Kesehatan

Lutut Ganggu Aktivitas Lansia, Kapan Perlu Diperiksakan?

86
Lansia mengalami nyeri lutut dan berkonsultasi dengan dokter ortopedi
Nyeri lutut yang menetap, bengkak, sulit digerakkan, atau mulai mengganggu aktivitas lansia sebaiknya tidak dianggap semata-mata sebagai proses penuaan.

Golansia.com – Rasa berat saat bangun dari kursi, harus berpegangan saat menuruni tangga, hingga berkurangnya jarak tempuh berjalan kerap dianggap sebagai bagian dari proses penuaan oleh kelompok lanjut usia (lansia).

Anggapan tersebut membuat sebagian keluarga baru membawa orang tua mencari pertolongan medis ketika nyeri sudah mengganggu tidur atau membuat pasien takut berjalan sendiri.

Dokter Spesialis Ortopedi Klinik Patella, dr Windi Martika SpOT, menepis anggapan bahwa nyeri sendi pada lansia harus dimaklumi.

Menurutnya, penanganan medis tidak boleh ditunda jika nyeri berlangsung terus-menerus, semakin berat, mengganggu tidur, atau membuat pasien sulit berjalan.

“Konsultasi akan sangat dianjurkan jika lutut sering bengkak, terasa tidak stabil, sulit ditekuk atau diluruskan, atau keluhan muncul setelah cedera,” ujar Dokter Windi Martika dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa (22/9/2026).

Semakin cepat penyebab nyeri diketahui, semakin banyak pilihan penanganan yang tersedia. Nyeri lutut pada lansia dapat berkaitan dengan osteoarthritis, cedera lutut, rheumatoid arthritis, kelemahan otot, hingga peradangan sendi. Setiap kondisi membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Penyebab nyeri lutut pada lansia

Lutut merupakan salah satu sendi terbesar dan paling banyak digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Setiap langkah memberikan beban pada lutut, yang dapat meningkat ketika seseorang berdiri dari posisi jongkok atau menuruni tangga.

Seiring bertambahnya usia, struktur penyusun lutut mengalami perubahan. Tulang rawan yang dapat menipis, sementara kekuatan otot di sekitar lutut juga dapat berkurang.

Salah satu kondisi yang dapat muncul adalah osteoarthritis, yakni penyakit sendi yang melibatkan kerusakan berbagai jaringan penyusun sendi dan dapat menyebabkan nyeri, kekakuan, serta keterbatasan gerak. Lutut termasuk sendi yang paling sering terdampak.

Selain faktor usia, nyeri lutut juga dapat dipengaruhi riwayat cedera, seperti robekan meniskus atau ligamen, berat badan berlebih, aktivitas dengan tekanan berulang pada lutut, kelemahan otot paha dan tungkai, rheumatoid arthritis atau penyakit autoimun lain, serta gangguan struktur sendi.

Gejala yang perlu diperhatikan, antara lain nyeri saat berjalan atau berdiri, lutut kaku setelah duduk lama, pembengkakan, bunyi saat sendi digerakkan, serta keterbatasan gerak.

Apabila lutut terasa panas, kemerahan, membengkak secara mendadak, atau disertai demam, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan untuk mengetahui penyebabnya.

Memilih fasilitas kesehatan untuk lansia

Penanganan masalah lutut pada lansia tidak hanya berfokus pada sumber nyeri. Kondisi kesehatan secara keseluruhan juga perlu diperhatikan, terutama karena sebagian lansia memiliki penyakit penyerta, seperti hipertensi, diabetes, atau gangguan ginjal.

Oleh karena itu, fasilitas kesehatan yang menangani masalah lutut pada lansia perlu mengutamakan pemeriksaan yang menyeluruh, diagnosis yang tepat, keamanan tindakan, serta rencana perawatan yang disesuaikan dengan kondisi pasien.

Beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan, antara lain pemeriksaan secara menyeluruh, pemeriksaan penunjang sesuai kebutuhan, terapi yang disesuaikan dengan kondisi pasien, serta tersedianya pilihan penanganan nonoperatif.

Pasien dan keluarga juga perlu mendapatkan penjelasan mengenai manfaat, risiko, alternatif, serta tujuan dari setiap tindakan yang dipertimbangkan.

Program fisioterapi dan rehabilitasi serta pemantauan kondisi secara berkala juga dapat menjadi bagian dari proses pemulihan.

Pendekatan tersebut bertujuan membantu pasien mempertahankan kemampuan bergerak dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Pilihan penanganan nyeri lutut

Pada sejumlah kasus, penanganan dapat diawali dengan metode konservatif, seperti pengelolaan berat badan, aktivitas fisik berdampak rendah, fisioterapi, serta pemberian obat sesuai indikasi.

Aktivitas seperti berjalan santai, bersepeda statis, atau latihan di dalam air dapat membantu mempertahankan kekuatan otot tanpa memberikan tekanan berlebihan pada sendi.

Namun, jenis dan intensitas latihan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing, terutama bagi lansia dengan nyeri cukup berat atau penyakit penyerta.

World Health Organization (WHO) juga menekankan pentingnya aktivitas fisik dan pola makan sehat untuk membantu meredakan gejala serta menjaga berat badan ideal.

Meski demikian, latihan sebaiknya dilakukan atas arahan tenaga kesehatan, khususnya jika nyeri cukup berat atau pasien memiliki penyakit penyerta.

Jika keluhan tidak membaik, dokter dapat mempertimbangkan penanganan lanjutan berdasarkan hasil pemeriksaan, antara lain Artroskopi Richard Wolf, fisioterapi, injeksi viskosuplemen, radiofrekuensi ablasi, Platelet Rich Plasma (PRP), hingga tindakan operasi pada kondisi tertentu.

  • Artroskopi Richard Wolf, yaitu tindakan pembedahan minimal invasif yang dapat digunakan pada kondisi lutut tertentu, seperti cedera meniskus, kerusakan ligamen berat, atau kondisi tempurung lutut yang berulang kali bergeser.
  • *Terapi stem cell dan terapi secretome*, yang memerlukan penjelasan menyeluruh indikasi, manfaat yang diharapkan, keterbatasan bukti ilmiah, serta risiko sebelum dipertimbangkan.
  • Radiofrekuensi ablasi, yaitu tindakan yang bertujuan memodulasi sinyal nyeri dari saraf tertentu pada pasien yang memenuhi kriteria.
  • Platelet Rich Plasma (PRP), yang memanfaatkan komponen darah pasien sendiri dan diberikan berdasarkan indikasi medis.
  • Injeksi viskosuplemen, yang pada kondisi tertentu dapat dipertimbangkan berdasarkan hasil evaluasi dokter.
  • Tindakan operasi, yang dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu, termasuk ketika kerusakan sendi sudah berat atau penanganan lain tidak memberikan hasil yang memadai.

Pilihan terapi tidak dapat disamaratakan untuk setiap pasien. Dokter perlu mempertimbangkan penyebab nyeri, tingkat kerusakan sendi, kondisi kesehatan, serta target aktivitas pasien.

Layanan penanganan kutut di Klinik Patella

Salah satu fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan untuk masalah nyeri dan cedera lutut adalah Klinik Patella. Klinik ini menangani berbagai keluhan lutut, mulai dari evaluasi kondisi, terapi nonoperatif, tindakan tertentu, hingga pemulihan fungsi melalui fisioterapi.

Sejumlah layanan yang tersedia, antara lain artroskopi Richard Wolf, radiofrekuensi ablasi, PRP, terapi stem cell, terapi secretome, dan injeksi viskosuplemen.

Layanan tersebut ditujukan untuk membantu menangani berbagai kondisi, termasuk nyeri lutut, cedera lutut, osteoarthritis, dan rheumatoid arthritis. Namun, jenis tindakan yang diberikan tetap bergantung pada hasil pemeriksaan dan kondisi masing-masing pasien.

Bagi pasien lansia, konsultasi menjadi bagian penting dalam menentukan penanganan. Pasien atau keluarga dapat menyampaikan durasi keluhan, aktivitas yang sulit dilakukan, obat yang sedang dikonsumsi, riwayat jatuh, serta penyakit penyerta kepada dokter.

Informasi tersebut dapat membantu dokter memahami kondisi pasien secara lebih menyeluruh dan menentukan rekomendasi yang sesuai.

Windi menyarankan pasien untuk menyiapkan daftar obat, hasil pemeriksaan sebelumnya, dan catatan mengenai kapan nyeri muncul. Keluarga juga dapat membantu mencatat aktivitas yang memicu keluhan serta perubahan kemampuan berjalan pasien.

Exit mobile version