Example 728x250
Kesehatan

Jangan Anggap Remeh Asap Karhutla, Dampaknya Bisa Menyerang Paru hingga Jantung

144
×

Jangan Anggap Remeh Asap Karhutla, Dampaknya Bisa Menyerang Paru hingga Jantung

Sebarkan artikel ini

Golansia.com — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar mengganggu jarak pandang atau membuat udara terasa sesak. Partikel dan senyawa kimia yang terkandung di dalamnya dapat masuk ke dalam tubuh dan memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari iritasi mata dan kulit, masalah pernapasan, hingga gangguan pada jantung.

Kebakaran hutan dan lahan kembali melanda sejumlah wilayah Indonesia. Dilansir Kompas.com, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas karhutla di Indonesia telah mencapai 72.798 hektare. Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan luas karhutla terbesar, yakni sekitar 38.310 hektare.

Asap yang dihasilkan dari kebakaran tersebut mengandung berbagai bahan kimia yang terbentuk ketika benda-benda terbakar. Salah satu komponen yang paling mengkhawatirkan adalah particulate matter 2.5 (PM2.5), yakni partikel berukuran sangat kecil yang dapat terhirup dan masuk jauh ke dalam tubuh.

Selain PM2.5, kabut asap karhutla juga membawa polutan dan senyawa kimia berbahaya lainnya, seperti karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik beracun.

“Risiko kesehatan akibat karhutla ini kita tahu asap ini bisa memicu PM 2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan organik beracun yang bisa memperberat ISPA, PPOK, asma, dan gangguan pernapasan,” terang Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes dr Then Suyanti dalam pemaparannya, Rabu (26/8/2026).

PM2.5 Bisa Masuk hingga Paru-paru

PM2.5 berukuran kurang dari 2,5 mikrometer atau sekitar 28 kali lebih kecil daripada lebar sehelai rambut manusia. Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini dapat masuk melalui hidung dan mulut ketika seseorang menghirup udara yang tercemar asap.

Dalam jangka pendek, paparan PM2.5 dapat menyebabkan mata terasa terbakar, hidung berair, batuk, serta iritasi pada saluran pernapasan. Paparan tersebut juga dapat memicu kekambuhan pada orang dengan kondisi kulit seperti eksim.

Dampaknya tidak berhenti pada saluran pernapasan bagian atas. Partikel yang sangat kecil tersebut dapat terhirup hingga mencapai paru-paru dan kemudian memberikan dampak lebih luas pada tubuh. Partikel ini bahkan dapat masuk ke dalam aliran darah dan memicu berbagai respons tubuh, termasuk peradangan.

Peradangan tersebut dapat memperburuk gangguan pernapasan seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Dampaknya dapat muncul segera atau dalam waktu satu hingga dua hari setelah seseorang terpapar asap kebakaran hutan.

Orang yang sudah memiliki gangguan pernapasan juga menghadapi risiko lebih besar ketika konsentrasi PM2.5 di udara tinggi. Dalam kondisi yang parah, gangguan tersebut bahkan dapat membuat penderita membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Selain paru-paru, Kementerian Kesehatan juga menyoroti dampak asap karhutla terhadap mata dan kulit. Lansia termasuk kelompok yang berisiko mengalami dampak kesehatan sistemik, sedangkan anak-anak merupakan kelompok yang sangat rentan karena masih berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan.

Asap Karhutla Juga Mengancam Jantung

Bahaya asap karhutla ternyata tidak hanya berkaitan dengan sistem pernapasan. Partikel halus yang terdapat dalam asap juga dapat berdampak pada sistem kardiovaskular.

Sebuah studi berjudul Cardiovascular and Cerebrovascular Emergency Department Visits Associated With Wildfire Smoke Exposure in California in 2015 yang terbit di Journal of the American Heart Association menemukan bahwa paparan asap kebakaran hutan berkaitan dengan peningkatan kunjungan ke unit gawat darurat akibat gangguan kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan penyakit jantung koroner.

Risiko tersebut dapat meningkat dalam waktu 24 jam setelah seseorang terpapar asap kebakaran hutan yang pekat.

Dikutip dari laman American Heart Association (AHA), partikel halus dalam asap kebakaran hutan juga memiliki kaitan dengan peningkatan risiko masalah kardiovaskular dan serangan jantung mendadak. Jangkauan asap pun tidak terbatas pada wilayah yang berada tepat di sekitar lokasi kebakaran karena polutan mikro dapat terbawa hingga jarak yang jauh.

“Meskipun masalah pernapasan dan bahaya kesehatan saluran napas sering dianggap sebagai dampak kesehatan terbesar akibat asap kebakaran hutan, penting juga untuk menyadari dampaknya terhadap kesehatan kardiovaskular. Asap kebakaran hutan mengandung banyak polutan, termasuk partikel mikroskopis halus yang dikaitkan dengan risiko kardiovaskular. Selagi kebakaran terus berlangsung, asap yang tercemar tersebut terbawa hingga jarak yang jauh melampaui area yang terdampak langsung,” ujar Keith.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American Heart Association juga mencatat bahwa paparan asap pekat kebakaran hutan dapat meningkatkan risiko henti jantung di luar rumah sakit hingga 70 persen. Lonjakan risiko tersebut dapat terjadi pada pria maupun wanita, terutama kelompok usia 35-64 tahun.

Dampaknya Bisa Menjalar ke Otak

Ukuran PM2.5 yang sangat kecil juga membuat partikel tersebut berpotensi memberikan dampak pada fungsi kognitif. Paparan PM2.5 dapat memengaruhi berbagai aspek kognitif, seperti daya ingat, perhatian, dan kemampuan belajar.

Dampak tersebut kemungkinan berkaitan dengan kemampuan partikel memicu peradangan pada sistem saraf pusat dan mengganggu komunikasi antarneuron.

Sebuah studi berjudul Wildfire Smoke Exposure and Incident Dementia yang terbit di JAMA Neurology menunjukkan bahwa paparan asap kebakaran hutan dalam jangka panjang, selama periode tiga tahun, berkaitan dengan peningkatan risiko mengalami demensia.

Paparan asap tebal juga dapat berdampak pada kesehatan mental. Penelitian mengenai kebakaran hutan di Oregon menemukan bahwa paparan asap tebal selama lebih dari dua minggu dapat membuat seseorang lebih mungkin melaporkan berbagai gejala kesehatan mental yang berkaitan dengan kecemasan dan depresi.

Temuan tersebut sejalan dengan semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa paparan polusi partikulat dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan mental.

Kenali Tanda Gangguan Jantung

Karena asap karhutla dapat berdampak pada kesehatan kardiovaskular, masyarakat yang berada di wilayah terdampak perlu mewaspadai gejala gangguan jantung akut.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Rasa tidak nyaman di dada, seperti tekanan, sensasi teremas, rasa penuh, atau nyeri di bagian tengah dada yang berlangsung beberapa menit atau hilang-timbul.
  • Nyeri pada bagian tubuh atas, seperti lengan, baik salah satu maupun keduanya, punggung, leher, rahang, hingga ulu hati atau perut.
  • Sesak napas, yang dapat muncul bersamaan dengan nyeri dada maupun tanpa disertai nyeri dada.
  • Tanda darurat lainnya, seperti keringat dingin yang muncul tiba-tiba, mual, detak jantung berdebar cepat atau tidak teratur, rasa lelah yang ekstrem, hingga pusing dan sensasi kepala ringan.

Jika mengalami gejala-gejala tersebut, terutama setelah terpapar asap pekat, masyarakat perlu segera mencari bantuan medis darurat.

Kurangi Paparan Asap Sebisa Mungkin

Langkah paling penting untuk melindungi diri dari bahaya asap karhutla adalah mengurangi paparan sebanyak mungkin.

Bagi masyarakat yang berada di wilayah yang masuk zona evakuasi, segera tinggalkan area tersebut sesuai arahan petugas. Sementara itu, masyarakat yang masih berada di wilayah terdampak sebaiknya lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan dengan pintu dan jendela tertutup agar asap dari luar tidak mudah masuk ke rumah.

Saat harus bepergian menggunakan kendaraan, pastikan jendela tetap tertutup untuk membatasi masuknya asap ke dalam kabin. Langkah ini menjadi semakin penting ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla.

Penggunaan penyaring udara di dalam rumah juga dapat membantu menurunkan konsentrasi partikel halus dari asap. Jika tidak memiliki penyaring udara, pendingin udara standar juga dapat membantu.

Ketika harus berada di luar ruangan, para ahli menyarankan penggunaan masker pelindung seperti respirator N95 untuk membantu mengurangi paparan partikel berbahaya dalam asap kebakaran hutan.

Bagi masyarakat yang memiliki penyakit paru-paru, persediaan obat juga perlu dipastikan tetap tersedia. Langkah ini penting untuk mencegah kehabisan obat ketika kondisi darurat terjadi, terutama apabila akses keluar rumah atau menuju fasilitas kesehatan menjadi terbatas akibat kebakaran dan kabut asap.

Asap karhutla pada akhirnya bukan hanya persoalan lingkungan. Ketika partikel berbahaya terhirup dan masuk ke dalam tubuh, dampaknya dapat meluas dari paru-paru ke sistem kardiovaskular, bahkan berpotensi memengaruhi fungsi otak dan kesehatan mental. Karena itu, mengurangi paparan sejak kabut asap mulai muncul menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan, terutama bagi kelompok yang rentan.

(Dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *