keluarga dan pendamping perlu lebih waspada terhadap perubahan kondisi fisik maupun mental. Pemeriksaan sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi dan menjaga kualitas hidup lansia tetap optimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *