Golansia.com — Presenter Donny memastikan penanganan Bencana Alam Banjir Bandang Sumatera (Aceh, Sumut dan Sumbar) dengan meminta informasi dari Walikota Sibolga Ahmad Syukri Pinarik dan pakar Kesehatan Masyarakat Dr. Abidinsyah Siregar pada sesi ntv-Prime, jumat 19 Desember 2025, yang dipancarluaskan lewan nusantara-tv dan YouTube.
Kota Sibolga, kota kecil berpenduduk padat, wilayahnya sisi timur perbukitan tinggi dan terjal, sedangkan sisi selatannya pantai dan pelabuhan Samudera Hindia.
Walikota Sibolga melaporkan upaya penanganan bencana yang sudah relatif terkendali, namun diakui masih terkendala kemampuan tehnis menjangkau perbukitan yang rusak parah, apalagi kendala cuaca yang sering hujan. Termasuk kekurangan alat berat.
Walikota Sibolga mengaku sangat terbantu masuknya dukungan Pemerintah Pusat melalui Kementerian/Lembaga terkait. Utamanya Kemenkes, Kement.PUPR, berbagai Universitas di Medan, Organisasi Profesi Dokter, dan banyak lagi termasuk masyarakat.
Bung Donny meminta pendapat narasumber Dr. Abidin, Ketua Umum Observer Kesehatan yang berhimpun dalam perkumpulan OBKESINDO, purnabakti Kemenkes/ BKKBN, yang pernah mengikuti Workshop Public Health Management Disaster yang diselenggarakan WHO-SEARO di Bangkok, Thailand tahun 2001 saat menjabat Kabid Pelayanan Kesehatan Kanwil Depkes Prov Sumatera Utara di Medan, mengingatkan Kriteria WHO dalam penanganan Bencana, apalagi bencana yang berdampak luas kerusakan tata kehidupan manusia.
Berdasarkan informasi Walikota Sibolga, Dr.Abidin mengingatkan Kepala Daerah khususnya Pengampu Kebencanaan untuk memperhatikan Kriteria WHO tersebut.
Namun karena peristiwa Banjir Bandang sudah berlangsung lebih 3 minggu, Kriteria WHO bisa dimulai dari akhir yaitu Evaluasi untuk melihat Kebutuhan Masyarakat dan Intervensi apalagi yang perlu disegerakan.
Kriteria WHO itu sendiri jika digunakan sejak dini, diawali Kesiapsiagaan (Preparedness) yang sejatinya setiap Daerah memilikinya, apalagi buat wilayah rentan bencana karena masuk dalam peta “ring of fire”, selain kerentanan karena adanya Kebakaran Hutan yang luas, Hujan dengan volume tinggi yang bisa diikuti Banjir dan Longsor, apalagi seperti kota Sibolga yang dikelilingi Pegunungan Hutan terjal disatu sisi dan dataran bertepi lautan disisi lainnya.
Dr. Abidin dengan pengalaman menangani Banjir Bandang dengan bawaan kayu besar dari lereng gunung di Rantau Prapat Maret 1995, saat menjadi Kepala Dinas Kesehatan Kab Labuhan Batu, melihat kerusakan parah sampai kepuncak bukit dan korban yang banyak. Langkah pertama membuka Posko Kesehatan dan Pemetaan masalah.
Semua ditempuh dengan berjalan kaki karena jalur normal dan jembatan sudah terseret banjir.
Pengalaman lain saat menjadi Kordinator Penanggulangan Bencana Alam Bidang Kesehatan Prov Sumatera Utara mendukung penanganan dampak Tsunami Aceh akhir Desember 2004 dan Bencana Alam Nias maret 2005, secara ketat mengkordinir penerapan pendekatan Kriteria WHO.
Protokol penanganan kesehatan akibat bencana melalui Kriteria yang dibuat Organisasi Kesehatan Dunia, World Health Organization (WHO) mulai dari : Rapid Response (Respon Cepat), kecepatan sangat penting mengurangi dampak kesehatan. Kemudian melakukan Assessment atau penilaian untuk mengidentifikasi masalah termasuk kebutuhan sekaligus menyusun prioritas intervensi.
Berikutnya Kordinasi Lintas Sektor yang meliputi potensi Pemerintah dan masyarakat termasuk dukungan internasional.
Dr. Abidin menjawab pertanyaan presenter Donny, tentang apa yang perlu dilakukan para Kepala Daerah di daerah bencana, menekan kembali perlunya penguatan Evaluasi yang cermat, mengingat luasnya wilayah terdampak bencana, masih banyaknya korban hilang belum diketahui kondisinya dan peristiwa yang sudah berlangsung 3 minggu, bisa semakin memperburuk kualitas kesehatan.
Koreksi data penduduk berdasar tempat, yang dimiliki BPS, Kemendagri, Kemendukbangga, Kemenkes dll perlu di singkronisasi sangat membantu memastikan siapa dimana (semua kelompok usia) dan kondisinya.
Dan kini di era Internet of things dan IT, kita bisa memanfaatkan tehnologi Drone untuk “melihat” detil wilayah berdasar data penduduk dan wilayah. Termasuk menemukan korban hilang dan yang belum terlayani.
Kecepatan penemuan korban dan kerusakan fasilitas umum akan sangat membantu meminimalkan memburuknya kualitas kesehatan bagi korban luka, patah tulang dan cedera lainnya.
Juga melakukan penemuan kasus dan wilayah dengan penyakit menular seperti diare, malaria dan demam berdarah.
Tak kalah penting penemuan korban dengan gangguan traumatis akibat stres, depresi, dan maupun gangguan kejiwaan paska bencana yang sebahagian malah memperburuk kondisi.
Kondisi lainnya adalah kekurangan gizi yang luas karena tidak dapat akses makan minum yang cukup, yang dalam tempo cepat berakibat malnutrisi.
Perhatian khusus kepada kelompok rentan, yaitu ibu hamil, anak risiko Stunting, orang dengan komorbid risiko tinggi. Juga kelompok lanjut usia.
Hal lain tentu pertambahan korban dan kematian.
Diakhir sesi NTV-Prime, Dr. Abidin kembali mengingatkan pentingnya Respons Cepat setiap hari dengan melakukan updating masalah melalui Evaluasi yang konsisten dan terukur berbasis data dan memanfaatkan Tehnologi Informatika juga Pengindraan jarak jauh (Drone).
Dan terakhir pastikan semua korban dan terdampak korban serta kelompok risiko mendapatkan semua pelayanan kesehatan, karena aspek ini sangat menentukan keberhasilan penanganan bencana.
