Example 728x250
BerandaGinjalKesehatan

Jangan Abaikan Gusi Berdarah, Studi Sebut Bisa Menjadi Tanda Awal Penyakit Ginjal

160
×

Jangan Abaikan Gusi Berdarah, Studi Sebut Bisa Menjadi Tanda Awal Penyakit Ginjal

Sebarkan artikel ini

Golansia.com — Gusi berdarah sering kali dianggap sebagai gangguan kesehatan mulut yang sepele. Padahal, temuan penelitian terbaru menunjukkan kondisi tersebut dapat menjadi sinyal awal adanya gangguan kesehatan yang lebih serius, termasuk penyakit ginjal kronis. Karena itu, menjaga kesehatan gusi tidak hanya penting untuk mempertahankan fungsi gigi, tetapi juga berpotensi membantu mendeteksi penyakit sejak dini.

Semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa dampak periodontitis atau penyakit gusi tidak hanya terbatas pada kesehatan mulut. Periodontitis, yang ditandai dengan gusi berdarah, kerusakan jaringan progresif, dan kehilangan gigi, sering dianggap sebagai penyakit yang terbatas pada rongga mulut. Akan tetapi, bukti yang terus berkembang menunjukkan bahwa dampaknya bisa meluas jauh melampaui mulut.

Dikutip dari laman News Medical Life Science, beban peradangan kronis yang berkaitan dengan penyakit ini telah dikaitkan dengan beberapa kondisi, seperti penyakit kardiovaskular dan diabetes. Hal tersebut mendorong para peneliti untuk menyelidiki potensi perannya dalam Chronic Kidney Disease (CKD) atau penyakit ginjal kronis.

Meski sebelumnya sudah dilaporkan adanya hubungan antara periodontitis dan penyakit ginjal kronis stadium lanjut, keterkaitannya dengan tahap awal gangguan fungsi ginjal masih belum banyak dipahami. Hal inilah yang kemudian menjadi fokus penelitian terbaru.

 

Gusi Berdarah dan Gejala Tahap Awal Penyakit Ginjal

Sebuah studi berskala besar berbasis populasi di Jerman menemukan bahwa penyakit gusi yang parah berkaitan dengan penurunan fungsi ginjal serta meningkatnya penanda kerusakan ginjal, bahkan pada tahap awal penyakit ginjal kronis.

“Kami bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara periodontitis dan penanda disfungsi ginjal dini, termasuk penurunan fungsi ginjal dan albuminuria, serta mengeksplorasi peran mediasi potensial dari penanda inflamasi sistemik,” tulis peneliti dalam International Journal of Oral Science yang dipublikasikan pada 6 April 2026.

Studi ini melibatkan 6.179 peserta dari Hamburg City Health Study, sebuah kohort berbasis populasi di Jerman. Seluruh peserta menjalani pemeriksaan kesehatan gusi secara menyeluruh.

Tingkat keparahan periodontitis diklasifikasikan menggunakan sistem penilaian American Academy of Periodontology/European Federation of Periodontology (AAP/EFP) tahun 2017. Sementara itu, kesehatan ginjal dinilai menggunakan Estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR) dan Urine Albumin-Creatinine Ratio (uACR). Peneliti juga mengukur High-Sensitivity C-Reactive Protein (hsCRP) dan interleukin-6 (IL-6) untuk mengevaluasi kontribusi inflamasi sistemik.

Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang konsisten antara kondisi kesehatan gusi yang semakin buruk dengan penurunan fungsi ginjal. Prevalensi periodontitis berat meningkat dari 14 persen pada individu dengan fungsi ginjal normal menjadi 36 persen pada mereka yang mengalami penurunan fungsi ginjal sedang.

Pola serupa juga ditemukan pada albuminuria. Semakin tinggi kadar albumin dalam urine, semakin banyak peserta yang mengalami penyakit gusi dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi.

Tak hanya itu, indikator kerusakan periodontal kumulatif, seperti hilangnya perlekatan jaringan penyangga gigi (clinical attachment loss) dan kehilangan gigi, juga semakin memburuk seiring dengan penurunan fungsi ginjal.

Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa kesehatan mulut dan kesehatan ginjal saling berkaitan. Karena itu, pemeriksaan kesehatan gigi dan gusi secara rutin tidak hanya penting untuk mencegah kehilangan gigi, tetapi juga berpotensi membantu mengenali risiko penyakit kronis sejak tahap awal.

Sumber: Detik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *