Example 728x250
Tips Sehat Manula

Sering Ditinggal Sendiri, Lansia Bisa Merasa Terabaikan

379
×

Sering Ditinggal Sendiri, Lansia Bisa Merasa Terabaikan

Sebarkan artikel ini
Lansia Sering Ditinggal Sendiri
Foto: seorang lansia sedang sendirian di rumahnya

Golansia.com – Proses penuaan membawa berbagai perubahan, baik secara fisik maupun psikologis, pada diri seseorang yang memasuki usia lanjut. Pada masa inilah para lansia membutuhkan dukungan emosional dan kehadiran dari orang-orang terdekat, terutama keluarga.

Sayangnya, dalam kehidupan modern yang serba sibuk, banyak lansia justru sering dibiarkan sendiri di rumah. Kondisi ini, menurut Psikolog Adventia Emilia Krysna Sipi Seda, dapat menimbulkan perasaan kesepian dan membuat mereka merasa tidak diperhatikan oleh keluarganya.

Kurangnya interaksi sosial dan minimnya dukungan emosional dapat memperburuk kondisi psikologis lansia. Mereka mungkin merasa tidak lagi dibutuhkan, kehilangan semangat hidup, bahkan berisiko mengalami gangguan kesehatan mental seperti depresi atau kecemasan.

Banyak lansia yang tinggal bersama anak dan cucunya, namun tetap merasakan kesepian. Bukan karena tidak memiliki keluarga, tetapi karena minimnya interaksi yang hangat di antara mereka.

Psikolog Adventia Emilia Krysna Sipi Seda menjelaskan, kondisi ini sering terjadi ketika anak-anak terlalu sibuk dengan pekerjaan atau urusan rumah tangga. “Misalnya, anak harus bekerja, sementara waktu luangnya dihabiskan untuk mengurus dan mengantar anak-anaknya,” ujarnya.

Ketika akhir pekan tiba, waktu yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk bersama orang tua justru digunakan untuk beristirahat atau melakukan kegiatan pribadi. Akibatnya, tidak banyak waktu yang benar-benar dihabiskan bersama para lansia di rumah.

Menurut Adventia, kurangnya komunikasi juga memperlebar jarak emosional di dalam keluarga. “Anak jarang menggali kabar orang tuanya, atau sekadar berbincang tentang hal ringan seperti berita dan sinetron. Lama-kelamaan, muncul jarak di antara mereka,” jelasnya.

Selain itu, sikap acuh terhadap ucapan orang tua atau pandangan cucu yang menganggap kakek-neneknya tidak nyambung, membuat lansia enggan berinteraksi. Mereka akhirnya memilih menyendiri karena takut dianggap mengganggu.

“Awalnya hanya mencari kenyamanan sendiri, tapi lama-kelamaan menjadi kebiasaan. Pola ini bisa memicu perasaan kesepian dan anggapan bahwa anak-anaknya tidak peduli,” tambah Adventia.

Perasaan terabaikan ini, lanjutnya, dapat berkembang menjadi kesedihan mendalam hingga gangguan kesehatan mental. Padahal, akar masalahnya sering kali berasal dari komunikasi yang tidak sehat di dalam keluarga.

“Karena itu, membangun komunikasi yang terbuka dan hangat dengan lansia menjadi hal yang sangat penting,” tutup Adventia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *