Golansia.com – Penyesalan menjadi bagian yang hampir tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Mulai dari keputusan soal karier, hubungan asmara, pendidikan, hingga konflik keluarga, banyak orang menyimpan rasa sesal terhadap pilihan yang pernah diambil atau justru kesempatan yang dilewatkan.
Namun menariknya, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa lansia ternyata memiliki lebih sedikit penyesalan dibanding generasi muda. Tidak hanya itu, kelompok usia lanjut juga dinilai lebih mampu mengelola emosi yang muncul akibat rasa sesal tersebut.
Temuan ini berasal dari studi berjudul Adult Age Differences in the Response to and Regulation of Recent Versus Long-Term Regrets yang dipublikasikan dalam jurnal Emotion tahun 2026.
Lansia Lebih Tenang Menghadapi Penyesalan
Penelitian melibatkan 90 partisipan berusia 21 hingga 89 tahun. Para peserta diminta menuliskan lima penyesalan terbaru dan lima penyesalan jangka panjang dalam hidup mereka.
Setelah itu, mereka mengelompokkan penyesalan tersebut ke dalam tiga kategori emosi, yaitu:
- Hot, seperti marah, malu, dan kesal
- Wistful, bernuansa nostalgia dan reflektif
- Despairing, berupa kesedihan mendalam
Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok lansia cenderung memiliki lebih sedikit emosi “panas” dibanding orang muda.
Penulis utama penelitian, Julia Nolte, menjelaskan bahwa lansia umumnya lebih memilih menerima keadaan dibanding terus memikirkan hal-hal yang sudah berlalu.
Anak Muda Lebih Emosional terhadap Penyesalan
Penelitian juga menemukan bahwa generasi muda lebih mudah dihantui rasa kesal, malu, atau marah akibat keputusan yang mereka ambil.
Sebaliknya, kelompok lansia terlihat lebih tenang dan tidak terlalu larut dalam penyesalan jangka panjang maupun penyesalan yang baru terjadi.
Para peneliti menilai hal ini berkaitan dengan kematangan emosional dan pengalaman hidup yang lebih panjang pada kelompok usia lanjut.
Penyesalan Lansia dan Anak Muda Ternyata Berbeda
Studi tersebut juga mengungkap perbedaan jenis penyesalan antara generasi muda dan lansia.
Generasi muda lebih banyak menyesali tindakan yang pernah mereka lakukan, misalnya:
- Salah memilih jurusan kuliah
- Pindah pekerjaan
- Mengakhiri hubungan
- Mengambil keputusan impulsif
Sementara itu, vvvvvv justru lebih sering menyesali kesempatan yang tidak mereka ambil, seperti:
- Tidak melanjutkan pendidikan
- Tidak mencoba peluang usaha
- Tidak mengungkapkan perasaan
- Tidak menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarga
- Lansia Cenderung Lebih Menerima Kenyataan
Dalam menghadapi penyesalan, generasi muda umumnya masih berusaha memperbaiki keadaan atau menyusun rencana baru.
Sedangkan lansia lebih banyak menerima penyesalan sebagai bagian alami dari perjalanan hidup.
Peneliti menyebut, semakin bertambah usia seseorang, biasanya semakin besar pula kemampuan untuk menerima realita hidup apa adanya, dibanding terus mengejar gambaran hidup yang ideal.
Selain itu, faktor budaya dan pengalaman hidup juga diyakini memengaruhi cara seseorang memandang penyesalan.
Penyesalan Bisa Menjadi Proses Pendewasaan
Meski terasa menyakitkan, penyesalan sebenarnya dapat menjadi pelajaran penting dalam hidup.
Baik anak muda maupun lansia sama-sama memiliki pengalaman yang membentuk cara berpikir dan memandang kehidupan. Bedanya, semakin dewasa seseorang, biasanya semakin mampu mengelola emosi dan berdamai dengan masa lalu.

















