Golansia.com | Kisah seorang pria lanjut usia di China menjadi perhatian setelah ia mengetahui bahwa dirinya memiliki dana pensiun yang belum pernah dicairkan selama bertahun-tahun. Pria berusia 71 tahun bermarga Ru itu diketahui telah menghabiskan sekitar 21 tahun hidup dengan memulung barang bekas demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ru akhirnya menerima kartu jaminan sosial dengan saldo dana pensiun sebesar 424.204 yuan pada 24 September 2026. Jumlah tersebut dilaporkan setara dengan sekitar Rp1,1 miliar.
Kabar itu menjadi kejutan besar bagi Ru. Selama bertahun-tahun, ia menjalani kehidupan dalam keterbatasan tanpa menyadari bahwa dirinya memiliki hak atas dana pensiun dari pekerjaan yang pernah dijalaninya.
“Saya bahkan tidak pernah berani membayangkannya,” ujar Ru dengan emosional ketika menyampaikan terima kasih kepada petugas yang membantunya mengurus pencairan dana tersebut.
Kisah ini diberitakan oleh media Vietnam, VnExpress, sebagaimana disebutkan dalam naskah sumber.
Perjalanan Hidup Ru Berubah Setelah Kehilangan Pekerjaan
Kehidupan Ru mulai mengalami perubahan pada awal 2000-an. Sebelumnya, ia menempuh pendidikan di sekolah teknik perdagangan di Zhuzhou, Provinsi Hunan, China. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia bekerja selama kurang lebih 30 tahun di sebuah toko milik negara.
Namun, tempatnya bekerja kemudian mengalami kebangkrutan. Ru menerima pesangon atas masa kerjanya, tetapi uang tersebut tidak bertahan lama.
Ia kemudian terlilit utang dan mengalami perselisihan dengan kerabatnya. Dalam keadaan sulit, Ru akhirnya meninggalkan kehidupan lamanya dan memilih memulung barang bekas untuk bertahan hidup.
Ia pindah ke Changde dan menjalani kehidupan sederhana di kota tersebut selama bertahun-tahun.
Perubahan mulai terjadi ketika seorang pekerja bantuan sosial bernama Wu Jinhui bersama rekan-rekannya menemukan Ru tinggal di sebuah bangunan terbengkalai pada musim dingin 2024.
Pada awalnya, Ru menolak bantuan yang ditawarkan. Namun, petugas terus mendatanginya selama beberapa bulan dan memberikan kebutuhan sehari-hari. Pendekatan yang berkelanjutan itu akhirnya membuat Ru bersedia menyampaikan informasi pribadi yang diperlukan untuk penelusuran lebih lanjut.
Dokumen Lama Mengungkap Hak Pensiun yang Belum Diklaim
Setelah memperoleh informasi dari Ru, petugas mulai menelusuri dokumen dan catatan resmi terkait riwayat pekerjaannya.
Dari proses tersebut, diketahui bahwa Ru telah mencapai usia pensiun 60 tahun pada 2015. Ia juga memiliki riwayat pembayaran iuran pensiun selama puluhan tahun ketika masih bekerja di toko milik negara.
Berdasarkan penelusuran tersebut, Ru ternyata memenuhi persyaratan untuk menerima manfaat pensiun bulanan. Dana yang belum pernah diklaim kemudian terakumulasi hingga mencapai 424.204 yuan.
Selama ini, Ru mengira bahwa setelah kehilangan pekerjaan, ia harus membayar sendiri seluruh iuran pensiun hingga mencapai usia pensiun. Karena tidak memiliki cukup uang, ia memilih tidak mengurusnya.
Kesalahpahaman tersebut membuatnya tidak mengetahui hak yang sebenarnya dapat ia peroleh dari kontribusi selama masa kerja.
Kasus ini memperlihatkan pentingnya memahami hak ketenagakerjaan dan menyimpan dokumen terkait pekerjaan serta jaminan sosial. Ketika menghadapi kesulitan, mencari informasi melalui lembaga resmi dapat membantu seseorang mengetahui hak yang mungkin belum terpenuhi.
Proses Pengurusan Dana Berlangsung Lebih dari Setahun
Menurut informasi dalam laporan tersebut, pihak berwenang sebenarnya telah mengetahui sejak 2015 bahwa Ru berpotensi berhak menerima dana pensiun. Namun, upaya menemukan keberadaannya mengalami kendala.
Ru tercatat dalam registrasi rumah tangga kolektif dan tidak memiliki telepon seluler, sehingga petugas kesulitan menghubunginya.
Pengurusan pencairan akhirnya membutuhkan waktu lebih dari satu tahun dengan melibatkan berbagai departemen di Changde dan Zhuzhou. Proses tersebut dilakukan untuk memeriksa dokumen, memastikan riwayat pekerjaan, dan menyelesaikan administrasi yang diperlukan.
Dana pensiun yang diterimanya kemudian membuka peluang bagi Ru untuk memperbaiki kondisi hidup setelah bertahun-tahun bertahan dalam keterbatasan.
China sendiri mulai menerapkan kenaikan usia pensiun secara bertahap sejak 1 Januari 2025. Untuk pria, usia pensiun yang sebelumnya 60 tahun direncanakan meningkat menjadi 63 tahun dalam periode 15 tahun. Namun, aturan baru tersebut perlu dibedakan dari ketentuan yang berlaku ketika Ru mencapai usia pensiun pada 2015.
Ru Ingin Membalas Kebaikan Keluarga dan Menata Hidup
Setelah menerima dana pensiun tersebut, Ru mulai menyusun rencana untuk menggunakan uangnya secara hati-hati.
Dalam laporan yang dikutip naskah sumber, ia menyampaikan keinginan untuk membalas kebaikan saudara perempuan dan sepupunya yang telah mendukungnya selama bertahun-tahun. Ia juga berencana melunasi utang, menyimpan sebagian uang untuk kebutuhan hari tua, menyewa apartemen, dan membeli ponsel pintar.
Bagi Ru, dana tersebut bukan sekadar uang dalam jumlah besar. Pencairannya memberikan kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih layak setelah bertahun-tahun menghadapi kesulitan ekonomi.
Kisah Ru juga memperlihatkan sisi lain kehidupan lansia yang hidup dalam keterbatasan. Tidak semua orang yang membutuhkan bantuan dapat langsung menerima atau mempercayai uluran tangan. Dalam kasus Ru, pendekatan yang sabar dan pendampingan secara berkelanjutan membantu membuka jalan menuju penyelesaian masalahnya.
Tetap Menjaga Kebersihan Meski Hidup dalam Keterbatasan
Ada hal lain yang menarik dari kehidupan Ru. Sebelum meninggalkan tempat tinggal lamanya, ia diketahui tetap menjaga kebersihan area tempat ia tinggal selama sekitar enam bulan.
Pengelola properti menyebut Ru sebagai penghuni yang menjaga kebersihan lingkungannya. Karena tidak tersedia aliran listrik, ia menggunakan lilin sebagai penerangan.
Sebelum pergi, Ru bahkan memberikan sebotol minyak goreng sebagai ungkapan terima kasih.
Sikap sederhana tersebut menjadi bagian yang menyentuh dari kisahnya. Di tengah keterbatasan yang dialami, ia tetap berusaha menunjukkan penghargaan kepada orang-orang yang telah memberinya tempat tinggal.
Kisah Ru sekaligus menjadi pengingat bahwa persoalan lansia tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan finansial. Akses terhadap informasi, pendampingan sosial, tempat tinggal yang layak, dan hubungan antarmanusia juga berperan penting dalam membantu mereka menjalani kehidupan.
Pelajaran dari Kisah Lansia di China
Pengalaman Ru memberikan sejumlah pelajaran bagi masyarakat, khususnya mengenai persiapan hari tua.
Pertama, penting untuk memahami hak atas jaminan sosial dan dana pensiun selama masa kerja. Dokumen kepegawaian, catatan iuran, serta informasi dari lembaga resmi dapat membantu memastikan hak tersebut tidak terabaikan.
Kedua, keluarga dan lingkungan perlu memberikan perhatian kepada lansia yang hidup sendiri atau mengalami kesulitan ekonomi. Pendampingan yang sabar dapat membantu mereka mengakses layanan yang dibutuhkan.
Ketiga, lembaga sosial dan pemerintah memiliki peran penting dalam menjangkau warga rentan, terutama mereka yang tidak memiliki akses komunikasi atau kesulitan mengurus administrasi.
Kisah Ru juga mengingatkan bahwa kondisi seseorang pada hari ini tidak selalu mencerminkan seluruh perjalanan hidupnya. Di balik kehidupan yang sulit, mungkin terdapat hak, pengalaman, dan persoalan yang belum terungkap.
Penutup
Setelah bertahun-tahun memulung untuk bertahan hidup, Ru akhirnya mengetahui bahwa ia memiliki dana pensiun yang belum pernah diklaim. Penemuan tersebut memberinya kesempatan untuk melunasi utang, membalas kebaikan keluarga, dan mempersiapkan masa tua dengan lebih baik.
Pengalaman ini menjadi pengingat tentang pentingnya perlindungan sosial bagi lansia, pemahaman atas hak pensiun, serta kepedulian terhadap orang-orang yang hidup dalam keterbatasan.

















