BerandaKesehatanLiver

Hati Bisa Rusak Diam-Diam hingga Jadi Kanker, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini

508

Golansia.com — Banyak orang baru menyadari adanya gangguan pada organ hati ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut. Padahal, kerusakan hati dapat berlangsung secara perlahan selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan gejala yang jelas, sehingga kerap luput dari perhatian.

Kondisi ini menjadi perhatian para ahli kesehatan mengingat penyakit hati masih menjadi salah satu penyebab kematian yang signifikan di dunia. Berbagai faktor, mulai dari hepatitis virus, perlemakan hati, konsumsi alkohol berlebihan, hingga gangguan metabolik dapat memicu kerusakan hati yang berkembang secara senyap.

Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam Prof David Handojo Muljono, hati merupakan salah satu organ paling vital dalam tubuh manusia karena menjalankan berbagai fungsi penting tanpa henti sepanjang waktu.

“Hati adalah pabrik kimia terbesar dalam tubuh manusia yang bekerja 24 jam tanpa henti,” ujar Prof David dalam talkshow Hari Kesehatan Hati Sedunia 2026 di Kementerian Kesehatan, Selasa (2/6/2026).

Prof David menjelaskan, hati berperan dalam menetralisir berbagai racun yang masuk ke dalam tubuh, mengatur metabolisme, memproduksi protein penting seperti albumin, membantu proses pembekuan darah, hingga menjaga sistem kekebalan tubuh.

Karena memiliki fungsi yang sangat luas, gangguan pada organ hati dapat menimbulkan dampak di berbagai bagian tubuh. Salah satunya adalah pembengkakan pada kaki atau penumpukan cairan di rongga perut akibat menurunnya produksi albumin.

Lebih lanjut, Prof David menjelaskan bahwa sebagian besar penyakit hati bermula dari proses peradangan atau inflamasi yang berlangsung dalam jangka panjang. Peradangan tersebut dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti infeksi hepatitis, konsumsi alkohol berlebihan, perlemakan hati, penyakit autoimun, maupun gangguan metabolik.

Pada tahap awal, peradangan yang terus terjadi akan memicu terbentuknya jaringan parut atau fibrosis pada hati. Pada fase ini, kerusakan masih memiliki peluang untuk diperbaiki apabila penyebabnya segera ditangani.

Namun, apabila fibrosis terus berkembang, kondisi tersebut dapat berlanjut menjadi sirosis, yakni kerusakan kronis yang menyebabkan fungsi hati semakin menurun.

“Sirosis ini adalah stadium lanjut di mana komplikasi sudah mulai terjadi,” kata Prof David.

Yang perlu diwaspadai, sirosis bukanlah akhir dari perjalanan penyakit hati. Dalam banyak kasus, kondisi ini dapat berkembang menjadi kanker hati atau hepatocellular carcinoma yang jauh lebih sulit ditangani.

“Kalau sudah sirosis berat sampai kanker hati, umumnya tidak bisa menjadi normal,” tegasnya.

Karena itu, Prof David mengingatkan masyarakat untuk mulai menjaga kesehatan hati sejak dini. Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui penerapan pola makan sehat, membatasi konsumsi makanan berlemak, menghindari alkohol, serta melengkapi vaksinasi, terutama Hepatitis B.

Selain menjalankan pola hidup sehat, pemeriksaan kesehatan secara berkala juga penting dilakukan. Deteksi dini memungkinkan gangguan hati ditemukan sebelum berkembang menjadi kerusakan permanen yang sulit diobati.

“Semakin dini kelainan ditemukan, semakin besar peluang kesembuhannya,” pungkas Prof David.

Kesadaran untuk menjaga kesehatan hati menjadi semakin penting karena penyakit ini sering kali berkembang tanpa tanda-tanda yang mudah dikenali. Ketika gejala mulai muncul, tidak jarang kerusakan yang terjadi sudah memasuki tahap lanjut sehingga pilihan pengobatan menjadi lebih terbatas.

Karena itu, para ahli menekankan bahwa menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, mengendalikan diabetes dan kolesterol, serta melakukan pemeriksaan kesehatan berkala merupakan langkah penting untuk melindungi organ yang bekerja tanpa henti tersebut.(DBS)

Exit mobile version