Daftar Penyakit

Sering Dikira Demensia, Kenali 3 Gejala Hidrosefalus Tekanan Normal pada Lansia

222
Lansia mengalami gangguan berjalan yang dapat menjadi gejala hidrosefalus tekanan normal
Gangguan berjalan, gangguan kontrol urine, dan perubahan fungsi kognitif dapat menjadi gejala hidrosefalus tekanan normal atau NPH pada lansia.

Golansia.com – Perubahan kemampuan berjalan, sering buang air kecil tanpa disadari, hingga penurunan daya ingat pada lansia kerap dianggap sebagai bagian dari proses penuaan. Padahal, kombinasi gejala tersebut juga dapat menjadi tanda normal pressure hydrocephalus (NPH) atau hidrosefalus tekanan normal.

NPH merupakan kondisi ketika cairan serebrospinal (CSF) menumpuk di ruang otak sehingga menyebabkan pelebaran ventrikel. Meski disebut “tekanan normal”, kondisi ini tetap dapat mengganggu fungsi otak dan sistem saraf.

Masalahnya, gejala NPH berkembang secara perlahan dan memiliki kemiripan dengan sejumlah penyakit yang lebih sering ditemukan pada lansia, termasuk demensia dan gangguan gerak.

Padahal, NPH termasuk kondisi yang penting dikenali karena pada pasien tertentu, gejalanya dapat membaik setelah mendapatkan penanganan yang tepat.

Tiga Gejala Utama NPH pada Lansia

NPH umumnya dikenal melalui tiga kelompok gejala utama yang melibatkan kemampuan berjalan, fungsi kandung kemih, dan fungsi kognitif.

1. Gangguan Berjalan

Perubahan cara berjalan sering menjadi salah satu tanda awal NPH.

Lansia dapat terlihat berjalan lebih lambat, langkahnya menjadi pendek, sulit mengangkat kaki, atau merasa seolah-olah telapak kaki menempel di lantai.

Gangguan tersebut terkadang digambarkan sebagai magnetic gait, yaitu kondisi ketika kaki seperti sulit diangkat dari lantai.

Risiko jatuh juga dapat meningkat karena keseimbangan dan koordinasi tubuh mengalami gangguan.

2. Gangguan Kontrol Buang Air Kecil

Gejala berikutnya berkaitan dengan fungsi kandung kemih.

Penderita dapat menjadi lebih sering ingin buang air kecil, sulit menahan keinginan tersebut, hingga mengalami inkontinensia urine.

Pada lansia, keluhan semacam ini mudah dianggap sebagai masalah urologis biasa. Namun, jika muncul bersamaan dengan gangguan berjalan dan perubahan fungsi kognitif, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian lebih serius.

3. Perubahan Daya Ingat dan Fungsi Kognitif

NPH juga dapat memengaruhi kemampuan berpikir.

Seseorang mungkin menjadi lebih lambat dalam memproses informasi, sulit berkonsentrasi, mudah bingung, mengalami penurunan daya ingat, atau menunjukkan perubahan perilaku.

Karena gejalanya menyerupai demensia, NPH terkadang sulit dikenali tanpa pemeriksaan medis yang tepat.

Mengapa NPH Sering Terlambat Dikenali?

Salah satu tantangan dalam mengenali NPH adalah gejalanya tidak selalu muncul secara bersamaan.

Pada sebagian lansia, perubahan pola berjalan dapat terlihat lebih dahulu. Setelah itu, gangguan kandung kemih atau fungsi kognitif dapat berkembang secara bertahap.

Selain itu, gejala NPH memiliki kemiripan dengan berbagai kondisi neurologis lain. Karena itu, seseorang tidak dapat memastikan dirinya mengalami NPH hanya berdasarkan tiga gejala tersebut.

Dokter biasanya memerlukan pemeriksaan menyeluruh, termasuk evaluasi neurologis dan pemeriksaan pencitraan otak. Dalam situasi tertentu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan tambahan untuk menilai kemungkinan respons terhadap terapi.

Bagaimana NPH Ditangani?

Penanganan NPH tidak cukup hanya dengan mengonsumsi obat untuk mengurangi gejala.

Pada pasien yang memenuhi kriteria, salah satu terapi utama adalah pemasangan shunt, yaitu alat yang membantu mengalirkan kelebihan cairan serebrospinal dari otak ke bagian tubuh lain agar dapat diserap.

Jenis dan pilihan terapi ditentukan berdasarkan kondisi pasien, hasil pemeriksaan, tingkat keparahan gejala, serta pertimbangan dokter.

Karena NPH dapat menyerupai penyakit neurologis lain, diagnosis harus dilakukan secara hati-hati sebelum tindakan ditentukan.

Apakah Obat Bisa Mengatasi NPH?

Exit mobile version