Golansia.com – Salah satu kata yang paling sulit diucapkan oleh banyak orang adalah “cukup”. Merasa cukup dapat menghadirkan ketenangan, sementara nikmat akan terus mengalir ketika kita mampu bersyukur.
Namun, kapan sebenarnya kita bisa mengatakan bahwa kita merasa cukup? Banyak pegawai merasa bahwa gaji mereka belum sebanding dengan kerja keras yang dilakukan. Para pengusaha pun sering merasa bahwa pendapatan perusahaannya masih jauh dari target yang diinginkan. Bahkan, anak-anak terkadang menganggap bahwa perhatian dan kemurahan hati orang tua masih kurang, sehingga mereka merasa belum mendapatkan “cukup”.
Pada akhirnya, rasa cukup bukan hanya tentang jumlah, tetapi tentang bagaimana kita melihat dan mensyukuri apa yang telah dimiliki.
Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa berkata cukup? “Cukup” bukanlah soal berapa jumlahnya.
“Cukup” adalah persoalan kepuasan hati. “Cukup” hanya bisa diucapkan oleh orang yang mampu bersyukur.
Tak perlu takut berkata “cukup”. Mengucapkan kata “cukup” bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya.
“Cukup” jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, atau merasa pesimis, atau kecewa atau mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata “cukup“ membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan.
Jangan sampai sifat rakus dan tamak membuat kita sulit untuk mengatakan “cukup”. Belajarlah untuk menerima dan merasa cukup dengan apa yang kita miliki hari ini dan seterusnya. Dengan begitu, kita akan menjadi pribadi yang pandai bersyukur.
Sering kali, kita lebih banyak mengeluh atas segala ketetapan dan rezeki yang Allah Azza wa Jalla berikan, sementara hanya sedikit dari kita yang benar-benar bersyukur. Mengenai hal ini, Allah Azza wa Jalla berfirman:
ثُمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُّوحِهِۦ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصٰرَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan roh ciptaan-Nya ke dalam tubuhnya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati bagimu, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.” (QS: As-Sajdah: 9)
Begitulah sifat alami manusia—hanya sedikit yang benar-benar bersyukur. Allah Azza wa Jalla mengingatkan kita bahwa kesempurnaan anggota tubuh yang telah Dia ciptakan seharusnya menjadi alasan bagi kita untuk selalu bersyukur.
Menghindari Kufur Nikmat
Nikmat sehat sehingga mampu beribadah dan aktifitas, belum lagi curahan rejeki yang begitu banyak, tapi ternyata memang sedikit sekali yang bersyukur.
Allah Azza wa Jalla yang Maha Rahman, mengulang ulang kalimat mulia ini hampir 31 kali dalam Al-Qur’an Surat Ar Rahman. Tidakkah kita merasa diingatkan dengan itu, artinya dengan segala apapun yang terjadi wajibnya untuk menghindari kufur nikmat?
