Golansia.com – Jumlah lansia yang memilih atau terpaksa tinggal sendiri di Singapura terus mengalami peningkatan dalam satu dekade terakhir. Meski demikian, fenomena ini tidak serta-merta menunjukkan bahwa ikatan keluarga di Negeri Singa mulai melemah.
Laporan terbaru dari Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga Singapura (Ministry of Social and Family Development/MSF) justru memperlihatkan bahwa mayoritas masyarakat masih memiliki komitmen kuat untuk merawat orang tua mereka. Di sisi lain, perubahan struktur keluarga, meningkatnya usia harapan hidup, serta tuntutan ekonomi menjadi faktor yang mengubah pola kehidupan lansia.
Berikut sejumlah temuan penting dari laporan tersebut.
1. Jumlah Lansia yang Tinggal Sendiri Terus Meningkat
Data MSF mencatat sekitar 88.400 warga berusia 65 tahun ke atas tinggal sendiri pada 2025. Angka tersebut sedikit meningkat dibandingkan 87.200 orang pada 2024.
Jika dibandingkan dengan satu dekade sebelumnya, kenaikannya jauh lebih mencolok. Pada 2015, jumlah lansia yang hidup sendiri tercatat sekitar 41.200 orang, sehingga dalam kurun 10 tahun jumlahnya meningkat lebih dari dua kali lipat.
Meski demikian, kelompok ini masih tergolong kecil, yakni sekitar 11,5 persen dari seluruh populasi lansia yang tinggal di rumah tangga di Singapura. Sebagian besar lansia masih tinggal bersama pasangan, anak, atau anggota keluarga lainnya.
2. Hubungan Keluarga Tetap Erat
Meningkatnya jumlah lansia yang hidup sendiri ternyata tidak berarti hubungan keluarga semakin renggang.
Laporan MSF menunjukkan bahwa 95,2 persen responden berusia 15–64 tahun menyatakan merawat orang tua merupakan tanggung jawab keluarga. Persentase tersebut meningkat dibandingkan 93,1 persen pada 2023.
Selain itu, 89,6 persen responden mengaku memiliki hubungan keluarga yang erat dan saling mendukung, naik dibandingkan dua tahun sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan bahwa nilai kekeluargaan masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Singapura.
3. Ketahanan Keluarga Ikut Meningkat
Temuan lain yang cukup menggembirakan adalah meningkatnya ketahanan keluarga.
Lebih dari 90 persen keluarga melaporkan tingkat ketahanan keluarga pada kategori sedang hingga tinggi. Angka ini meningkat dibandingkan 85,9 persen pada 2023.
Ketahanan keluarga menggambarkan kemampuan anggota keluarga untuk saling mendukung, beradaptasi terhadap perubahan, dan bangkit saat menghadapi berbagai tekanan kehidupan.
Responden yang telah menikah umumnya memiliki tingkat ketahanan keluarga yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya.
4. Caregiver Menghadapi Beban yang Besar
Di balik kuatnya hubungan keluarga, para anggota keluarga yang berperan sebagai caregiver menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Studi National Council of Social Service pada 2025 menunjukkan bahwa para pengasuh keluarga memiliki kualitas hidup yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak menjalankan peran tersebut.
Mereka cenderung mengalami tekanan pada aspek fisik, psikologis, hubungan sosial, hingga kepuasan terhadap lingkungan tempat tinggal.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak selalu mencerminkan buruknya hubungan keluarga.
Profesor Sosiologi Paulin Tay Straughan dari Singapore Management University menjelaskan bahwa merawat anggota keluarga sering dilakukan atas dasar kasih sayang. Seseorang bisa saja merasa lelah secara fisik maupun emosional, tetapi tetap memiliki ikatan yang sangat kuat dengan orang yang dirawat.
Pendapat serupa disampaikan peneliti Mathew Mathews dari Institute of Policy Studies, National University of Singapore. Menurutnya, meski tugas sebagai caregiver sangat berat, banyak orang tetap menemukan makna dan kebahagiaan dalam merawat anggota keluarga tercinta.
5. Dukungan Keluarga Mulai Berubah
Laporan MSF juga menunjukkan adanya perubahan dalam bentuk dukungan yang diberikan kepada lansia.
Mayoritas responden tetap bersedia memberikan bantuan finansial maupun dukungan emosional kepada anggota keluarga yang membutuhkan.
Namun, kesediaan memberikan bantuan fisik sehari-hari, seperti membantu mandi, berpakaian, atau makan, mengalami penurunan dari 81,4 persen pada 2023 menjadi 73,8 persen pada 2025.
Menurut para peneliti, perubahan ini bukan karena berkurangnya kepedulian keluarga, melainkan meningkatnya kesadaran bahwa merawat lansia membutuhkan waktu, tenaga, dan kemampuan khusus.
Akibatnya, semakin banyak keluarga yang memanfaatkan jasa perawat profesional atau pekerja rumah tangga untuk membantu perawatan sehari-hari.
Perubahan Demografi Membutuhkan Dukungan Bersama
Meningkatnya jumlah lansia yang tinggal sendiri menjadi salah satu konsekuensi dari perubahan demografi di Singapura.
Meski begitu, data menunjukkan bahwa hubungan keluarga tetap kuat dan tanggung jawab untuk merawat orang tua masih dijunjung tinggi oleh masyarakat.
Ke depan, kolaborasi antara keluarga, tenaga profesional, serta kebijakan pemerintah dinilai menjadi kunci untuk memastikan para lansia tetap memperoleh kualitas hidup yang baik, baik saat tinggal bersama keluarga maupun menjalani kehidupan secara mandiri.














