Golansia.com – Kebiasaan orang tua menyimpan barang-barang lama kerap menjadi sumber perdebatan dengan generasi muda. Tumpukan plastik bekas, wadah makanan, hingga perabot rusak yang tetap dipertahankan sering dianggap tidak praktis.
Namun di balik kebiasaan tersebut, terdapat alasan psikologis yang lebih dalam dan tidak sesederhana sekadar “tidak mau membuang.”
Dipengaruhi Pengalaman Hidup di Masa Sulit
Menurut Daniel Glazer, banyak lansia tumbuh dalam masa yang penuh keterbatasan, di mana akses terhadap barang tidak semudah sekarang.
Kondisi tersebut membentuk pola pikir bahwa setiap barang memiliki nilai guna, bahkan jika saat ini terlihat tidak terpakai.
Ungkapan seperti “siapa tahu nanti bisa dipakai” bukan sekadar kebiasaan, tetapi bagian dari strategi bertahan hidup yang terbentuk sejak lama.
Barang sebagai Sumber Keamanan Emosional
Selain faktor ekonomi, ada pula aspek emosional yang kuat. Barang-barang yang telah lama dimiliki sering kali menjadi sumber rasa aman dan kenyamanan.
Benda-benda tersebut menyimpan jejak pengalaman hidup, mulai dari momen keluarga hingga perjalanan pribadi yang berharga.
Simbol Kenangan dan Identitas Diri
Psikoterapis Esin Pinarli menjelaskan bahwa bagi lansia, membuang barang lama bukan hanya soal merapikan rumah.
Lebih dari itu, tindakan tersebut bisa terasa seperti melepaskan bagian dari sejarah hidup mereka.
Seiring bertambahnya usia, kesadaran akan keterbatasan waktu membuat kenangan menjadi semakin bermakna. Barang lama pun berfungsi sebagai “penanda” bahwa pengalaman hidup mereka pernah ada dan berarti.
Bukan Sekadar Keras Kepala
Perilaku mempertahankan barang lama sering disalahartikan sebagai sikap keras kepala. Padahal, hal ini berkaitan erat dengan ikatan batin, kebutuhan akan makna, serta ketakutan akan kehilangan identitas.
Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga perlu dibedakan dari gangguan seperti Alzheimer, yang dapat memengaruhi ingatan dan perilaku seseorang.
Cara Bijak Membantu Orang Tua
Alih-alih memaksa, pendekatan yang lebih empatik justru terbukti efektif untuk membantu lansia merapikan barang mereka.
Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:
1. Ajak berbagi cerita
Mulailah dengan menanyakan kisah di balik barang tersebut. Cara ini membuat orang tua merasa dihargai dan dipahami.
2. Beri mereka kendali
Biarkan mereka menentukan sendiri mana yang ingin disimpan dan mana yang bisa dilepas. Rasa kontrol dapat mengurangi penolakan.
3. Tawarkan bantuan secara halus
Bersihkan bersama sebagai aktivitas kolaboratif, bukan sebagai bentuk paksaan.
Pendekatan ini tidak hanya mempermudah proses merapikan rumah, tetapi juga mempererat hubungan emosional antara anak dan orang tua.
Kesimpulan
Kebiasaan lansia menyimpan barang lama bukan sekadar soal kerapian, melainkan berkaitan dengan pengalaman hidup, emosi, dan identitas diri.
Memahami hal ini dapat membantu generasi muda bersikap lebih bijak, sehingga proses merapikan rumah tidak berubah menjadi konflik, melainkan menjadi momen untuk saling memahami.











