Berita

Biaya Kesehatan Naik Tajam, Dana Pensiun Lansia Terancam Cepat Habis

237
biaya kesehatan lansia
biaya kesehatan lansia

Golansia.com – Meningkatnya biaya layanan kesehatan menjadi salah satu ancaman terbesar bagi kondisi keuangan para lansia di masa pensiun. Jika tidak diantisipasi sejak dini, pengeluaran medis berpotensi menguras tabungan hari tua yang telah dipersiapkan selama bertahun-tahun.

Perencana keuangan sekaligus Founder Finante.id, Rista Zwestika, mengingatkan bahwa ancaman utama bagi pensiunan saat ini bukan hanya inflasi umum, melainkan inflasi kesehatan yang kenaikannya cenderung lebih tinggi setiap tahun.

Menurutnya, banyak keluarga merasa telah memiliki dana pensiun yang memadai. Namun dalam praktiknya, dana tersebut sering terkuras akibat biaya rawat inap, operasi, pengobatan penyakit kronis, hingga kebutuhan obat-obatan jangka panjang.

“Inflasi kesehatan sering kali lebih tinggi dibandingkan inflasi umum,” ujarnya.

Data Bank Dunia menunjukkan pengeluaran kesehatan per kapita di Indonesia meningkat dari sekitar 118 dolar AS pada 2019 menjadi sekitar 132 dolar AS pada 2023. Tren ini menunjukkan biaya layanan kesehatan terus mengalami kenaikan dan menjadi tantangan serius bagi masyarakat yang memasuki usia lanjut.

BPJS Kesehatan Jadi Perlindungan Dasar

Untuk mengurangi risiko finansial akibat biaya pengobatan, Rista menekankan pentingnya kepesertaan BPJS Kesehatan yang aktif. Program jaminan kesehatan nasional tersebut dinilai masih menjadi perlindungan utama karena mampu menanggung berbagai penyakit katastropik yang membutuhkan biaya besar.

Selain BPJS, lansia juga dianjurkan memiliki dana kesehatan khusus yang terpisah dari dana pensiun utama.

Rista menyarankan besaran dana kesehatan ideal berkisar antara 12 hingga 24 kali kebutuhan hidup bulanan. Sebagai contoh, apabila biaya hidup seorang lansia mencapai Rp8 juta per bulan, maka dana kesehatan yang disiapkan sebaiknya berada pada kisaran Rp96 juta hingga Rp192 juta.

Pencegahan Lebih Murah daripada Pengobatan

Menjaga kesehatan sejak usia produktif menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko pengeluaran medis saat pensiun.

Aktivitas fisik secara rutin, pola makan sehat, pemeriksaan kesehatan berkala, serta pengendalian tekanan darah, kadar gula, dan kolesterol dapat membantu menekan biaya kesehatan di masa depan.

Menurut Rista, biaya yang dikeluarkan untuk pencegahan jauh lebih kecil dibandingkan biaya pengobatan ketika penyakit sudah muncul.

infografis biaya pensiun lansia

Asuransi Kesehatan Sebaiknya Disiapkan Sebelum Pensiun

Perencana keuangan independen Andy Nugroho juga menyoroti pentingnya perlindungan kesehatan tambahan melalui asuransi swasta.

Ia menjelaskan bahwa semakin bertambah usia seseorang, premi asuransi biasanya akan semakin mahal. Selain itu, peluang pengajuan polis ditolak juga menjadi lebih besar karena faktor risiko kesehatan.

Karena itu, perlindungan asuransi sebaiknya dipersiapkan saat masih berada pada usia produktif agar biaya premi lebih terjangkau.

“Pastikan status kepesertaan BPJS tetap aktif dan pertimbangkan asuransi kesehatan swasta sebelum memasuki masa pensiun,” kata Andy.

Penyakit Kritis Jadi Pengeluaran Terbesar

Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE), Mike Rini Sutikno, menjelaskan bahwa biaya kesehatan lansia tidak hanya mencakup obat-obatan rutin.

Komponen pengeluaran kesehatan juga meliputi rawat jalan, rawat inap, pemeriksaan kesehatan berkala, hingga kebutuhan pengasuh atau caretaker.

Namun, biaya terbesar umumnya muncul ketika lansia mengalami penyakit kritis atau kecelakaan serius yang memerlukan perawatan intensif dan jangka panjang.

Karena itu, Mike menyarankan penerapan sistem perlindungan berlapis melalui kombinasi BPJS Kesehatan dan asuransi kesehatan swasta.

Menurutnya, BPJS berfungsi sebagai perlindungan dasar, sedangkan asuransi swasta dapat membantu menutupi berbagai kebutuhan yang belum sepenuhnya ditanggung BPJS, termasuk akses layanan yang lebih cepat dan pilihan fasilitas kesehatan yang lebih luas.

Alokasikan Dana Khusus untuk Kesehatan

Selain perlindungan asuransi, pengelolaan arus kas juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan dana pensiun.

Mike menyarankan agar pensiunan secara disiplin mengalokasikan sekitar 10 hingga 15 persen dana pensiun untuk kebutuhan kesehatan rutin. Sementara itu, tambahan 5 hingga 10 persen dapat disiapkan sebagai dana darurat khusus kesehatan.

Ia juga menilai pemeriksaan kesehatan berkala merupakan investasi yang sangat penting karena mampu mendeteksi penyakit lebih awal sehingga biaya pengobatan dapat ditekan.

Indonesia Memasuki Era Aging Population

Pentingnya perencanaan kesehatan bagi lansia semakin relevan seiring bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia.

Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, proporsi lansia di Indonesia telah mencapai 11,97 persen dari total populasi. Angka tersebut telah melampaui batas 10 persen yang menjadi indikator sebuah negara memasuki fase penuaan penduduk atau aging population.

Kondisi ini menandakan bahwa kebutuhan layanan kesehatan lansia akan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang. Oleh karena itu, perencanaan keuangan yang matang, perlindungan kesehatan yang memadai, serta penerapan gaya hidup sehat menjadi kunci untuk menjaga kualitas hidup masyarakat di masa pensiun.

Exit mobile version