Example 728x250
BerandaBerita Haji LansiaKesehatan

Penyakit Pernapasan Masih Jadi Penyebab Utama Jemaah Haji Wafat pada Haji 2026

131
×

Penyakit Pernapasan Masih Jadi Penyebab Utama Jemaah Haji Wafat pada Haji 2026

Sebarkan artikel ini

Golansia.com — Angka kematian jemaah haji asal Jawa Timur selama penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 tercatat menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, penyakit saluran pernapasan masih menjadi penyebab utama wafatnya jemaah, terutama pada kelompok lanjut usia yang rentan mengalami penurunan kondisi kesehatan setelah menjalani rangkaian ibadah haji.

Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya, Rosidi Roslan mengatakan, sebanyak 85 jemaah yang wafat itu telah mengalami penurunan sekitar 20,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 107 jemaah di Jawa Timur.

Rinciannya, 78 jemaah wafat di Arab Saudi, enam jemaah wafat di debarkasi, dan satu jemaah wafat di embarkasi.

“Sakitnya itu didominasi karena penyakit saluran pernapasan dan ada enam orang juga masalah jantung,” kata Rosidi di Asrama Haji Kelas I Surabaya, Rabu (1/7/2026).

Selain jemaah yang meninggal dunia, hingga saat ini masih terdapat sejumlah jemaah yang menjalani perawatan akibat kelelahan setelah pelaksanaan ibadah haji.

“Ada yang masih dirawat di Mekkah, itu ada empat orang dari Kabupaten Lumajang, dua dari Sidoarjo, tiga dari Mojokerto, satu dari Kota Kediri, dan satu dari Jombang. Kita berharap mudah-mudahan cepat sembuh dan kemudian bisa pulang ke Indonesia,” jelasnya.

Rosidi menuturkan, rata-rata jemaah yang wafat berusia di atas 65 tahun dengan penyebab utama penyakit saluran pernapasan. Menurut dia, kelelahan yang dialami selama menjalankan rangkaian ibadah haji juga dapat memperburuk kondisi kesehatan jemaah, terutama yang memiliki penyakit penyerta.

“Kemudian juga masalah kelelahan itu memicu munculnya penyakit yang sebelumnya enggak ada, seperti sakit asma dan biasanya diiringi masalah jantung, apalagi untung orang usia di atas 65 tahun itu rawan,” terangnya.

Karena itu, ia menilai penguatan istitha’ah atau kemampuan kesehatan jemaah sebelum keberangkatan perlu terus ditingkatkan agar risiko sakit maupun kematian selama penyelenggaraan ibadah haji dapat ditekan.

Sementara itu, Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Surabaya, Mohammad As’adul Anam mengatakan, jumlah jemaah asal Jawa Timur yang meninggal pada pelaksanaan haji tahun ini menurun dibandingkan dengan tahun lalu.

“Jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya, dengan jemaah haji meninggal sebanyak 107 jemaah,” katanya.

Penurunan angka kematian tersebut menjadi salah satu indikator membaiknya pelayanan kesehatan haji. Meski demikian, pemerintah tetap mengingatkan pentingnya menjaga kebugaran, mematuhi anjuran petugas kesehatan, serta memastikan kesiapan fisik sebelum menjalankan ibadah haji, terutama bagi jemaah lanjut usia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta.

Sumber: Kompas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *