Example 728x250
Kesehatan

Lansia Sering Sulit BAB? Kenali Penyebab Konstipasi dan Cara Mengatasinya dengan Aman

158
×

Lansia Sering Sulit BAB? Kenali Penyebab Konstipasi dan Cara Mengatasinya dengan Aman

Sebarkan artikel ini
Seorang lansia memegang perut karena mengalami konstipasi atau sulit buang air besar akibat gangguan pencernaan.
Konstipasi pada lansia dapat dipicu oleh kurangnya asupan serat, dehidrasi, efek obat, hingga menurunnya fungsi saluran pencernaan seiring bertambahnya usia.

Golansia.com – Sulit buang air besar (BAB) atau konstipasi menjadi salah satu keluhan yang cukup sering dialami oleh lansia. Meski umum terjadi seiring bertambahnya usia, kondisi ini bukanlah bagian normal dari proses penuaan dan tidak boleh dianggap sepele.

Jika tidak ditangani dengan baik, konstipasi dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, menurunkan kualitas hidup, hingga memicu komplikasi seperti wasir dan penumpukan tinja (impaksi fekal).

Karena itu, mengenali penyebab, gejala, serta cara mengatasi konstipasi sejak dini sangat penting agar kesehatan saluran pencernaan tetap terjaga pada usia lanjut.

Apa Itu Konstipasi pada Lansia?

Konstipasi merupakan kondisi ketika seseorang mengalami penurunan frekuensi buang air besar atau kesulitan mengeluarkan tinja.

Secara medis, seseorang dikatakan mengalami konstipasi apabila frekuensi BAB kurang dari tiga kali dalam satu minggu. Tinja umumnya menjadi keras, kering, berukuran kecil, dan membutuhkan tenaga lebih besar untuk dikeluarkan.

Pada lansia, kondisi ini sering dipicu oleh melambatnya pergerakan usus (motilitas usus) akibat proses penuaan. Namun, faktor gaya hidup dan penyakit tertentu juga dapat memperburuk keadaan.

Gejala Konstipasi yang Perlu Diwaspadai

Konstipasi tidak hanya ditandai dengan jarangnya buang air besar. Ada sejumlah gejala lain yang patut diperhatikan, antara lain:

  • Sulit atau harus mengejan kuat saat BAB.
  • Tinja keras, kering, dan menggumpal.
  • Perasaan BAB tidak tuntas meski sudah selesai.
  • Sensasi adanya sumbatan di rektum.
  • Nyeri atau kram pada perut.
  • Perut terasa kembung dan penuh.
  • Nafsu makan menurun karena rasa tidak nyaman di perut.
  • Keluar cairan atau noda tinja pada pakaian dalam akibat tinja yang menumpuk.
  • Membutuhkan bantuan tangan atau tekanan pada area tertentu agar tinja dapat keluar.

Pada banyak kasus, lansia tidak menyadari bahwa pola buang air besarnya telah berubah hingga muncul rasa nyeri atau komplikasi. Karena itu, anggota keluarga maupun pendamping perlu memperhatikan perubahan kebiasaan BAB pada lansia.

Penyebab Konstipasi pada Lansia

Konstipasi pada usia lanjut biasanya disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor, baik perubahan alami tubuh maupun kondisi kesehatan tertentu.

1. Pergerakan Usus Melambat

Seiring bertambahnya usia, kontraksi otot usus menjadi lebih lambat sehingga proses pengeluaran tinja membutuhkan waktu lebih lama.

2. Kurang Asupan Serat

Pola makan rendah serat membuat tinja menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan. Padahal, serat membantu meningkatkan volume sekaligus menjaga kelembapan tinja.

3. Kurang Minum Air

Banyak lansia mengalami penurunan rasa haus sehingga lebih sedikit mengonsumsi cairan. Akibatnya, tinja menjadi kering dan keras.

4. Aktivitas Fisik Berkurang

Gaya hidup yang kurang bergerak atau terlalu banyak duduk dapat memperlambat kerja saluran pencernaan.

5. Efek Samping Obat

Beberapa obat diketahui dapat memicu konstipasi, seperti:

  • Suplemen kalsium.
  • Antidepresan.
  • Obat tekanan darah tertentu.
  • Beberapa jenis obat pereda nyeri.

6. Penyakit Tertentu

Konstipasi juga dapat berkaitan dengan beberapa kondisi medis, seperti:

  • Diabetes.
  • Hipotiroidisme.
  • Penyakit Parkinson.
  • Gangguan saraf lainnya.

Cara Mengatasi Konstipasi pada Lansia

Penanganan konstipasi sebaiknya dimulai dari perubahan gaya hidup sebelum menggunakan obat-obatan.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Perbanyak Konsumsi Serat

Perbanyak sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan agar tekstur tinja lebih lunak.

Cukupi Kebutuhan Cairan

Minum air putih yang cukup setiap hari membantu menjaga kelembapan tinja sehingga lebih mudah dikeluarkan.

Rutin Bergerak

Aktivitas ringan seperti berjalan kaki selama 15–30 menit setiap hari dapat membantu merangsang kerja usus.

Biasakan Jadwal BAB

Usahakan buang air besar pada waktu yang sama setiap hari, terutama setelah sarapan, untuk melatih refleks usus.

Evaluasi Obat yang Dikonsumsi

Jika konstipasi diduga berkaitan dengan obat tertentu, konsultasikan dengan dokter. Jangan menghentikan obat tanpa anjuran tenaga medis.

Gunakan Pencahar Bila Diperlukan

Apabila perubahan gaya hidup belum memberikan hasil, dokter dapat menyarankan penggunaan obat pencahar atau mikroenema sesuai kondisi masing-masing pasien. Penggunaan obat sebaiknya dilakukan sesuai petunjuk tenaga kesehatan dan tidak digunakan secara berlebihan.

Cara Mencegah Konstipasi pada Lansia

Konstipasi lebih mudah dicegah daripada diobati. Beberapa kebiasaan berikut dapat membantu menjaga kesehatan usus:

  • Konsumsi serat sekitar 25–30 gram per hari.
  • Minum air putih 6–8 gelas sehari, kecuali ada pembatasan cairan dari dokter.
  • Perbanyak buah seperti pepaya, pir, apel, dan sayuran hijau.
  • Kurangi makanan rendah serat seperti makanan cepat saji dan daging olahan.
  • Jangan menahan keinginan buang air besar.
  • Tetap aktif bergerak sesuai kemampuan fisik.
  • Lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Konstipasi perlu segera diperiksakan apabila disertai:

  • BAB tidak lancar lebih dari dua minggu.
  • Terdapat darah pada tinja.
  • Nyeri perut hebat.
  • Berat badan turun tanpa sebab yang jelas.
  • Muntah atau perut membesar.
  • Konstipasi muncul secara tiba-tiba tanpa penyebab yang diketahui.

Kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut.

Kesimpulan

Konstipasi pada lansia merupakan gangguan pencernaan yang sering terjadi akibat kombinasi faktor usia, pola makan, kurang aktivitas, dehidrasi, penggunaan obat, maupun penyakit tertentu. Meski umum dijumpai, kondisi ini bukan bagian normal dari proses penuaan.

Dengan menerapkan pola makan tinggi serat, memenuhi kebutuhan cairan, tetap aktif bergerak, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila diperlukan, konstipasi dapat dicegah maupun diatasi sehingga lansia tetap nyaman menjalani aktivitas sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *